alexametrics
22.4 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Ribuan Warga Malang Pasang Ring Jantung dalam Setahun

MALANG – Pada peringatan hari jantung sedunia hari ini (29/9), ada satu fakta yang perlu diketahui, bahwa banyak warga Malang raya divonis menderita penyakit jantung, dan jumlahnya mencapai belasan ribu tiap tahunnya. Diperkirakan, terdapat ribuan warga yang meninggal karena terlambat atau tidak melakukan deteksi dini.

Dari penjabaran Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu (IPJT) RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Budi Satriyo SpJP(K), bisa dilihat seberapa tingginya kasus penyakit jantung di Malang raya. Dilansir dari Jawa Pos Radar Malang, dia menyebut bila per bulan di tempatnya bisa melayani 100 warga yang hendak melakukan pemasangan ring jantung. ”Setiap tahunnya di Malang Raya ada 3.000-an orang yang melakukan pemasangan ring jantung,” kata dia.

Ring jantung adalah alat berbentuk tabung kecil, yang biasanya terbuat dari logam. Alat tersebut berfungsi untuk membuka arteri yang tersumbat. Penyumbatan arteri itu terjadi akibat penumpukan plak di dalam pembuluh darah. Dengan memasang ring jantung, aliran darah yang sebelumnya tersumbat bisa kembali lancar. Prosedur ini kerap diambil oleh para pasien jantung koroner.


Ditambahkan dr Budi, dari data World Health Organization (WHO) menunjukkan ada 17 juta orang di dunia yang meninggal akibat penyakit jantung. Lalu untuk persentase kasusnya yang ada di Indonesia sebanyak 1,5 persen dari total populasi penduduk. Dari estimasi itu, dari total penduduk di Malang raya sekitar 3,7 juta orang, dia memperkirakan ada 55 ribu jiwa yang saat ini menderita sakit jantung.

Dia juga menjabarkan dua faktor umum seseorang bisa terkena penyakit jantung. Yang pertama bisa karena keturunan genetik dan usia yang semakin bertambah. Untuk penderita penyakit jantung dengan faktor tersebut, dia menyarankan agar rutin melakukan check-up. ”Kalau yang tanpa keluhan bisa satu kali dalam setahun. Kemudian kalau yang ada keluhan ya rutin (check-up) sesuai kebutuhan dan anjuran dokter,” kata dia.

Untuk penyebab kedua yakni gaya hidup yang kurang sehat. Seperti kebiasaan merokok, terjadinya obesitas, kurang aktivitas, darah tinggi, kencing manis, kolesterol tinggi dan lainnya. ”Kualitas hidup yang buruk memang berpengaruh, sehingga semakin banyak risiko,” terang dr Budi. Saat ini, dikatakan dia, penderita jantung dapat melakukan pengobatan dengan layanan BPJS Kesehatan.

Baca Juga :  UMM Gandeng Moodco Buka Kelas Profesional Kakao dan Cokelat

Sehingga biayanya jauh lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan ongkos mandiri dalam melakukan operasi jantung, yang bisa mencapai sekitar Rp 300 juta setiap orang. Namun dr Budi berharap dengan adanya fasilitas tersebut masyarakat tidak menganggapnya sepele.
”Jujur saja jumlah dokter jantung di Indonesia itu hanya 1.500 dokter, dan jumlah itu sangat kurang. Kami berharap masyarakat melakukan pencegahan lebih dini, daripada mengobati dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan jantung,” harap dia.

Di tempat lain, Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang Raya Dewanti Rumpoko memastikan bila pihaknya terus menggaungkan akronim SEHAT. Penjabarannya yakni seimbang gizi, enyahkan rokok, hadapi dan hindari stres, awasi tekanan darah dan teratur dalam berolahraga. ”Kalau semua dilaksanakan dengan benar, insya Allah jantungnya sehat,” kata Dewanti.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Wali Kota Batu itu menyebut bila penderita penyakit jantung dapat mengajukan kebutuhan operasi dari yayasannya. Namun harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. ”Untuk saat ini saja ada lebih dari 10 orang yang mengantre, ini penting karena perlu dibantu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sekretaris YJI Cabang Malang Raya Mudjiono Adi SH turut menjabarkan beberapa persyaratannya. Seperti membuat surat permohonan dari penderita. Kemudian surat rekomendasi dari dokter spesialis jantung, yang menyatakan bahwa penderita benar-benar sakit jantung, bukti hasil ekokardiografi. Lalu fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga, fotokopi kartu peserta BPJS Kesehatan, dan surat keterangan tidak mampu dari kepala desa yang diketahui Camat.

”Kemudian yang terakhir alamat rumah domisili saat ini, karena kami harus survei, kalau layak dan perlu dibantu maka bisa (dapat bantuan),” kata dia. Ditambahkan Mudjiono, untuk tahun ini baru ada satu penderita penyakit jantung yang dibantu operasi. Warga itu berasal dari Kota Batu.

”Kemudian yang antri mau operasi ada 11 orang. Yaitu 4 orang dari Kabupaten Malang, dan 7 orang dari Kota Batu. Insya Allah minggu depan giliran satu orang dari Desa Bedali, Kecamatan Lawang, umurnya 22 tahun,” paparnya.

MALANG – Pada peringatan hari jantung sedunia hari ini (29/9), ada satu fakta yang perlu diketahui, bahwa banyak warga Malang raya divonis menderita penyakit jantung, dan jumlahnya mencapai belasan ribu tiap tahunnya. Diperkirakan, terdapat ribuan warga yang meninggal karena terlambat atau tidak melakukan deteksi dini.

Dari penjabaran Kepala Instalasi Pelayanan Jantung Terpadu (IPJT) RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang dr Budi Satriyo SpJP(K), bisa dilihat seberapa tingginya kasus penyakit jantung di Malang raya. Dilansir dari Jawa Pos Radar Malang, dia menyebut bila per bulan di tempatnya bisa melayani 100 warga yang hendak melakukan pemasangan ring jantung. ”Setiap tahunnya di Malang Raya ada 3.000-an orang yang melakukan pemasangan ring jantung,” kata dia.

Ring jantung adalah alat berbentuk tabung kecil, yang biasanya terbuat dari logam. Alat tersebut berfungsi untuk membuka arteri yang tersumbat. Penyumbatan arteri itu terjadi akibat penumpukan plak di dalam pembuluh darah. Dengan memasang ring jantung, aliran darah yang sebelumnya tersumbat bisa kembali lancar. Prosedur ini kerap diambil oleh para pasien jantung koroner.

Ditambahkan dr Budi, dari data World Health Organization (WHO) menunjukkan ada 17 juta orang di dunia yang meninggal akibat penyakit jantung. Lalu untuk persentase kasusnya yang ada di Indonesia sebanyak 1,5 persen dari total populasi penduduk. Dari estimasi itu, dari total penduduk di Malang raya sekitar 3,7 juta orang, dia memperkirakan ada 55 ribu jiwa yang saat ini menderita sakit jantung.

Dia juga menjabarkan dua faktor umum seseorang bisa terkena penyakit jantung. Yang pertama bisa karena keturunan genetik dan usia yang semakin bertambah. Untuk penderita penyakit jantung dengan faktor tersebut, dia menyarankan agar rutin melakukan check-up. ”Kalau yang tanpa keluhan bisa satu kali dalam setahun. Kemudian kalau yang ada keluhan ya rutin (check-up) sesuai kebutuhan dan anjuran dokter,” kata dia.

Untuk penyebab kedua yakni gaya hidup yang kurang sehat. Seperti kebiasaan merokok, terjadinya obesitas, kurang aktivitas, darah tinggi, kencing manis, kolesterol tinggi dan lainnya. ”Kualitas hidup yang buruk memang berpengaruh, sehingga semakin banyak risiko,” terang dr Budi. Saat ini, dikatakan dia, penderita jantung dapat melakukan pengobatan dengan layanan BPJS Kesehatan.

Baca Juga :  Kemenag Akan Gelar Sidang Isbat Penetapan Awal Ramadan 1443 H pada 1 April

Sehingga biayanya jauh lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan ongkos mandiri dalam melakukan operasi jantung, yang bisa mencapai sekitar Rp 300 juta setiap orang. Namun dr Budi berharap dengan adanya fasilitas tersebut masyarakat tidak menganggapnya sepele.
”Jujur saja jumlah dokter jantung di Indonesia itu hanya 1.500 dokter, dan jumlah itu sangat kurang. Kami berharap masyarakat melakukan pencegahan lebih dini, daripada mengobati dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan jantung,” harap dia.

Di tempat lain, Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Cabang Malang Raya Dewanti Rumpoko memastikan bila pihaknya terus menggaungkan akronim SEHAT. Penjabarannya yakni seimbang gizi, enyahkan rokok, hadapi dan hindari stres, awasi tekanan darah dan teratur dalam berolahraga. ”Kalau semua dilaksanakan dengan benar, insya Allah jantungnya sehat,” kata Dewanti.

Perempuan yang juga menjabat sebagai Wali Kota Batu itu menyebut bila penderita penyakit jantung dapat mengajukan kebutuhan operasi dari yayasannya. Namun harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu. ”Untuk saat ini saja ada lebih dari 10 orang yang mengantre, ini penting karena perlu dibantu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Sekretaris YJI Cabang Malang Raya Mudjiono Adi SH turut menjabarkan beberapa persyaratannya. Seperti membuat surat permohonan dari penderita. Kemudian surat rekomendasi dari dokter spesialis jantung, yang menyatakan bahwa penderita benar-benar sakit jantung, bukti hasil ekokardiografi. Lalu fotokopi KTP, fotokopi kartu keluarga, fotokopi kartu peserta BPJS Kesehatan, dan surat keterangan tidak mampu dari kepala desa yang diketahui Camat.

”Kemudian yang terakhir alamat rumah domisili saat ini, karena kami harus survei, kalau layak dan perlu dibantu maka bisa (dapat bantuan),” kata dia. Ditambahkan Mudjiono, untuk tahun ini baru ada satu penderita penyakit jantung yang dibantu operasi. Warga itu berasal dari Kota Batu.

”Kemudian yang antri mau operasi ada 11 orang. Yaitu 4 orang dari Kabupaten Malang, dan 7 orang dari Kota Batu. Insya Allah minggu depan giliran satu orang dari Desa Bedali, Kecamatan Lawang, umurnya 22 tahun,” paparnya.

Most Read

Artikel Terbaru

/