Ketika Pejabat Berkata Kasar, Apa yang Harus Dipelajari Generasi Muda?

ADA sebuah pertanyaan sederhana yang sebenarnya menyimpan persoalan besar: ketika seorang pejabat negara menggunakan kata-kata kasar di ruang publik, bagaimana seharusnya generasi muda menyikapinya?
Pertanyaan ini penting karena pejabat publik bukan sekadar individu. Setiap perkataan mereka berpotensi direkam, diberitakan, dipotong menjadi video pendek, kemudian beredar luas di media sosial. Karena itu, bahasa seorang pemimpin tidak berhenti pada orang yang mendengarnya secara langsung. Ia dapat menjadi bagian dari budaya komunikasi masyarakat.
Dalam beberapa kesempatan, Presiden Prabowo Subianto pernah menggunakan ungkapan seperti “ndasmu” dan “goblok”. Konteks masing-masing ucapan tentu perlu dilihat secara utuh. Sebagian penggunaan kata tersebut pernah dijelaskan sebagai candaan atau gaya komunikasi tertentu. Namun, persoalan etikanya tetap layak dibicarakan karena yang mengucapkannya adalah pejabat dengan pengaruh publik yang sangat besar.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa sendiri mengingatkan bahwa pejabat publik perlu menguasai etika bertutur dan menggunakan bahasa yang baik, benar, sopan, santun, serta beradab. Pilihan kata yang tidak tepat konteks dapat menimbulkan makna berbeda dan memicu kesalahpahaman di masyarakat.
Sosiolog Pierre Bourdieu memberikan perspektif penting mengenai hubungan antara bahasa dan kekuasaan. Dalam pemikirannya tentang symbolic power, bahasa bukan sekadar alat menyampaikan pesan. Bahasa juga mempunyai kekuatan untuk membentuk cara orang melihat dunia dan menentukan apa yang dianggap sah, pantas, atau memiliki otoritas.
Artinya, ucapan orang yang memiliki kekuasaan tidak memiliki bobot sosial yang sama dengan ucapan orang biasa.
Ketika seorang anak muda berkata kasar kepada temannya, dampaknya mungkin hanya terbatas pada lingkaran pergaulannya. Tetapi ketika pejabat tinggi menggunakan bahasa yang sama di ruang publik, jutaan orang dapat menyaksikan, menafsirkan, memperdebatkan, bahkan menirunya.
Di sinilah persoalan keteladanan muncul.
Bahasa pemimpin secara tidak langsung ikut menentukan batas antara apa yang dianggap pantas dan apa yang dianggap biasa.
Dalam psikologi, Albert Bandura memperkenalkan konsep observational learning atau pembelajaran melalui pengamatan. Manusia tidak hanya belajar melalui nasihat. Kita juga belajar dengan melihat perilaku orang lain, terutama figur yang memiliki posisi atau status tertentu.


