alexametrics
30.2 C
Kudus
Tuesday, May 24, 2022

Kemendikbudristek Sebut Tidak Ada Toleransi untuk Kekerasan Seksual

JAKARTA – Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek), Nizam, mengatakan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang aman bukan menjadi ladang kekerasan seksual.

Menurutnya Perguruan Tinggi seharusnya menjadi tempat untuk mengembangkan diri dan kompetensi untuk kemajuan bangsa dan tidak ada tolerasi untuk kekerasan seksual.

“Perguruan tinggi harusnya menjadi tempat paling aman di dunia, untuk mengembangkan diri dan mengembangkan ragam potensi. Tidak hanya mahasiwa, dosen dan tenaga pendidik pun juga banyak mengalami,” jelas Nizam dalam acara daring, Senin (22/11).


Saat ini juga telah ada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (Permendikbudristek PPKS). Hal ini disinyalir dapat meminimalkan tindakan kekerasan seksual dalam kampus.

Baca Juga :  Airlangga: Koalisi Indonesia Bersatu Siap Lanjutkan Pembangunan Era Jokowi

“Jadi Permen ini lahir untuk dilakukan pencegahan. Pencegahan itu nomor 1 lewat pendidikan,” ucap Nizam.

Menurutnya segala bentuk tindak pelecehan seksual tidak ada batasnya, misalnya gurauan bagi seseorang itu mungkin sangat sensitif dan bisa menjadi beban psikologis, namun bagi pelaku menjadi hal lumrah.

“Colek-colek misalnya menjadi sesuatu yang lumrah, padahal itu adalah bagian dari sexual harassment,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya kekerasan seksual dapat memberikan dampak serius bagi korban. Selain menjadi minder dan tidak percaya diri, korban juga bisa saja memilih untuk keluar dari perguruan tinggi dan tidak kuliahnya lagi karena hal-hal tersebut.

“Kita harus melakukan pencegahan lewat pendidikan secara baik untuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan,” pungkas Nizam. (khim)

JAKARTA – Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi (Dirjen Diktiristek), Nizam, mengatakan bahwa kampus seharusnya menjadi tempat yang aman bukan menjadi ladang kekerasan seksual.

Menurutnya Perguruan Tinggi seharusnya menjadi tempat untuk mengembangkan diri dan kompetensi untuk kemajuan bangsa dan tidak ada tolerasi untuk kekerasan seksual.

“Perguruan tinggi harusnya menjadi tempat paling aman di dunia, untuk mengembangkan diri dan mengembangkan ragam potensi. Tidak hanya mahasiwa, dosen dan tenaga pendidik pun juga banyak mengalami,” jelas Nizam dalam acara daring, Senin (22/11).

Saat ini juga telah ada Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi (Permendikbudristek PPKS). Hal ini disinyalir dapat meminimalkan tindakan kekerasan seksual dalam kampus.

Baca Juga :  Rerie: Pekerjaan Rumah di Sektor Pendidikan Harus segera Dituntaskan

“Jadi Permen ini lahir untuk dilakukan pencegahan. Pencegahan itu nomor 1 lewat pendidikan,” ucap Nizam.

Menurutnya segala bentuk tindak pelecehan seksual tidak ada batasnya, misalnya gurauan bagi seseorang itu mungkin sangat sensitif dan bisa menjadi beban psikologis, namun bagi pelaku menjadi hal lumrah.

“Colek-colek misalnya menjadi sesuatu yang lumrah, padahal itu adalah bagian dari sexual harassment,” jelasnya.

Selain itu, menurutnya kekerasan seksual dapat memberikan dampak serius bagi korban. Selain menjadi minder dan tidak percaya diri, korban juga bisa saja memilih untuk keluar dari perguruan tinggi dan tidak kuliahnya lagi karena hal-hal tersebut.

“Kita harus melakukan pencegahan lewat pendidikan secara baik untuk mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan,” pungkas Nizam. (khim)

Most Read

Artikel Terbaru

/