alexametrics
25.6 C
Kudus
Saturday, May 28, 2022

Jokowi: Industri Baja Sangat Penting Agar Tak Tergantung Impor

CILEGON – Hadirnya industri baja dinilai bisa mengurangi semakin banyaknya impor. Karena itulah, Presiden Joko Widodo memberikan perhatian terhadap industri baja. Apalagi, produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan industri-industri lain.

Hal itu disampaikan Jokowi saat meresmikan pabrik Hot Strip Mill 2 milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon Selasa (21/9).

“Industri baja sangat strategis. Kehadiran pabrik ini bisa mengurangi semakin banyak impor,” katanya.


Menurut dia, konsumsi baja dalam negeri sangat besar karena dipacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pembangunan infrastruktur di era Jokowi cukup masif. Industri pun membutuhkan baja. Misalnya, otomotif.

Dengan begitu, dalam lima tahun terakhir kebutuhan baja meningkat sampai 40 persen. “Kalau kita tahu konsumsi baja sangat besar, jangan dibiarkan ini dimasuki produk-produk dari luar,” tegasnya.

Diresmikannya Hot Strip Mill 2 di kompleks pabrik PT Krakatau Steel akan menghasilkan hot rolled coil (HRC) dengan kualitas premium. Sebab, Hot Strip Mill (HSM) 2 menggunakan teknologi modern dan terbaru.

“Hanya ada dua di dunia yang menggunakan sistem itu. Pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia,” ucapnya.

Jokowi yang telah melihat proses produksinya menyebutkan, saat ini pabrik itu memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun. Dia pun meminta produksinya terus ditingkatkan hingga mencapai 4 juta ton per tahun.

“Dengan beroperasinya pabrik ini, kita akan dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri,” imbuhnya.

Jika bisa mengurangi impor baja, negara mampu menghemat devisa sebesar Rp 29 triliun per tahun. Jokowi pun berpesan agar kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dengan produk impor.

Baca Juga :  Presiden Joko Widodo Bakal Hadiri National Day World Expo 2020 Dubai

“Saya yakin nanti menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan pasar global,” tuturnya.

Terkait restrukturisasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Menteri BUMN Erick Thohir menerangkan bahwa saat ini BUMN itu telah menyelesaikan dua di antara tiga tahapan yang harus dilakukan. Dengan begitu, performa perseroan semakin baik dan telah memberikan kontribusi sebesar Rp 800 miliar bagi negara.

“Manajemen jangan berpuas diri karena kita terus tingkatkan performa dari Krakatau Steel sendiri,” tegasnya.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim lebih detail menjelaskan produksi pabrik baru HSM 2. Silmy menyebutkan bahwa produksi pabrik tersebut akan meningkatkan kapasitas nasional.

Selain itu, kualitas premium yang dihasilkan akan meningkatkan daya saing produk baja Indonesia. “Pabrik ini lebih efisien memangkas biaya operasi 25 persen,” ujarnya.

Silmy membeberkan bahwa dengan teknologi yang dimiliki Krakatau Steel (KS), lembaran baja yang telah melalui proses reduksi ditipiskan dari ketebalan 30–50 milimeter menjadi 1,4–16 milimeter.

“Hasil produksi ini menjadi yang paling tipis di Indonesia,” bebernya.

Lantas, siapa yang akan menjadi market produk tersebut? Silmy menjelaskan, lembaran baja yang diproduksi HSM 2 dapat digunakan industri otomotif premium dengan high specific strength. Tak hanya market domestik, pasar ekspor juga disebut akan menyumbangkan demand untuk produk tersebut.

“Jadi, dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri dalam negeri maupun ekspor,” ujar Silmy yang juga menjabat chairman The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA).

PROYEKSI KEBUTUHAN BAJA DALAM NEGERI

Tahun | Proyeksi Kebutuhan (Juta Ton)

2021 | 17,82

2022 | 19,00

2023 | 20,40

2024 | 21,83

 

CILEGON – Hadirnya industri baja dinilai bisa mengurangi semakin banyaknya impor. Karena itulah, Presiden Joko Widodo memberikan perhatian terhadap industri baja. Apalagi, produk yang dihasilkan sangat dibutuhkan dan dimanfaatkan industri-industri lain.

Hal itu disampaikan Jokowi saat meresmikan pabrik Hot Strip Mill 2 milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk di Cilegon Selasa (21/9).

“Industri baja sangat strategis. Kehadiran pabrik ini bisa mengurangi semakin banyak impor,” katanya.

Menurut dia, konsumsi baja dalam negeri sangat besar karena dipacu pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pembangunan infrastruktur di era Jokowi cukup masif. Industri pun membutuhkan baja. Misalnya, otomotif.

Dengan begitu, dalam lima tahun terakhir kebutuhan baja meningkat sampai 40 persen. “Kalau kita tahu konsumsi baja sangat besar, jangan dibiarkan ini dimasuki produk-produk dari luar,” tegasnya.

Diresmikannya Hot Strip Mill 2 di kompleks pabrik PT Krakatau Steel akan menghasilkan hot rolled coil (HRC) dengan kualitas premium. Sebab, Hot Strip Mill (HSM) 2 menggunakan teknologi modern dan terbaru.

“Hanya ada dua di dunia yang menggunakan sistem itu. Pertama di Amerika Serikat dan yang kedua di Indonesia,” ucapnya.

Jokowi yang telah melihat proses produksinya menyebutkan, saat ini pabrik itu memiliki kapasitas 1,5 juta ton per tahun. Dia pun meminta produksinya terus ditingkatkan hingga mencapai 4 juta ton per tahun.

“Dengan beroperasinya pabrik ini, kita akan dapat memenuhi kebutuhan baja dalam negeri,” imbuhnya.

Jika bisa mengurangi impor baja, negara mampu menghemat devisa sebesar Rp 29 triliun per tahun. Jokowi pun berpesan agar kualitas produk yang dihasilkan tidak kalah dengan produk impor.

Baca Juga :  Gandeng KBRI, BNI Buka Sentra Distribusi Produk UMKM di Jepang

“Saya yakin nanti menjadi komoditas yang mampu bersaing di pasar regional dan pasar global,” tuturnya.

Terkait restrukturisasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Menteri BUMN Erick Thohir menerangkan bahwa saat ini BUMN itu telah menyelesaikan dua di antara tiga tahapan yang harus dilakukan. Dengan begitu, performa perseroan semakin baik dan telah memberikan kontribusi sebesar Rp 800 miliar bagi negara.

“Manajemen jangan berpuas diri karena kita terus tingkatkan performa dari Krakatau Steel sendiri,” tegasnya.

Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Silmy Karim lebih detail menjelaskan produksi pabrik baru HSM 2. Silmy menyebutkan bahwa produksi pabrik tersebut akan meningkatkan kapasitas nasional.

Selain itu, kualitas premium yang dihasilkan akan meningkatkan daya saing produk baja Indonesia. “Pabrik ini lebih efisien memangkas biaya operasi 25 persen,” ujarnya.

Silmy membeberkan bahwa dengan teknologi yang dimiliki Krakatau Steel (KS), lembaran baja yang telah melalui proses reduksi ditipiskan dari ketebalan 30–50 milimeter menjadi 1,4–16 milimeter.

“Hasil produksi ini menjadi yang paling tipis di Indonesia,” bebernya.

Lantas, siapa yang akan menjadi market produk tersebut? Silmy menjelaskan, lembaran baja yang diproduksi HSM 2 dapat digunakan industri otomotif premium dengan high specific strength. Tak hanya market domestik, pasar ekspor juga disebut akan menyumbangkan demand untuk produk tersebut.

“Jadi, dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri dalam negeri maupun ekspor,” ujar Silmy yang juga menjabat chairman The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA).

PROYEKSI KEBUTUHAN BAJA DALAM NEGERI

Tahun | Proyeksi Kebutuhan (Juta Ton)

2021 | 17,82

2022 | 19,00

2023 | 20,40

2024 | 21,83

 

Most Read

Artikel Terbaru

/