alexametrics
26.6 C
Kudus
Monday, May 16, 2022

Pabrik Obat Ilegal di Sleman dan Bantul Tembus Omzet Rp 2 M Per Hari

SLEMAN – Penggerebekan dua pabrik obat keras ilegal, termasuk obat yang mengandung psikotropika telah dilakukan di Sleman dan Bantul. Kemampuan produksi mereka dapat mencapai dua juta pil per hari, sehingga omzet kedua pabrik tersebut diestimasikan menembus angka Rp 2 miliar.

Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Agus Andrianto pada hari Selasa(28/9), menyatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari temuan di Jakarta. Dalam pengembangan, jaringan menjalar ke berbagai provinsi seperti Jabar, Jatim, dan Kalsel. “Kemudian dikembangkan lagi, ternyata asalnya dari DIJ,” ungkapnya seperti yang dilansir Radar Jogja (Jawa Pos Group).

Dalam pengungkapan jaringan tersebut, polisi meringkus tiga orang warga DIJ. Mereka adalah JSR alias J, 56; LSK alias DA, 49; dan WZ, 53. Namun sebelumnya polisi telah menciduk 10 orang dari luar provinsi DIJ. Polisi terus melakukan pengembangan terhadap jaringan ini karena disinyalir ada keterlibatan warga negara asing. “Kami akan lihat dari distributor, penerima, dan penyalur bahan baku, apakah memiliki hubungan dengan pabrik. Akan kami proses lebih lanjut,” tegas jenderal polisi bintang tiga ini.


Peristiwa ini merupakan temuan terbesar psikotropika di Indonesia. Pabrik yang digerebek tersebut sudah beroperasi sejak 2018, namun baru terungkap pada tahun 2021. “Baru ketahuan karena mereka tertutup dan izinnya tidak ada. Makanya peran serta masyarakat sangat perlu. Mohon kalau ada informasi terkait dengan situasi sekelilingnya, diinformasikan kepada polisi terdekat,” pinta Agus.

Ditambahkan Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno H Siregar, metode distribusi yang dilakukan jaringan ini melalui jalur darat dan laut. Di mana semua perintah disampaikan oleh seseorang berinisial EY yang ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Nanti distribusi ke bawahnya masuk ke kota, distributor, baru agen. Tekniknya distributor mengambil dari koordinator wilayah dan diedarkan. Masih tradisional, kami belum menemukan peredarannya melalui online,” jabarnya. Peredaran gelap obat keras ini mencakup antarpulau dengan jaringan meliputi DIJ, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Baca Juga :  Selain Haris Azhar, Koordinator KontraS juga Siap Ladeni Luhut

Turut hadir dalam konferensi pers ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIJ Dewi Prawitasari. Dia menjelaskan, obat dapat menjadi racun, kalau tidak digunakan sesuai dengan indikasinya. “Apapun jenis obatnya,” ucapnya.

Terkait penemuan pabrik psikotropika di Kasihan, Dewi menuturkan, obat-obat yang disalahgunakan adalah obat yang memiliki efek samping euforia dan stimulan. Obat-obatan itu sejatinya digunakan untuk merelaksasi otot dan syaraf kaku. Beberapa varian yang ditemukan adalah Hexymer, Trihex, DMP, Double L, dan IRGAPAN. “Obat-obat ini mempengaruhi sistem saraf pusat,” jelasnya.

Dari temuan, disita sebagai barang bukti satu unit truk colt diesel dengan pelat kendaraan AB 8608 IS, 30.345.000 butir obat keras, 1.200 colli paket dus, tujuh mesin cetak pil Hexymer, DMP dan Double L, lima mesin oven obat, dua mesin pewarna obat dan satu mesin cording atau printing. Selain itu turut diamankan Polivinill Pirolidon (PVP) 25 kilogram, Microcrystalline Cellulose (MCC) 150 kilogram, Sodium Starch Glycolate (SSG) 450 kilogram, Polyoxyethylene Glycol 6000 (PEG) 15 kilogram, Dextromethorphan 200 kilogram, Trihexyphenidyl 275 kilogram, Talc 45 kilogram, Lactose 6.250 kilogram dan 100 kilogram Adonan Prekursor pembuatan obat keras.

Sementara tiga orang pekerja pabrik yakni J, DA dan WZ terancam Pasal 60 UU RI No 11/2020 tentang Cipta Kerja Perubahan Atas Pasal 197 UU RI No 36/2009, Pasal 196 UU RI No 36/ 2009 tentang Kesehatan. Pasal 198 UU RI No 36/2009 tentang Kesehatan, dan Pasal 60 UU RI No 5/1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

SLEMAN – Penggerebekan dua pabrik obat keras ilegal, termasuk obat yang mengandung psikotropika telah dilakukan di Sleman dan Bantul. Kemampuan produksi mereka dapat mencapai dua juta pil per hari, sehingga omzet kedua pabrik tersebut diestimasikan menembus angka Rp 2 miliar.

Kabareskrim Mabes Polri Komjen Pol Agus Andrianto pada hari Selasa(28/9), menyatakan, pengungkapan kasus tersebut berawal dari temuan di Jakarta. Dalam pengembangan, jaringan menjalar ke berbagai provinsi seperti Jabar, Jatim, dan Kalsel. “Kemudian dikembangkan lagi, ternyata asalnya dari DIJ,” ungkapnya seperti yang dilansir Radar Jogja (Jawa Pos Group).

Dalam pengungkapan jaringan tersebut, polisi meringkus tiga orang warga DIJ. Mereka adalah JSR alias J, 56; LSK alias DA, 49; dan WZ, 53. Namun sebelumnya polisi telah menciduk 10 orang dari luar provinsi DIJ. Polisi terus melakukan pengembangan terhadap jaringan ini karena disinyalir ada keterlibatan warga negara asing. “Kami akan lihat dari distributor, penerima, dan penyalur bahan baku, apakah memiliki hubungan dengan pabrik. Akan kami proses lebih lanjut,” tegas jenderal polisi bintang tiga ini.

Peristiwa ini merupakan temuan terbesar psikotropika di Indonesia. Pabrik yang digerebek tersebut sudah beroperasi sejak 2018, namun baru terungkap pada tahun 2021. “Baru ketahuan karena mereka tertutup dan izinnya tidak ada. Makanya peran serta masyarakat sangat perlu. Mohon kalau ada informasi terkait dengan situasi sekelilingnya, diinformasikan kepada polisi terdekat,” pinta Agus.

Ditambahkan Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol Krisno H Siregar, metode distribusi yang dilakukan jaringan ini melalui jalur darat dan laut. Di mana semua perintah disampaikan oleh seseorang berinisial EY yang ditetapkan dalam daftar pencarian orang (DPO).

“Nanti distribusi ke bawahnya masuk ke kota, distributor, baru agen. Tekniknya distributor mengambil dari koordinator wilayah dan diedarkan. Masih tradisional, kami belum menemukan peredarannya melalui online,” jabarnya. Peredaran gelap obat keras ini mencakup antarpulau dengan jaringan meliputi DIJ, Jawa Barat, Jakarta, Jawa Timur, dan Kalimantan Selatan.

Baca Juga :  Jaga Momen Pemulihan Ekonomi, Monitor Perkembangan Dalam-Luar Negeri

Turut hadir dalam konferensi pers ini, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) DIJ Dewi Prawitasari. Dia menjelaskan, obat dapat menjadi racun, kalau tidak digunakan sesuai dengan indikasinya. “Apapun jenis obatnya,” ucapnya.

Terkait penemuan pabrik psikotropika di Kasihan, Dewi menuturkan, obat-obat yang disalahgunakan adalah obat yang memiliki efek samping euforia dan stimulan. Obat-obatan itu sejatinya digunakan untuk merelaksasi otot dan syaraf kaku. Beberapa varian yang ditemukan adalah Hexymer, Trihex, DMP, Double L, dan IRGAPAN. “Obat-obat ini mempengaruhi sistem saraf pusat,” jelasnya.

Dari temuan, disita sebagai barang bukti satu unit truk colt diesel dengan pelat kendaraan AB 8608 IS, 30.345.000 butir obat keras, 1.200 colli paket dus, tujuh mesin cetak pil Hexymer, DMP dan Double L, lima mesin oven obat, dua mesin pewarna obat dan satu mesin cording atau printing. Selain itu turut diamankan Polivinill Pirolidon (PVP) 25 kilogram, Microcrystalline Cellulose (MCC) 150 kilogram, Sodium Starch Glycolate (SSG) 450 kilogram, Polyoxyethylene Glycol 6000 (PEG) 15 kilogram, Dextromethorphan 200 kilogram, Trihexyphenidyl 275 kilogram, Talc 45 kilogram, Lactose 6.250 kilogram dan 100 kilogram Adonan Prekursor pembuatan obat keras.

Sementara tiga orang pekerja pabrik yakni J, DA dan WZ terancam Pasal 60 UU RI No 11/2020 tentang Cipta Kerja Perubahan Atas Pasal 197 UU RI No 36/2009, Pasal 196 UU RI No 36/ 2009 tentang Kesehatan. Pasal 198 UU RI No 36/2009 tentang Kesehatan, dan Pasal 60 UU RI No 5/1997 tentang Psikotropika dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan pidana denda paling banyak Rp 200 juta.

Most Read

Artikel Terbaru

/