alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Profil Gus Yahya Asal Rembang Ketua Umum PBNU 2021-2026

REMBANG – KH Yahya Cholil Staquf atau yang dikenal dengan sapaan Gus Yahya lahir di Rembang pada 16 Februari 1966. Gus Yahya dikenal sebagai kiai, ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-33 NU di Lampung, dia menjabat sebagai Katib Aam PBNU.

Gus Yahya adalah saudara dari Menteri Agama RI KH. Yaqut Cholil Qoumas. Gus Yahya merupakan putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Riwayat pendidikan Gus Yahya, dikutip dari Wikipedia, antara lain pernah menimba ilmu di pesantren dan ia adalah murid KH Ali Maksum di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Pada jenjang pendidikan tinggi, ia tercatat pernah menempuh pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Pada saat menjadi mahasiswa, ia juga aktif dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.


Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 31 Mei 2018, Gus Yahya dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta.

Pada tahun 2014, ia menjadi salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yaitu Bayt Ar-Rahmah Li adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.

Kakak dari Menteri Agama Gus Yaqut ini pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama Agama di Amerika Serikat – Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Gus Yahya juga pernah didaulat sebagai utusan GP Ansor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan di sana dan menawarkan gagasan bernas.

Gus Yahya sering didaulat menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, dia menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum ini, Gus Yahya menyuarakan menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia melalui jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai.

Usai kunjungannya itu, banyak orang memaki-makinya dengan kasar, menudingnya sebagai antek Israel, marah-marah, bahkan ada yang mendoakannya masuk neraka. Tetapi begitulah, Gus Yahya tak bergeming. Dia tetap santai.

Pada 15 Juli 2021, Gus Yahya mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

Pada hari ketiga konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut Gus Yahya mendapat apresiasi dari tokoh-tokoh dunia. Gus Yahya menjelaskan bahwa dinamika bangkitnya nasionalisme religius merupakan bagian metode untuk pertahanan ketika suatu kelompok agama yang biasanya merupakan mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya.

Menurut Gus Yahya, kebangkitan ini pun tidak terelakkan lantaran dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban di masa depan. Selain itu, dinamika internasional telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur (single interfused global civilization).

Gus Yahya mempertegas bahwa persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Maka dari itu, Gus Yahya mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah.

Solusi yang ditawarkan Gus Yahya adalah dengan menawarkan strategi dan model perdamaian dunia sebagaimana yang selama ini telah dipraktikkan warga NU.

Gus Yahya menawarkan beberapa solusi. Pertama, langkah awal harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama. Nilai-nilai itu antara lain kejujuran, kasih-sayang dan keadilan.

Baca Juga :  Mendag: Kita Jaga Momentum Pertumbuhan Ekspor dan Kendalikan Inflasi

Kedua, dunia harus membangun konsensus atas nilai-nilai yang perlu disepakati agar semua pihak yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan nilai-nilai tradisional yang menghambat koeksistensi damai pun layak untuk diubah.

Ketiga, Strategi NU yang menyatakan bahwa kategori kafir tidak memiliki relevansi hukum dalam konteks negara bangsa modern perlu dikontekstualisasi dalam hal tersebut.

Presiden Terong Gosong

Dikutip dari alif.id, pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang itu menjabat sebagai Presiden Republik Terong Gosong hingga sekarang.

Tidak banyak yang tahu mengenai jabatan tersebut. Terong Gosong adalah sebuah komunitas yang didirikan oleh Gus Yahya sendiri, kemudian ia didapuk sebagai presiden oleh para pengikutnya.

Pada tanggal 13 Mei 2009, Terong Gosong lahir melalui jejaring sosial Facebook. Menurut Gus Yahya, tidak ada tujuan khusus atas berdirinya Terong Gosong kecuali hanya untuk memanfaatkan teknologi agar bisa mendokumentasikan cerita-cerita di seputar dunia pesantren.

Sampai saat ini, anggota komunitas Terong Gosong lebih dari 39.000 orang. Ada ratusan  konten yang terpampang pada halaman Facebook Terong Gosong, umumnya berupa cerita pendek jenaka yang mengundang gelak tawa. Berangkat dari sini, lahirlah buku The Terong Gosong (jilid 1) dan Terong Gosong Reloaded (jilid 2).

Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah yang pernah diunggah di halaman Terong Gosong. Pada kata pengantar kita dapat mengetahui kronologi lahirnya buku ini. Cikal bakal terbitnya buku ini berawal dari sebuh komunitas, Terong Gosong, di laman penggemar Facebook.

Menurut Gus Yahya, laman Facebook itu dimaksudkan sebagai wahana silaturahmi bagi para pengguna Facebook dari kalangan pesantren. Agenda utama dari komunitas ini adalah bertukar humor dan pengalaman lucu berkaitan dengan dunia pesantren.

Meski pada kata pengantar Gus Yahya menyebut buku ini hanya mengajak tertawa saja, namun ada banyak sekali hikmah, pelajaran, dan sejarah yang dapat dipetik dari buku ini. Konten dari buku ini persis dengan cerita-cerita lucu yang tak asing lagi bagi kaum sarungan. Biasanya, kisah-kisah humor di kalangan santri turun menurun diceritakan melalui budaya tutur yang sudah mengakar di dunia pesantren.

Melalui buku ini, Gus Yahya berupaya melestarikan kisah-kisah jenaka yang sudah bertahun-tahun tumbuh subur secara alami di kalangan santri.

Dengan cerdas buku ini hadir di tengah ketegangan Warga Negera Indonesia (WNI) yang belakangan kerapkali mengernyitkan dahi, merengut, bahkan sulit untuk sekadar tertawa. Sesuai dengan tagline komunitas Terong Gosong, yakni ketawa secara serius, buku ini berisikan cerita pendek bernuansa humor yang akan memantik ledekan tawa yang serius, ketawa yang paripurna bukan ketawa dengan main-main.

Salah satu kelebihan buku ini yakni sanad dari kisah-kisah jenaka yang disajikan mutasil atau bersambung langsung dengan tokoh yang ada dalam cerita. Hal demikian tentu saja tidak mengejutkan, dalam tradisi NU sanad merupakan barang istimewa yang sangat berharga. Dengan sanad yang jelas, konten dari buku ini mampu mengajak pembaca meresapi, mengikutsertakan emosi saat membaca, dan tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Jamak diketahui, NU adalah gudangnya cerita lucu atau guyonan. Setiap generasi NU dari masa ke masa selalu membawa kisah humor segar. Mulai dari zaman pendiri NU, Mbah Hasyim Asy’ari, hingga turun-menurun ke cucunya, Gus Dur, dan tentu saja diwarisi oleh para santri mutakhir.

Dalam buku ini, Gus Yahya banyak mengkisahkan cerita humor sesepuh NU, terlebih Gus Dur, baik saat beliau menjadi presiden maupun ketika sudah lagi tak menjabat. Cerita-cerita mengenai Gus Dur ia kisahkan dengan detail, gamblang tanpa aling-aling. Tidak hanya sekadar bercerita, Gus Yahya seringkali terlibat, menjadi saksi dalam kisah Gus Dur yang mengundang decak kagum, dan tentu tidak dapat disangka-sangka oleh siapa pun.

Melalui buku ini, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah heroik para sesepuh NU seperti Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Ma’shum, Gus Dur dan banyak Kiai yang lain. Para sesepuh NU itu tidak hanya luas ilmu agamanya, tetapi juga sangat rendah hati, ngemong umat, dan memanusiakan manusia.

REMBANG – KH Yahya Cholil Staquf atau yang dikenal dengan sapaan Gus Yahya lahir di Rembang pada 16 Februari 1966. Gus Yahya dikenal sebagai kiai, ulama dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU). Sebelum terpilih menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-33 NU di Lampung, dia menjabat sebagai Katib Aam PBNU.

Gus Yahya adalah saudara dari Menteri Agama RI KH. Yaqut Cholil Qoumas. Gus Yahya merupakan putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, salah satu pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Ia juga dikenal sebagai pengasuh pondok pesantren Roudlotut Tholibien, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Riwayat pendidikan Gus Yahya, dikutip dari Wikipedia, antara lain pernah menimba ilmu di pesantren dan ia adalah murid KH Ali Maksum di Madrasah Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta. Pada jenjang pendidikan tinggi, ia tercatat pernah menempuh pendidikan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Pada saat menjadi mahasiswa, ia juga aktif dalam Organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Yogyakarta.

Gus Yahya pernah menjadi juru bicara Presiden RI KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada 31 Mei 2018, Gus Yahya dilantik oleh Presiden Jokowi menjadi Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta.

Pada tahun 2014, ia menjadi salah satu inisiator pendiri institut keagamaan di California, Amerika Serikat yaitu Bayt Ar-Rahmah Li adDa’wa Al-Islamiyah rahmatan Li Al-alamin yang mengkaji agama Islam untuk perdamaian dan rahmat alam.

Kakak dari Menteri Agama Gus Yaqut ini pernah dipercaya menjadi tenaga ahli perumus kebijakan pada Dewan Eksekutif Agama Agama di Amerika Serikat – Indonesia yang didirikan berdasarkan perjanjian bilateral yang ditandatangani oleh Presiden Obama dan Presiden Jokowi pada Oktober 2015 untuk menjalin kemitraan strategis antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Gus Yahya juga pernah didaulat sebagai utusan GP Ansor dan PKB untuk jaringan politik tersebar di Eropa dan Dunia, Centrist Democrat International (CD) dan European People’s Party (EPP). American Jewish Committee (AJC) pernah mengundangnya berpidato tentang resolusi konflik keagamaan di sana dan menawarkan gagasan bernas.

Gus Yahya sering didaulat menjadi pembicara internasional di luar negeri. Seperti pada Juni 2018, dia menjadi pembicara dalam forum American Jewish Committee (AJC) di Israel. Dalam forum ini, Gus Yahya menyuarakan menyerukan konsep rahmat, sebagai solusi bagi konflik dunia, termasuk konflik yang disebabkan agama. Ia menawarkan perdamaian dunia melalui jalur-jalur penguatan pemahaman agama yang damai.

Usai kunjungannya itu, banyak orang memaki-makinya dengan kasar, menudingnya sebagai antek Israel, marah-marah, bahkan ada yang mendoakannya masuk neraka. Tetapi begitulah, Gus Yahya tak bergeming. Dia tetap santai.

Pada 15 Juli 2021, Gus Yahya mendapatkan apresiasi tinggi dari tokoh-tokoh perdamaian dunia dalam perhelatan International Religious Freedom (IRF) Summit, di Washington, DC, Amerika Serikat. Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan pidato kunci dengan judul “The Rising Tide of Religious Nationalism” (Pasang Naik Nasionalisme Religius).

Pada hari ketiga konferensi tingkat tinggi (KTT) tersebut Gus Yahya mendapat apresiasi dari tokoh-tokoh dunia. Gus Yahya menjelaskan bahwa dinamika bangkitnya nasionalisme religius merupakan bagian metode untuk pertahanan ketika suatu kelompok agama yang biasanya merupakan mayoritas di negaranya merasa terancam secara budaya.

Menurut Gus Yahya, kebangkitan ini pun tidak terelakkan lantaran dunia tengah bergulat dalam persaingan antar-nilai untuk menentukan corak peradaban di masa depan. Selain itu, dinamika internasional telah mengarah pada perwujudan satu peradaban global yang tunggal dan saling berbaur (single interfused global civilization).

Gus Yahya mempertegas bahwa persaingan yang sengit ini berpotensi besar memicu permusuhan dan kekerasan. Maka dari itu, Gus Yahya mendorong berbagai elemen di dunia menemukan cara untuk mengelolanya sebelum telanjur meletus konflik global yang kian parah.

Solusi yang ditawarkan Gus Yahya adalah dengan menawarkan strategi dan model perdamaian dunia sebagaimana yang selama ini telah dipraktikkan warga NU.

Gus Yahya menawarkan beberapa solusi. Pertama, langkah awal harus diidentifikasi lebih dahulu nilai-nilai apa yang selama ini telah menjadi kesepakatan bersama. Nilai-nilai itu antara lain kejujuran, kasih-sayang dan keadilan.

Baca Juga :  Di Depan Jaksa, Herry Irawan Akui Perbuatan Asusila kepada 31 Santriwati

Kedua, dunia harus membangun konsensus atas nilai-nilai yang perlu disepakati agar semua pihak yang berbeda-beda dapat hidup berdampingan secara damai. Bahkan nilai-nilai tradisional yang menghambat koeksistensi damai pun layak untuk diubah.

Ketiga, Strategi NU yang menyatakan bahwa kategori kafir tidak memiliki relevansi hukum dalam konteks negara bangsa modern perlu dikontekstualisasi dalam hal tersebut.

Presiden Terong Gosong

Dikutip dari alif.id, pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang itu menjabat sebagai Presiden Republik Terong Gosong hingga sekarang.

Tidak banyak yang tahu mengenai jabatan tersebut. Terong Gosong adalah sebuah komunitas yang didirikan oleh Gus Yahya sendiri, kemudian ia didapuk sebagai presiden oleh para pengikutnya.

Pada tanggal 13 Mei 2009, Terong Gosong lahir melalui jejaring sosial Facebook. Menurut Gus Yahya, tidak ada tujuan khusus atas berdirinya Terong Gosong kecuali hanya untuk memanfaatkan teknologi agar bisa mendokumentasikan cerita-cerita di seputar dunia pesantren.

Sampai saat ini, anggota komunitas Terong Gosong lebih dari 39.000 orang. Ada ratusan  konten yang terpampang pada halaman Facebook Terong Gosong, umumnya berupa cerita pendek jenaka yang mengundang gelak tawa. Berangkat dari sini, lahirlah buku The Terong Gosong (jilid 1) dan Terong Gosong Reloaded (jilid 2).

Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah yang pernah diunggah di halaman Terong Gosong. Pada kata pengantar kita dapat mengetahui kronologi lahirnya buku ini. Cikal bakal terbitnya buku ini berawal dari sebuh komunitas, Terong Gosong, di laman penggemar Facebook.

Menurut Gus Yahya, laman Facebook itu dimaksudkan sebagai wahana silaturahmi bagi para pengguna Facebook dari kalangan pesantren. Agenda utama dari komunitas ini adalah bertukar humor dan pengalaman lucu berkaitan dengan dunia pesantren.

Meski pada kata pengantar Gus Yahya menyebut buku ini hanya mengajak tertawa saja, namun ada banyak sekali hikmah, pelajaran, dan sejarah yang dapat dipetik dari buku ini. Konten dari buku ini persis dengan cerita-cerita lucu yang tak asing lagi bagi kaum sarungan. Biasanya, kisah-kisah humor di kalangan santri turun menurun diceritakan melalui budaya tutur yang sudah mengakar di dunia pesantren.

Melalui buku ini, Gus Yahya berupaya melestarikan kisah-kisah jenaka yang sudah bertahun-tahun tumbuh subur secara alami di kalangan santri.

Dengan cerdas buku ini hadir di tengah ketegangan Warga Negera Indonesia (WNI) yang belakangan kerapkali mengernyitkan dahi, merengut, bahkan sulit untuk sekadar tertawa. Sesuai dengan tagline komunitas Terong Gosong, yakni ketawa secara serius, buku ini berisikan cerita pendek bernuansa humor yang akan memantik ledekan tawa yang serius, ketawa yang paripurna bukan ketawa dengan main-main.

Salah satu kelebihan buku ini yakni sanad dari kisah-kisah jenaka yang disajikan mutasil atau bersambung langsung dengan tokoh yang ada dalam cerita. Hal demikian tentu saja tidak mengejutkan, dalam tradisi NU sanad merupakan barang istimewa yang sangat berharga. Dengan sanad yang jelas, konten dari buku ini mampu mengajak pembaca meresapi, mengikutsertakan emosi saat membaca, dan tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Jamak diketahui, NU adalah gudangnya cerita lucu atau guyonan. Setiap generasi NU dari masa ke masa selalu membawa kisah humor segar. Mulai dari zaman pendiri NU, Mbah Hasyim Asy’ari, hingga turun-menurun ke cucunya, Gus Dur, dan tentu saja diwarisi oleh para santri mutakhir.

Dalam buku ini, Gus Yahya banyak mengkisahkan cerita humor sesepuh NU, terlebih Gus Dur, baik saat beliau menjadi presiden maupun ketika sudah lagi tak menjabat. Cerita-cerita mengenai Gus Dur ia kisahkan dengan detail, gamblang tanpa aling-aling. Tidak hanya sekadar bercerita, Gus Yahya seringkali terlibat, menjadi saksi dalam kisah Gus Dur yang mengundang decak kagum, dan tentu tidak dapat disangka-sangka oleh siapa pun.

Melalui buku ini, kita dapat mengambil pelajaran dan hikmah dari kisah heroik para sesepuh NU seperti Mbah Hasyim, Mbah Wahab, Mbah Bisri, Mbah Ma’shum, Gus Dur dan banyak Kiai yang lain. Para sesepuh NU itu tidak hanya luas ilmu agamanya, tetapi juga sangat rendah hati, ngemong umat, dan memanusiakan manusia.

Most Read

Artikel Terbaru

/