alexametrics
25.3 C
Kudus
Sunday, August 14, 2022

Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe dan Tahu di Surabaya Ancam Mogok Kerja

JAKARTA – Perajin tempe dan tahu di Kota Surabaya akan melakukan demonstrasi dan mogok kerja selama tiga hari. Yakni pada Senin (21/2) hingga Rabu (23/2).

Hal itu dilakukan karena harga kedelai terus melambung di pasaran. Aksi mogok kerja dan demonstrasi itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 01/PPT/JATIM/II/2022. Isi surat itu adalah ajakan untuk melakukan mogok produksi.

Tarjuki, ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Surabaya membenarkan hal itu. Aksi tersebut dilakukan karena harga kedelai terus melambung. Dia mencatat harga kedelai per kilogram mencapai Rp 11.500.


Sebelumnya Rp 9.500/kg. Naik banget harganya. Tanggal 21 mogok produksi. (Aksi) ini sebagai bentuk sikap tegas. Kami mogok produksi sampai Rabu (23/2),” kata Tarjuki ketika dihubungi pada Jumat (18/2).

Aksi tersebut dimaksudkan supaya pemerintah memberikan perhatian pada para perajin. Sebab sejak seminggu lalu, tidak ada bantuan pemerintah untuk mengatasi tingginya harga kedelai.

Baca Juga :  Pejabat Kemendag Ini Jadi Tersangka Korupsi Minyak Goreng, Begini Kasusnya

”Harapannya pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun pihak terkait secepatnya menurunkan harga kedelai guna keberlangsungan usaha kami dan meringankan beban hidup kami pada masa serba sulit akibat pandemi ini,” ujar dia.

Abdul Ghofur, salah seorang perajin tempe di Kampugn Tempe, Tenggilis, Surabaya, mengatakan, tidak akan memproduksi tempe pada Senin (21/2). ”Kami gak produksi selama 3 hari, ikut mogok. Kecewa kok tiap tahun naik terus,” ujar Ghofur.

Ghofur menyebut, kondisi itu merupakan yang paling parah sejak 1998. Dia masih maklum bila kenaikan berkisar Rp 1.000 tiap kilogram.

”Tapi ini naiknya Rp 2.000 per kilogram. Ini yang paling parah sejak zaman krismon (krisis moneter) 1998,” keluh Ghofur.

Meski sempat mengakali ukuran tempe menjadi lebih kecil, hal itu tidak bisa terus dilakukan. ”Untungnya gak nutut (tidak sampai),” tutur Ghofur.

JAKARTA – Perajin tempe dan tahu di Kota Surabaya akan melakukan demonstrasi dan mogok kerja selama tiga hari. Yakni pada Senin (21/2) hingga Rabu (23/2).

Hal itu dilakukan karena harga kedelai terus melambung di pasaran. Aksi mogok kerja dan demonstrasi itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 01/PPT/JATIM/II/2022. Isi surat itu adalah ajakan untuk melakukan mogok produksi.

Tarjuki, ketua Paguyuban Perajin Tempe dan Tahu Surabaya membenarkan hal itu. Aksi tersebut dilakukan karena harga kedelai terus melambung. Dia mencatat harga kedelai per kilogram mencapai Rp 11.500.

Sebelumnya Rp 9.500/kg. Naik banget harganya. Tanggal 21 mogok produksi. (Aksi) ini sebagai bentuk sikap tegas. Kami mogok produksi sampai Rabu (23/2),” kata Tarjuki ketika dihubungi pada Jumat (18/2).

Aksi tersebut dimaksudkan supaya pemerintah memberikan perhatian pada para perajin. Sebab sejak seminggu lalu, tidak ada bantuan pemerintah untuk mengatasi tingginya harga kedelai.

Baca Juga :  Mendag: Expo Dubai Perluas Pasar Ekspor ke Timur Tengah

”Harapannya pemerintah daerah, pemerintah pusat, maupun pihak terkait secepatnya menurunkan harga kedelai guna keberlangsungan usaha kami dan meringankan beban hidup kami pada masa serba sulit akibat pandemi ini,” ujar dia.

Abdul Ghofur, salah seorang perajin tempe di Kampugn Tempe, Tenggilis, Surabaya, mengatakan, tidak akan memproduksi tempe pada Senin (21/2). ”Kami gak produksi selama 3 hari, ikut mogok. Kecewa kok tiap tahun naik terus,” ujar Ghofur.

Ghofur menyebut, kondisi itu merupakan yang paling parah sejak 1998. Dia masih maklum bila kenaikan berkisar Rp 1.000 tiap kilogram.

”Tapi ini naiknya Rp 2.000 per kilogram. Ini yang paling parah sejak zaman krismon (krisis moneter) 1998,” keluh Ghofur.

Meski sempat mengakali ukuran tempe menjadi lebih kecil, hal itu tidak bisa terus dilakukan. ”Untungnya gak nutut (tidak sampai),” tutur Ghofur.


Most Read

Artikel Terbaru

/