alexametrics
24.7 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Kinerja Keuangan PLN 2021 Terbaik Sepanjang Sejarah

JAKARTA – Tahun lalu, PT PLN (Persero) mencetak kinerja terbaiknya sepanjang sejarah meskipun di tengah masa-masa sulit akibat Covid-19. Pencapaian tersebut diraih berkat efisiensi dan inovasi di berbagai lini bisnis melalui program transformasi yang sejalan dengan gerakan transformasi BUMN sejak April 2020.

”PLN menjalankan transformasi yang membuat perusahaan makin sehat. Bisa bergerak lebih lincah dalam menjalankan mandat negara, untuk memberikan pelayanan kelistrikan kepada pelanggan dan mampu merespons secara lebih trengginas berbagai peluang bisnis. Dampaknya sangat positif terhadap kinerja perseroan,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.

Di tengah situasi pandemi, PLN juga berhasil menjaga keadilan tarif bagi masyarakat kurang mampu, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta Industri.


Dia menambahkan, transformasi berhasil meningkatkan penjualan tenaga listrik tahun lalu sebesar 5,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski Indonesia terdampak pandemi luar biasa yang mengakibatkan ekonomi melambat. Pertumbuhan listrik yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 3,69 persen menjadi bukti keberhasilan inovasi dan efisiensi, sehingga penjualan listrik meningkat sebesar Rp 13,96 triliun menjadi Rp 288,86 triliun.

Jumlah pelanggan bertambah dari 79,0 juta pada 2020 menjadi 82,5 juta pelanggan pada 2021. Hal ini juga sejalan dengan bertambahnya daya tersambung pelanggan dari 143.159 Mega Volt Ampere (MVA) pada 2020, menjadi 151.985 MVA pada 2021.

Sepanjang 2021, PLN berhasil melistriki 491 desa terpencil yang sebelumnya belum berlistrik. Hal ini meningkatkan rasio elektrifikasi dari sebelumnya 99,2 persen pada 2020 menjadi 99,4 persen pada 2021.

PLN juga telah menghadirkan aplikasi PLN Mobile yang mengonsolidasikan seluruh proses bisnis layanan pelanggan. Sepanjang 2021, terdapat penambahan 14,5 juta pengguna aplikasi PLN Mobile. Dari sebelumnya 1,7 juta pengguna pada 2020 menjadi 16,3 juta pengguna pada akhir 2021. Bahkan hingga April 2022, jumlah pengguna aplikasi tersebut telah mencapai 22 juta pengguna. Aplikasi itu, kini memiliki rating 4,8 dari skala 5. Hal ini menjadi bukti keberhasilan sebagai bagian dari transformasi layanan PLN.

Langkah ini diikuti dengan pengendalian biaya pokok penyediaan (BPP) listrik melalui efisiensi biaya operasi, manajemen pinjaman yang proaktif, konsolidasi proses bisnis dan perbaikan layanan pelanggan, serta digitalisasi proses bisnis dimulai dari hulu ke hilir antara lain digitalisasi pembangkit, transmisi dan distribusi serta pengadaan berbasis digital. ”Dengan langkah-langkah itu, BPP listrik berhasil diturunkan Rp15/kWh, dari Rp 1.348/kWh pada 2020 menjadi Rp 1.333/kWh pada 2021,” papar Darmawan.

Baca Juga :  Buka Seluas-luasnya Akses Perawatan dan Edukasi Kanker bagi Masyarakat

Dia menegaskan, seluruh upaya di sisi operasi tidak akan berhasil jika pengendalian di sisi keuangan tidak dilakukan. PLN telah membangun sistem cash war room, spend control tower, dan optimalisasi manajemen investasi serta menjalankan langkah cost avoidance and cost reduction yang terukur dan termonitor secara ketat.

PLN juga berhasil mempercepat pelunasan pinjaman Rp 52,48 triliun dalam dua tahun terakhir, sehingga menurunkan outstanding pinjaman secara signifikan. ”Langkah-langkah yang kami lakukan itu, mampu mengurangi tekanan keuangan perseroan pada 2021, sehingga beban keuangan turun Rp 7,04 triliun atau 25,7 persen dibandingkan 2020,” terang dirut PLN.

Berkat transformasi yang dijalankan tersebut, PLN membukukan EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization) pada 2021 Rp89,17 triliun naik 2,9 persen dari EBITDA pada 2020 Rp 86,69 triliun. Kenaikan EBITDA sejalan dengan kenaikan laba. Pada 2021 perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp 13,17 triliun (audited). Lebih tinggi dibanding laba bersih 2020 Rp 5,99 triliun.

Tahun ini, PLN akan mengalami tantangan lebih terutama terkait naiknya harga bahan bakar, biaya bunga dan volatilitas kurs, serta kondisi over supply. Dalam dua tahun terakhir, PLN telah berhasil mengupayakan rescheduling masuknya IPP yang semula pada 2021 menjadi 2022. Ini menimbulkan tekanan arus kas pembayaran IPP akibat adanya take or pay (TOP).

Informasi keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasi PLN pada 2021 yang telah diaudit dan diterbitkan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan (Pwc Indonesia) dengan opini tanpa modivikasian. Yaitu menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian, dan entitas anak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan keuangan 2021 dapat dilihat pada www.pln.co.id, menu Hubungan Investor. (lin)

JAKARTA – Tahun lalu, PT PLN (Persero) mencetak kinerja terbaiknya sepanjang sejarah meskipun di tengah masa-masa sulit akibat Covid-19. Pencapaian tersebut diraih berkat efisiensi dan inovasi di berbagai lini bisnis melalui program transformasi yang sejalan dengan gerakan transformasi BUMN sejak April 2020.

”PLN menjalankan transformasi yang membuat perusahaan makin sehat. Bisa bergerak lebih lincah dalam menjalankan mandat negara, untuk memberikan pelayanan kelistrikan kepada pelanggan dan mampu merespons secara lebih trengginas berbagai peluang bisnis. Dampaknya sangat positif terhadap kinerja perseroan,” kata Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo.

Di tengah situasi pandemi, PLN juga berhasil menjaga keadilan tarif bagi masyarakat kurang mampu, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), serta Industri.

Dia menambahkan, transformasi berhasil meningkatkan penjualan tenaga listrik tahun lalu sebesar 5,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya, meski Indonesia terdampak pandemi luar biasa yang mengakibatkan ekonomi melambat. Pertumbuhan listrik yang lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi 3,69 persen menjadi bukti keberhasilan inovasi dan efisiensi, sehingga penjualan listrik meningkat sebesar Rp 13,96 triliun menjadi Rp 288,86 triliun.

Jumlah pelanggan bertambah dari 79,0 juta pada 2020 menjadi 82,5 juta pelanggan pada 2021. Hal ini juga sejalan dengan bertambahnya daya tersambung pelanggan dari 143.159 Mega Volt Ampere (MVA) pada 2020, menjadi 151.985 MVA pada 2021.

Sepanjang 2021, PLN berhasil melistriki 491 desa terpencil yang sebelumnya belum berlistrik. Hal ini meningkatkan rasio elektrifikasi dari sebelumnya 99,2 persen pada 2020 menjadi 99,4 persen pada 2021.

PLN juga telah menghadirkan aplikasi PLN Mobile yang mengonsolidasikan seluruh proses bisnis layanan pelanggan. Sepanjang 2021, terdapat penambahan 14,5 juta pengguna aplikasi PLN Mobile. Dari sebelumnya 1,7 juta pengguna pada 2020 menjadi 16,3 juta pengguna pada akhir 2021. Bahkan hingga April 2022, jumlah pengguna aplikasi tersebut telah mencapai 22 juta pengguna. Aplikasi itu, kini memiliki rating 4,8 dari skala 5. Hal ini menjadi bukti keberhasilan sebagai bagian dari transformasi layanan PLN.

Langkah ini diikuti dengan pengendalian biaya pokok penyediaan (BPP) listrik melalui efisiensi biaya operasi, manajemen pinjaman yang proaktif, konsolidasi proses bisnis dan perbaikan layanan pelanggan, serta digitalisasi proses bisnis dimulai dari hulu ke hilir antara lain digitalisasi pembangkit, transmisi dan distribusi serta pengadaan berbasis digital. ”Dengan langkah-langkah itu, BPP listrik berhasil diturunkan Rp15/kWh, dari Rp 1.348/kWh pada 2020 menjadi Rp 1.333/kWh pada 2021,” papar Darmawan.

Baca Juga :  Jokowi Bersama Airlangga Groundbreaking Smelter Freeport di Gresik

Dia menegaskan, seluruh upaya di sisi operasi tidak akan berhasil jika pengendalian di sisi keuangan tidak dilakukan. PLN telah membangun sistem cash war room, spend control tower, dan optimalisasi manajemen investasi serta menjalankan langkah cost avoidance and cost reduction yang terukur dan termonitor secara ketat.

PLN juga berhasil mempercepat pelunasan pinjaman Rp 52,48 triliun dalam dua tahun terakhir, sehingga menurunkan outstanding pinjaman secara signifikan. ”Langkah-langkah yang kami lakukan itu, mampu mengurangi tekanan keuangan perseroan pada 2021, sehingga beban keuangan turun Rp 7,04 triliun atau 25,7 persen dibandingkan 2020,” terang dirut PLN.

Berkat transformasi yang dijalankan tersebut, PLN membukukan EBITDA (earning before interest, taxes, depreciation, and amortization) pada 2021 Rp89,17 triliun naik 2,9 persen dari EBITDA pada 2020 Rp 86,69 triliun. Kenaikan EBITDA sejalan dengan kenaikan laba. Pada 2021 perseroan berhasil membukukan laba bersih Rp 13,17 triliun (audited). Lebih tinggi dibanding laba bersih 2020 Rp 5,99 triliun.

Tahun ini, PLN akan mengalami tantangan lebih terutama terkait naiknya harga bahan bakar, biaya bunga dan volatilitas kurs, serta kondisi over supply. Dalam dua tahun terakhir, PLN telah berhasil mengupayakan rescheduling masuknya IPP yang semula pada 2021 menjadi 2022. Ini menimbulkan tekanan arus kas pembayaran IPP akibat adanya take or pay (TOP).

Informasi keuangan berdasarkan laporan keuangan konsolidasi PLN pada 2021 yang telah diaudit dan diterbitkan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Tanudiredja, Wibisana, Rintis & Rekan (Pwc Indonesia) dengan opini tanpa modivikasian. Yaitu menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material, posisi keuangan konsolidasian, dan entitas anak sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Laporan keuangan 2021 dapat dilihat pada www.pln.co.id, menu Hubungan Investor. (lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/