alexametrics
23.1 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Gandeng Perguruan Tinggi, BPBD Atasi Masalah Kekeringan di Boyolali

BOYOLALI – Kekeringan di beberapa kecamatan di Kabupaten Boyolali masih terus terjadi meskipun sudah turun hujan beberapa hari kemarin. Permasalahan kekeringan ini tentu menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali. Pemkab Boyolali akan menggandeng perguruan tinggi (PT) dalam menuntaskan kekeringan tersebut.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBd Boyolali Widodo Munir mengatakan, sesuai perkiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun ini masuk kemarau basah, yakni musim kemarau namun sesekali masih turun hujan. Rencananya, tangki air bersih  sejumlah 2.019 tangki akan disalurkan pada enam kecamatan yang masuk daftar darurat kekeringan.

”Empat kecamatan itu meliputi Juwangi, Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Musuk dan Tamansari. Sedangkan Selo berhasil keluar dari daerah rawan kekurangan air bersih, karena mereka mampu mengelola sumber air,” jelasnya, Senin (27/9).


Hal tersebut cukup menjadi perhatian, karena daerah rawan kekeringan didominasi wilayah utara. Penduduk daerah tersebut hanya mengandalkan air hujan, termasuk daerah Tamansari dan Musuk. Hal tersebut sesuai dengan hasil asesmen dari BPBD.

Sedangkan wilayah Selo cukup kreatif mencari sumber mata air, yakni tuk Babon. Selain itu, potensi sumber air bersih masih ditemukan di daerah Merapi dan Merbabu. Warga mampu mengelola air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Penuntasan kekeringan serupa juga akan dilakukan di daerah utara.

”Kami akan menggandeng perguruan tinggi untuk menyelesaikan persoalan ini. Terutama daerah-daerah yang langganan kekeringan. Kalau di lereng Merapi-Merbabu seperti Selo, Musuk dan Tamansari masih dimungkinkan mencari sumber air. Tapi kalau daerah utara, akan kami cari solusinya dengan menggandeng PT,” terangnya

Baca Juga :  Nilai Keindonesiaan Harus Diimplementasikan Sebagai Cara Hidup dalam Keseharian

Sebelumnya, Sekda Boyolali Masruri mengatakan, 2.019 tangki air ini untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih. Beberapa desa di daerah utara dan selatan telah mengalami kekurangan air bersih. Dia menekankan agar dropping air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum.

”Desa yang mengandalkan dari sumber air. Kemudian banyak yang kurang air yang mengandalkan air sungai seperti di daerah utara. Kalau hujan tidak turun air bersih susah di dapat,” katanya.

Masruri menegaskan jangan sampai air sisa dropping dimasukan ke sumur. Karena akan terserap ke tanah dan sia-sia. Terutama di daerah Juwangi, Kemusu, Wonosamudro, Wonosegoro dan lainnya. Dia meminta petugas dropping air bersabar menunggu warga mencari tempat tandon air.

”Lebih baik kita tunggu saja. Kalau ada desa yang minta kita berangkat agar bisa dihemat energinya. Karena potensi kekeringan ada dan masih dalam situasi PPKM level 3. Agar sasaran dropping tepat dan menimbang jarak serta transportasinya,” ungkapnya.

Sedangkan Kecamatan Selo tidak lagi masuk daerah kekeringan lagi. Selain memanfaatkan pamsimas, masyarakat juga mencari sumber mata air. Meskipun sumber mata air menipis saat musìm kemarau, namun, bisa mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat.

BOYOLALI – Kekeringan di beberapa kecamatan di Kabupaten Boyolali masih terus terjadi meskipun sudah turun hujan beberapa hari kemarin. Permasalahan kekeringan ini tentu menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali. Pemkab Boyolali akan menggandeng perguruan tinggi (PT) dalam menuntaskan kekeringan tersebut.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBd Boyolali Widodo Munir mengatakan, sesuai perkiraan Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tahun ini masuk kemarau basah, yakni musim kemarau namun sesekali masih turun hujan. Rencananya, tangki air bersih  sejumlah 2.019 tangki akan disalurkan pada enam kecamatan yang masuk daftar darurat kekeringan.

”Empat kecamatan itu meliputi Juwangi, Wonosegoro, Wonosamudro, Kemusu, Musuk dan Tamansari. Sedangkan Selo berhasil keluar dari daerah rawan kekurangan air bersih, karena mereka mampu mengelola sumber air,” jelasnya, Senin (27/9).

Hal tersebut cukup menjadi perhatian, karena daerah rawan kekeringan didominasi wilayah utara. Penduduk daerah tersebut hanya mengandalkan air hujan, termasuk daerah Tamansari dan Musuk. Hal tersebut sesuai dengan hasil asesmen dari BPBD.

Sedangkan wilayah Selo cukup kreatif mencari sumber mata air, yakni tuk Babon. Selain itu, potensi sumber air bersih masih ditemukan di daerah Merapi dan Merbabu. Warga mampu mengelola air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Penuntasan kekeringan serupa juga akan dilakukan di daerah utara.

”Kami akan menggandeng perguruan tinggi untuk menyelesaikan persoalan ini. Terutama daerah-daerah yang langganan kekeringan. Kalau di lereng Merapi-Merbabu seperti Selo, Musuk dan Tamansari masih dimungkinkan mencari sumber air. Tapi kalau daerah utara, akan kami cari solusinya dengan menggandeng PT,” terangnya

Baca Juga :  Tiga Desa di Jepara Masih Kekeringaan, Kenapa?

Sebelumnya, Sekda Boyolali Masruri mengatakan, 2.019 tangki air ini untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih. Beberapa desa di daerah utara dan selatan telah mengalami kekurangan air bersih. Dia menekankan agar dropping air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari seperti makan dan minum.

”Desa yang mengandalkan dari sumber air. Kemudian banyak yang kurang air yang mengandalkan air sungai seperti di daerah utara. Kalau hujan tidak turun air bersih susah di dapat,” katanya.

Masruri menegaskan jangan sampai air sisa dropping dimasukan ke sumur. Karena akan terserap ke tanah dan sia-sia. Terutama di daerah Juwangi, Kemusu, Wonosamudro, Wonosegoro dan lainnya. Dia meminta petugas dropping air bersabar menunggu warga mencari tempat tandon air.

”Lebih baik kita tunggu saja. Kalau ada desa yang minta kita berangkat agar bisa dihemat energinya. Karena potensi kekeringan ada dan masih dalam situasi PPKM level 3. Agar sasaran dropping tepat dan menimbang jarak serta transportasinya,” ungkapnya.

Sedangkan Kecamatan Selo tidak lagi masuk daerah kekeringan lagi. Selain memanfaatkan pamsimas, masyarakat juga mencari sumber mata air. Meskipun sumber mata air menipis saat musìm kemarau, namun, bisa mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat.

Most Read

Artikel Terbaru

/