alexametrics
24.7 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Panen Kecaman, Bagaimana Sebaiknya Menyikapi Bebasnya Saipul Jamil?

JAKARTA – Pedangdut Saipul Jamil bebas pada 2 September lalu. Kebebasannya yang disambut meriah lengkap dengan kalungan bunga mendapat banyak kecaman. Masih segar dalam ingatan dua kasus yang menjeratnya, yakni pencabulan anak di bawah umur dan suap. Lima tahun tujuh bulan mendekam di penjara.

Usai bebas, Saipul juga masih dengan santainya melenggang di layar kaca sebagai bintang tamu acara Kopi Viral di Trans TV beberapa waktu lalu. Dalam salah satu segmen acara tersebut Saipul menceritakan kisahnya selama di dalam penjara.

Arist Merdeka Sirait, ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, mengatakan, hal itu melecehkan martabat korban. Bahkan, perilaku Saipul tersebut juga dinilai melecehkan pegiat perlindungan anak, termasuk KPAI sendiri.


”Karena peristiwa atau kejadian atau apa yang dia lakukan kekerasan seksual itu merupakan tindak pidana khusus yang tidak boleh diekspos. Ini seolah-olah dia baru pulang dari satu laga pertandingan, menang gitu,” cetus Arist dalam konferensi pers yang digelar di Pasar Rebo, Jakarta Timur, kemarin (6/9).

Sementara itu, Dewan Pengawas Komnas Perlindungan Anak Roostien Ilyas menegaskan bahwa hal tersebut bisa menyakiti korban. Bukan hanya korban Saipul, tapi juga korban pelecehan lainnya. Para korban bisa jadi enggan melaporkan tindak pencabulan karena menganggapnya tidak berguna.

”Karena apa? Enggak ada gunanya juga, toh mereka nanti juga bebas nyaman. Yang artis bisa menjadi artis (lagi). Nah, itu yang sangat mengerikan sekali,” jelasnya.

Beberapa selebriti dan filmmaker kompak mengecam dan memboikot tindakan Saipul tersebut. Salah satunya Angga Dwimas Sasongko, sutradara sekaligus founder Visinema Pictures. Angga menegaskan bahwa dirinya menghentikan semua pembicaraan kesepakatan distribusi film Nussa dan Keluarga Cemara dengan stasiun TV terkait. Sebab, stasiun TV tersebut tidak berbagi nilai yang sama dengan karyanya yang ramah anak.

”Pemberitahuan ini dimaksudkan untuk mendukung gerakan yang melawan dirayakannya pelaku kekerasan seksual pada anak di media-media. Serta menjadi kesadaran bersama pentingnya media-media yang menghargai anak-anak kita,” kata Angga dalam rangkaian cuitan di Twitter pada Minggu (5/9).

Baca Juga :  Peringati Hari Peduli Sampah, Bupati Blora Gagas Sampah Bisa Ditukar Beras

Setelah viral, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akhirnya merilis pernyataan. KPI meminta seluruh lembaga penyiaran televisi untuk tidak melakukan amplifikasi dan glorifikasi (membesar-besarkan dengan mengulang dan membuat kesan merayakan) terhadap bebasnya Saipul Jamil dalam isi siaran.

”Kami berharap seluruh lembaga penyiaran memahami sensitivitas dan etika kepatutan publik terhadap kasus yang telah menimpa yang bersangkutan dan sekaligus tidak membuka kembali trauma yang dialami korban,” tegas Wakil Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo sebagaimana dikutip dari website KPI.

Pernyataan KPI itu mendapat respons positif dari Ernest Prakasa, filmmaker Indonesia yang juga turut menyayangkan sikap Saipul dan stasiun TV terkait.

”Gue pribadi mendengar kabar ini gue mengapresiasi sekali langkah dari KPI yang sudah merespons fenomena ini dengan tegas. Jadi, kita tidak lagi harus menyaksikan glorifikasi terhadap yang bersangkutan di program-program hiburan TV swasta. Kecuali program berita yang terkait dengan status hukum,” kata Ernest di Instagram-nya kemarin.

Ernest mengungkapkan harapannya agar masyarakat Indonesia tidak menormalisasi, apalagi mengglorifikasi, pelaku. ”Juga tidak memelakukan seolah-olah pelaku adalah korban,” tuturnya kepada Jawa Pos sebagaimana dikutip radarkudus.jawapos.com.

Menanggapi banyaknya kritik yang masuk, Trans TV lewat akun resmi Instagram-nya menyampaikan permohonan maaf karena mengundang Saipul di acara Kopi Viral.

”Kami menerima kritik dan masukan terkait program Kopi Viral yang tayang di Trans TV pada hari Jumat, 3 September 2021. Kami mohon maaf atas tayangan tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus dan (kami) telah melakukan evaluasi menyeluruh untuk menjadi pembelajaran dan perbaikan ke depannya.”






Reporter: Antara News

JAKARTA – Pedangdut Saipul Jamil bebas pada 2 September lalu. Kebebasannya yang disambut meriah lengkap dengan kalungan bunga mendapat banyak kecaman. Masih segar dalam ingatan dua kasus yang menjeratnya, yakni pencabulan anak di bawah umur dan suap. Lima tahun tujuh bulan mendekam di penjara.

Usai bebas, Saipul juga masih dengan santainya melenggang di layar kaca sebagai bintang tamu acara Kopi Viral di Trans TV beberapa waktu lalu. Dalam salah satu segmen acara tersebut Saipul menceritakan kisahnya selama di dalam penjara.

Arist Merdeka Sirait, ketua Komisi Nasional (Komnas) Perlindungan Anak, mengatakan, hal itu melecehkan martabat korban. Bahkan, perilaku Saipul tersebut juga dinilai melecehkan pegiat perlindungan anak, termasuk KPAI sendiri.

”Karena peristiwa atau kejadian atau apa yang dia lakukan kekerasan seksual itu merupakan tindak pidana khusus yang tidak boleh diekspos. Ini seolah-olah dia baru pulang dari satu laga pertandingan, menang gitu,” cetus Arist dalam konferensi pers yang digelar di Pasar Rebo, Jakarta Timur, kemarin (6/9).

Sementara itu, Dewan Pengawas Komnas Perlindungan Anak Roostien Ilyas menegaskan bahwa hal tersebut bisa menyakiti korban. Bukan hanya korban Saipul, tapi juga korban pelecehan lainnya. Para korban bisa jadi enggan melaporkan tindak pencabulan karena menganggapnya tidak berguna.

”Karena apa? Enggak ada gunanya juga, toh mereka nanti juga bebas nyaman. Yang artis bisa menjadi artis (lagi). Nah, itu yang sangat mengerikan sekali,” jelasnya.

Beberapa selebriti dan filmmaker kompak mengecam dan memboikot tindakan Saipul tersebut. Salah satunya Angga Dwimas Sasongko, sutradara sekaligus founder Visinema Pictures. Angga menegaskan bahwa dirinya menghentikan semua pembicaraan kesepakatan distribusi film Nussa dan Keluarga Cemara dengan stasiun TV terkait. Sebab, stasiun TV tersebut tidak berbagi nilai yang sama dengan karyanya yang ramah anak.

”Pemberitahuan ini dimaksudkan untuk mendukung gerakan yang melawan dirayakannya pelaku kekerasan seksual pada anak di media-media. Serta menjadi kesadaran bersama pentingnya media-media yang menghargai anak-anak kita,” kata Angga dalam rangkaian cuitan di Twitter pada Minggu (5/9).

Baca Juga :  Mbak Rerie: Akselerasi Pencapaian Target Sektor Pendidikan Nasional Butuh Partisipasi Semua Pihak

Setelah viral, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akhirnya merilis pernyataan. KPI meminta seluruh lembaga penyiaran televisi untuk tidak melakukan amplifikasi dan glorifikasi (membesar-besarkan dengan mengulang dan membuat kesan merayakan) terhadap bebasnya Saipul Jamil dalam isi siaran.

”Kami berharap seluruh lembaga penyiaran memahami sensitivitas dan etika kepatutan publik terhadap kasus yang telah menimpa yang bersangkutan dan sekaligus tidak membuka kembali trauma yang dialami korban,” tegas Wakil Ketua KPI Pusat Mulyo Hadi Purnomo sebagaimana dikutip dari website KPI.

Pernyataan KPI itu mendapat respons positif dari Ernest Prakasa, filmmaker Indonesia yang juga turut menyayangkan sikap Saipul dan stasiun TV terkait.

”Gue pribadi mendengar kabar ini gue mengapresiasi sekali langkah dari KPI yang sudah merespons fenomena ini dengan tegas. Jadi, kita tidak lagi harus menyaksikan glorifikasi terhadap yang bersangkutan di program-program hiburan TV swasta. Kecuali program berita yang terkait dengan status hukum,” kata Ernest di Instagram-nya kemarin.

Ernest mengungkapkan harapannya agar masyarakat Indonesia tidak menormalisasi, apalagi mengglorifikasi, pelaku. ”Juga tidak memelakukan seolah-olah pelaku adalah korban,” tuturnya kepada Jawa Pos sebagaimana dikutip radarkudus.jawapos.com.

Menanggapi banyaknya kritik yang masuk, Trans TV lewat akun resmi Instagram-nya menyampaikan permohonan maaf karena mengundang Saipul di acara Kopi Viral.

”Kami menerima kritik dan masukan terkait program Kopi Viral yang tayang di Trans TV pada hari Jumat, 3 September 2021. Kami mohon maaf atas tayangan tersebut. Hal ini menjadi perhatian khusus dan (kami) telah melakukan evaluasi menyeluruh untuk menjadi pembelajaran dan perbaikan ke depannya.”






Reporter: Antara News

Most Read

Artikel Terbaru

/