alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Kemendag Prediksi Harga Kedelai Naik hingga Lebaran, Tempe Naik 20 Persen

SURABAYA – Setelah sempat mogok berproduksi, sejumlah pembuat tempe mulai kembali bekerja. Salah satunya terlihat di kawasan Kenjeran, Surabaya. Di sana, beberapa pembuat tempe mulai berproduksi meski harga bahan baku kedelai masih naik.

Abdul Kholiq, salah satunya. Dia merupakan produsen tempe di Jalan Tanah Merah III, Kenjeran. Selasa (22/2) pria itu mengolah 1,65 kuintal kedelai menjadi tempe. Proses produksi memerlukan waktu dua hari. Dengan begitu, kedelai baru bisa menjadi tempe dan dijual ke pasar Kamis (24/2).

 


Dengan jumlah bahan ini (1,65 kuintal kedelai, Red) saya bisa memproduksi 480 tempe’’ kata Kholiq.

Jumlah produksi itu, jelas dia, sama dengan sebelumnya. Yaitu, ketika harga kedelai masih normal. Berdasar data Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah dan Perdagangan Surabaya, harga kedelai memang masih melambung. Harga kedelai lokal berkisar Rp 11.000 per kilogram, sedangkan kedelai impor Rp 12.667 per kilogram. Padahal, mayoritas produsen tempe menggunakan bahan baku kedelai impor.

Meski harga kedelai naik, sampai sekarang Kholiq belum berencana untuk menaikkan harga jual tempe. Dia menjual tempe seharga Rp 4 ribu per buah. Hanya, agar tetap untung, dia melakukan modifikasi. Yaitu, ukuran tempe diperkecil. Sebelumnya, tempe hasil produksinya berukuran 30 x 10 cm. Nah, sekarang ukuran tempe dikurangi sekitar 2 sentimeter.

Keputusan itu sudah disetujui para pedagang tempe eceran di pasar. Yaitu, Pasar Tambahrejo dan Pasar Pogot. Jika menaikkan harga tempe, pihaknya khawatir memengaruhi jumlah pembelian di pasar. ’’Dibanding menaikkan harga, kami lebih memilih ukuran tempe dikecilkan,’’ sambung Kholiq.

Baca Juga :  Jadi Tersangka KPK, Azis Syamsudin Dituding Janjikan Suap Rp 4 Miliar

Pantauan Jawa Pos, hingga Selasa (22/2) tempe masih langka di pasar. Bahkan, mayoritas pedagang tempe belum berjualan. Meski begitu, masih ada segelintir yang bertahan. Rahma, 40, salah seorang pedagang tempe di Pasar Tambahrejo, mengakui, mogoknya para pembuat tempe membuat persediaan menjadi terbatas. Pasokan tempe pun tersendat.

Tapi, kata dia, ada sejumlah pedagang yang tetap berjualan seadanya. Tempe yang dijual pun adalah stok lama. Satu tempe dijual Rp 5 ribu. ’’Tempe yang dijual adalah stok. Tapi, kondisinya masih bagus sehingga bisa dijual,’’ ujar Rahma.

Kepala Bidang (Kabid) Distribusi Perdagangan Dindogkap Surabaya Devie Afrianto berharap pasokan tempe di pasar kembali normal. Jumat (18/2) lalu, kata dia, pemkot sudah bertemu dengan produsen tempe. Termasuk pembuat tahu. Para produsen mengatakan siap untuk tidak memperpanjang aksi mogok kerja. ’’Mungkin ini aksi solidaritas. Sebab, sebelumnya kan mereka bilang tidak mogok produksi,’’ kata Devie.

Dia berjanji bahwa dinkopdag akan melakukan pertemuan lagi dengan para produsen. Tujuannya, persoalan stok tempe yang langka di pasaran bisa kembali normal. Dinkopdag juga berencana untuk memfasilitasi akses produsen ke penyedia kedelai. Harga kedelai dipatok Rp 10 ribu per kilogram. ’’Kita akan ketemu lagi dengan para pembuat tahu dan tempe. Mudah-mudahan bisa teratasi,’’ ujar Devie.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, saat ini harga kedelai masih tinggi. Yaitu, Rp 10.500‒Rp 11.500 per kilogram. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kenaikan. Pada masa pandemi Covid-19, biaya pengiriman melambung tinggi dan terjadi inflasi. (Jawapos.com)

SURABAYA – Setelah sempat mogok berproduksi, sejumlah pembuat tempe mulai kembali bekerja. Salah satunya terlihat di kawasan Kenjeran, Surabaya. Di sana, beberapa pembuat tempe mulai berproduksi meski harga bahan baku kedelai masih naik.

Abdul Kholiq, salah satunya. Dia merupakan produsen tempe di Jalan Tanah Merah III, Kenjeran. Selasa (22/2) pria itu mengolah 1,65 kuintal kedelai menjadi tempe. Proses produksi memerlukan waktu dua hari. Dengan begitu, kedelai baru bisa menjadi tempe dan dijual ke pasar Kamis (24/2).

 

Dengan jumlah bahan ini (1,65 kuintal kedelai, Red) saya bisa memproduksi 480 tempe’’ kata Kholiq.

Jumlah produksi itu, jelas dia, sama dengan sebelumnya. Yaitu, ketika harga kedelai masih normal. Berdasar data Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah dan Perdagangan Surabaya, harga kedelai memang masih melambung. Harga kedelai lokal berkisar Rp 11.000 per kilogram, sedangkan kedelai impor Rp 12.667 per kilogram. Padahal, mayoritas produsen tempe menggunakan bahan baku kedelai impor.

Meski harga kedelai naik, sampai sekarang Kholiq belum berencana untuk menaikkan harga jual tempe. Dia menjual tempe seharga Rp 4 ribu per buah. Hanya, agar tetap untung, dia melakukan modifikasi. Yaitu, ukuran tempe diperkecil. Sebelumnya, tempe hasil produksinya berukuran 30 x 10 cm. Nah, sekarang ukuran tempe dikurangi sekitar 2 sentimeter.

Keputusan itu sudah disetujui para pedagang tempe eceran di pasar. Yaitu, Pasar Tambahrejo dan Pasar Pogot. Jika menaikkan harga tempe, pihaknya khawatir memengaruhi jumlah pembelian di pasar. ’’Dibanding menaikkan harga, kami lebih memilih ukuran tempe dikecilkan,’’ sambung Kholiq.

Baca Juga :  Mbak Rerie: Hari Ibu Momentum Tingkatkan Perjuangan Hak-Hak Perempuan

Pantauan Jawa Pos, hingga Selasa (22/2) tempe masih langka di pasar. Bahkan, mayoritas pedagang tempe belum berjualan. Meski begitu, masih ada segelintir yang bertahan. Rahma, 40, salah seorang pedagang tempe di Pasar Tambahrejo, mengakui, mogoknya para pembuat tempe membuat persediaan menjadi terbatas. Pasokan tempe pun tersendat.

Tapi, kata dia, ada sejumlah pedagang yang tetap berjualan seadanya. Tempe yang dijual pun adalah stok lama. Satu tempe dijual Rp 5 ribu. ’’Tempe yang dijual adalah stok. Tapi, kondisinya masih bagus sehingga bisa dijual,’’ ujar Rahma.

Kepala Bidang (Kabid) Distribusi Perdagangan Dindogkap Surabaya Devie Afrianto berharap pasokan tempe di pasar kembali normal. Jumat (18/2) lalu, kata dia, pemkot sudah bertemu dengan produsen tempe. Termasuk pembuat tahu. Para produsen mengatakan siap untuk tidak memperpanjang aksi mogok kerja. ’’Mungkin ini aksi solidaritas. Sebab, sebelumnya kan mereka bilang tidak mogok produksi,’’ kata Devie.

Dia berjanji bahwa dinkopdag akan melakukan pertemuan lagi dengan para produsen. Tujuannya, persoalan stok tempe yang langka di pasaran bisa kembali normal. Dinkopdag juga berencana untuk memfasilitasi akses produsen ke penyedia kedelai. Harga kedelai dipatok Rp 10 ribu per kilogram. ’’Kita akan ketemu lagi dengan para pembuat tahu dan tempe. Mudah-mudahan bisa teratasi,’’ ujar Devie.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Oke Nurwan mengatakan, saat ini harga kedelai masih tinggi. Yaitu, Rp 10.500‒Rp 11.500 per kilogram. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya kenaikan. Pada masa pandemi Covid-19, biaya pengiriman melambung tinggi dan terjadi inflasi. (Jawapos.com)

Most Read

Artikel Terbaru

/