alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Bupati Ajak Pemerintah Desa/Kelurahan Budi Daya Maggot, Ini Alasannya

SUKOHARJO – Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengajak seluruh pemerintah desa/kelurahan membudidayakan maggot. Hal ini dikarenakan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Mojorejo terus mengalami penyusutan. Fasilitas tersebut diprediksikan akan penuh pada tiga tahun mendatang. Guna mengatasi permasalahan tersebut, Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengajak seluruh pemerintah desa/kelurahan untuk membudidayakan maggot.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agustinus Setiyono mengungkapkan bahwa, selama ini, sistem pengelolaan sampah hanya mengandalkan kumpul angkut buang ke TPA Mojorejo. Dampaknya, sampah di TPA setempat semakin menggunung.

“Kurang lebih 140 ton sampah masuk ke TPA setiap hari, sedangkan luas TPA sangat terbatas, hanya sekitar 4,5 hektare,” terang Agustinus di Aula Gedung Menara Wijaya Lantai 10, Senin (27/9).


Ketika kondisi tersebut dibiarkan, dalam tiga tahun ke depan, TPA Mojorejo akan overload. Selain itu, hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai kinerja pengelolaan sampah di Sukoharjo, baik pemilahan di TPS maupun di TPS reduce, reuse, recycle (3R) dirasa kurang optimal.

“Terbukti masih banyak plastik yang berada di TPA. Untuk itu, perlu kami tindaklanjuti hasil temuan ini dengan melakukan pemilahan sampah menurut jenisnya, yaitu sampah organik dan anorganik,” bebernya.

Ditambahkan Agustinus, lima kecamatan menjadi penghasil sampah tersebut, yakni Sukoharjo, Mojolaban, Grogol, Baki, Kartasura. Bukan hanya Kota Makmur, sampah sudah menjadi masalah nasional seiring pertambahan penduduk, kemajuan tehnologi, dan gaya hidup.

Baca Juga :  ASN Sukoharjo Diwajibkan Pakai Aplikasi PeduliLindungi Sesuai Inbup

Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan, sampah memerlukan penanganan dan pengelolaan yang serius. “Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbunan sampah Indonesia pada 2020 sebanyak 67,8 juta ton. Untuk per hari sebanyak 185.753 ton. Sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga, yaitu 48 persen,” terang bupati.

Bupati Sukoharjo mengajak seluruh elemen memilah sampah mulai dari sumbernya untuk menjadi solusi pengelolaan sampah. Apabila pemilahan ini dapat dilakukan dengan baik, maka pengelolaan selanjutnya juga dipastikan menjadi lebih mudah.

Salah satu cara efektif mengelola sampah adalah dengan cara budidaya lalat tentara hitam (black soldier fly) atau akrab disebut maggot. “Maggot akan memakan sampah organik yang sangat membantu mengurangi sampah secara signifikan. Mengingat komposisi sampah kita lebih dari 50 persen adalah sampah organik,” terang Etik.

Bupati mengimbau setiap desa/kelurahan mengalokasikan sebagian anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah, di antaranya dengan budidaya maggot.

“Apabila masing-masing desa/lelurahan sudah dapat menyelesaikan masalah sampah secara mandiri, maka sampah di Kabupaten Sukoharjo bukan masalah lagi,” ungkap dia.

SUKOHARJO – Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengajak seluruh pemerintah desa/kelurahan membudidayakan maggot. Hal ini dikarenakan kapasitas tempat pembuangan akhir (TPA) Mojorejo terus mengalami penyusutan. Fasilitas tersebut diprediksikan akan penuh pada tiga tahun mendatang. Guna mengatasi permasalahan tersebut, Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengajak seluruh pemerintah desa/kelurahan untuk membudidayakan maggot.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sukoharjo Agustinus Setiyono mengungkapkan bahwa, selama ini, sistem pengelolaan sampah hanya mengandalkan kumpul angkut buang ke TPA Mojorejo. Dampaknya, sampah di TPA setempat semakin menggunung.

“Kurang lebih 140 ton sampah masuk ke TPA setiap hari, sedangkan luas TPA sangat terbatas, hanya sekitar 4,5 hektare,” terang Agustinus di Aula Gedung Menara Wijaya Lantai 10, Senin (27/9).

Ketika kondisi tersebut dibiarkan, dalam tiga tahun ke depan, TPA Mojorejo akan overload. Selain itu, hasil temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengenai kinerja pengelolaan sampah di Sukoharjo, baik pemilahan di TPS maupun di TPS reduce, reuse, recycle (3R) dirasa kurang optimal.

“Terbukti masih banyak plastik yang berada di TPA. Untuk itu, perlu kami tindaklanjuti hasil temuan ini dengan melakukan pemilahan sampah menurut jenisnya, yaitu sampah organik dan anorganik,” bebernya.

Ditambahkan Agustinus, lima kecamatan menjadi penghasil sampah tersebut, yakni Sukoharjo, Mojolaban, Grogol, Baki, Kartasura. Bukan hanya Kota Makmur, sampah sudah menjadi masalah nasional seiring pertambahan penduduk, kemajuan tehnologi, dan gaya hidup.

Baca Juga :  Kendaraan Listrik Bisa Tekan Impor Minyak

Bupati Sukoharjo Etik Suryani mengatakan, sampah memerlukan penanganan dan pengelolaan yang serius. “Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, timbunan sampah Indonesia pada 2020 sebanyak 67,8 juta ton. Untuk per hari sebanyak 185.753 ton. Sumber sampah terbesar berasal dari rumah tangga, yaitu 48 persen,” terang bupati.

Bupati Sukoharjo mengajak seluruh elemen memilah sampah mulai dari sumbernya untuk menjadi solusi pengelolaan sampah. Apabila pemilahan ini dapat dilakukan dengan baik, maka pengelolaan selanjutnya juga dipastikan menjadi lebih mudah.

Salah satu cara efektif mengelola sampah adalah dengan cara budidaya lalat tentara hitam (black soldier fly) atau akrab disebut maggot. “Maggot akan memakan sampah organik yang sangat membantu mengurangi sampah secara signifikan. Mengingat komposisi sampah kita lebih dari 50 persen adalah sampah organik,” terang Etik.

Bupati mengimbau setiap desa/kelurahan mengalokasikan sebagian anggaran untuk pelaksanaan kegiatan pengelolaan sampah, di antaranya dengan budidaya maggot.

“Apabila masing-masing desa/lelurahan sudah dapat menyelesaikan masalah sampah secara mandiri, maka sampah di Kabupaten Sukoharjo bukan masalah lagi,” ungkap dia.

Most Read

Artikel Terbaru

/