alexametrics
31.5 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Nilai Ekspor Indonesia Catat Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah

JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 menunjukkan performa meningkat dibanding bulan lalu. Sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) (15/9) lalu, nilai perdagangan Indonesia pada periode Agustus 2021 tercatat surplus USD 4,74 miliar. Melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020 atau surplus selama 16 bulan berturut-turut. Nilai surplus itu, bahkan rekor tertinggi sejak Desember 2006 senilai USD 4,64 miliar.

Performa surplus yang impresif itu, ditopang peningkatan ekspor Indonesia yang terakselerasi pada Agustus 2021 mencapai USD 21,42 miliar. Meningkat double digit senilai 20,95 persen (mtm) atau 64,10 persen (yoy). Nilai ekspor itu, sekaligus tercatat sebagai rekor tertinggi baru bagi ekspor Indonesia. Menembus rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah terjadi sebelumnya, Agustus 2011 senilai USD 18,60 miliar.

“Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut sejalan dengan pemulihan permintaan global. Ditunjukkan dengan terus meningkatnya volume ekspor dan harga komoditas andalan Indonesia seperti batubara 11,04 persen (mtm) dan CPO 6,85 persen (mtm),” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.


Peningkatan ekspor Indonesia juga mengonfirmasi perbaikan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia Agustus 2021 yang meningkat menjadi 43,7 dari sebelumnya berada di level 40,1 pada Juli. Level PMI Indonesia juga lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN, seperti Myanmar (36,5), Vietnam (40,2), dan Malaysia (43,4).

Baca Juga :  Menko Airlangga: Peningkatan Potensi Ekonomi Digital Dukung UMKM

Peningkatan ekspor terbesar Indonesia pada Agustus 2021 terjadi pada komoditi lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) senilai USD1.544,8 juta, bahan bakar mineral (HS 27) USD 573,2 juta, dan bijih logam (HS 26) USD 213,1 juta. Sedangkan negara tujuan ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan terbesar dibanding bulan sebelumnya, di antaranya Tiongkok (USD 1.212,2 juta), India (USD 759,1 juta), dan Jepang (USD 453,2 juta).

Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai USD16,68 miliar. Meningkat 10,35 persen (mtm) atau 55,26 persen (yoy). Mobilitas masyarakat yang mulai meningkat seiring dengan pelonggaran PPKM menjadi indikasi penyebab peningkatan.

“Kenaikan impor pada Agustus ditopang peningkatan impor barang modal 34,56 persen (yoy) dan bahan baku/penolong 59,59 persen (yoy). Menunjukkan peningkatan kapasitas produksi industri di Indonesia. Juga geliat ekonomi Indonesia yang terus pulih,” ungkap Airlangga.

Struktur impor Indonesia pada Agustus 2021 didominasi bahan baku/penolong yang mencapai 74,20 persen dari total impor. Disusul barang modal mencapai 14,47 persen dan barang konsumsi 11,33 persen. Struktur tersebut mengindikasikan perekonomian Indonesia yang produktif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar. Baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kembali. (dep1/fsr/lin)

JAKARTA – Neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2021 menunjukkan performa meningkat dibanding bulan lalu. Sesuai rilis Badan Pusat Statistik (BPS) (15/9) lalu, nilai perdagangan Indonesia pada periode Agustus 2021 tercatat surplus USD 4,74 miliar. Melanjutkan tren surplus sejak Mei 2020 atau surplus selama 16 bulan berturut-turut. Nilai surplus itu, bahkan rekor tertinggi sejak Desember 2006 senilai USD 4,64 miliar.

Performa surplus yang impresif itu, ditopang peningkatan ekspor Indonesia yang terakselerasi pada Agustus 2021 mencapai USD 21,42 miliar. Meningkat double digit senilai 20,95 persen (mtm) atau 64,10 persen (yoy). Nilai ekspor itu, sekaligus tercatat sebagai rekor tertinggi baru bagi ekspor Indonesia. Menembus rekor tertinggi sepanjang masa yang pernah terjadi sebelumnya, Agustus 2011 senilai USD 18,60 miliar.

“Pencapaian ini mengindikasikan pemulihan ekonomi Indonesia yang terus berlanjut sejalan dengan pemulihan permintaan global. Ditunjukkan dengan terus meningkatnya volume ekspor dan harga komoditas andalan Indonesia seperti batubara 11,04 persen (mtm) dan CPO 6,85 persen (mtm),” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Peningkatan ekspor Indonesia juga mengonfirmasi perbaikan purchasing managers’ index (PMI) manufaktur Indonesia Agustus 2021 yang meningkat menjadi 43,7 dari sebelumnya berada di level 40,1 pada Juli. Level PMI Indonesia juga lebih baik dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN, seperti Myanmar (36,5), Vietnam (40,2), dan Malaysia (43,4).

Baca Juga :  Cara Gubernur Ganjar Bangun Rumah Warga Miskin Dapat Perhatian Nasional

Peningkatan ekspor terbesar Indonesia pada Agustus 2021 terjadi pada komoditi lemak dan minyak hewan/nabati (HS 15) senilai USD1.544,8 juta, bahan bakar mineral (HS 27) USD 573,2 juta, dan bijih logam (HS 26) USD 213,1 juta. Sedangkan negara tujuan ekspor nonmigas yang mengalami peningkatan terbesar dibanding bulan sebelumnya, di antaranya Tiongkok (USD 1.212,2 juta), India (USD 759,1 juta), dan Jepang (USD 453,2 juta).

Sejalan dengan peningkatan ekspor, sisi impor Indonesia pada Agustus 2021 mencapai USD16,68 miliar. Meningkat 10,35 persen (mtm) atau 55,26 persen (yoy). Mobilitas masyarakat yang mulai meningkat seiring dengan pelonggaran PPKM menjadi indikasi penyebab peningkatan.

“Kenaikan impor pada Agustus ditopang peningkatan impor barang modal 34,56 persen (yoy) dan bahan baku/penolong 59,59 persen (yoy). Menunjukkan peningkatan kapasitas produksi industri di Indonesia. Juga geliat ekonomi Indonesia yang terus pulih,” ungkap Airlangga.

Struktur impor Indonesia pada Agustus 2021 didominasi bahan baku/penolong yang mencapai 74,20 persen dari total impor. Disusul barang modal mencapai 14,47 persen dan barang konsumsi 11,33 persen. Struktur tersebut mengindikasikan perekonomian Indonesia yang produktif melalui penciptaan nilai tambah yang lebih besar. Baik untuk kebutuhan domestik maupun untuk diekspor kembali. (dep1/fsr/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/