alexametrics
26.3 C
Kudus
Thursday, May 19, 2022

Polda Jawa Barat Amankan 7 Tersangka Penimbun 25 Liter BBM di Tasikmalaya

TASIKMALAYA – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat mengungkap kasus penimbunan 25 ribu liter bahan bakar minyak (BBM) berjenis Bio Solar bersubsidi. Penimbunan itu diduga dilakukan di Tasikmalaya dan Indramayu untuk dijual ke industri dengan harga nonsubsidi.

Kabidhumas Polda Jawa Barat Kombespol Ibrahim Tompo mengatakan, ada tujuh tersangka yang ditangkap berinisial TS, DS, KS, ZX, dan SN dari TKP di Tasikmalaya. Selanjutnya SD dan WW dari TKP di Indramayu.

”Jadi modus operandinya melakukan pembelian menggunakan truk tangki yang dimodifikasi ke sejumlah SPBU, dan tangki disuplai ke tempat penampungan dan dijual ke industri,” kata Ibrahim seperti dilansir dari Antara di Polda Jawa Barat, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/4).


Dalam satu hari, Ibrahim menyebut, sejumlah tersangka bisa mendapat 1.000 hingga 2.000 liter solar. Kemudian ditampung ke penampungan.

Dari pengakuan tersangka, lanjut Ibrahim, mereka telah menjalankan bisnis ilegal tersebut sejak empat bulan lalu. Harga solar yang telah disubsidi pemerintah yakni Rp 5.150 per liter. Lalu mereka diduga menjual ke sejumlah pihak dengan harga Rp 9.000 per liter.

”Sehingga ada selisih Rp 3.850 per liter yang menjadi keuntungan tersangka,” ujar Ibrahim.

Dengan barang bukti solar yang disita dan barang bukti transaksi penjualan, mereka diduga telah meraup keuntungan Rp 465 juta lebih dari dua TKP tersebut.

Baca Juga :  Berkinerja Positif, Mendag Lutfi Raih Penghargaan Most Popular Leader

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat Kombespol Arief Rahman mengatakan, aksi penimbunan dan penyalahgunaan BBM solar itu merupakan fenomena gunung es. Pasalnya, kata dia, diduga masih banyak pelaku serupa yang melancarkan aksi pidana tersebut.

”Masih banyak sindikat yang belum kita tangkap, ini adalah puncak gunung es,” kata Arief.

Kasus itu, kata dia, terungkap bermula dari penemuan dua truk tangki bermuatan 8.000 liter yang berkamuflase serupa dengan truk tangki legal pada 7 April. ”Tapi dia berasal dari pangkalan yang bentuknya adalah bilik, diduga kuat ini adalah penyalahgunaan, ternyata betul,” papar Arief.

Kemudian pihaknya terus melakukan penelusuran dan penyelidikan ke tempat-tempat lain hingga dapat mengamankan tujuh tersangka tersebut. ”Jadi adanya keuntungan itu menjadi daya tarik para tersangka untuk melakukan tindakan ilegal ini,” ucap Arief.

Para tersangka dijerat dengan pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak Bumi dan Gas sebagaimana diubah UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan pasal 55 KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda sebesar Rp 60 miliar.

”Kita akan terus mengembangkan kasus ini mulai dari SPBU hingga ke end user (industri) yang diduga menerima solar ini,” kata Arief. (Jawapos.com)

TASIKMALAYA – Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat mengungkap kasus penimbunan 25 ribu liter bahan bakar minyak (BBM) berjenis Bio Solar bersubsidi. Penimbunan itu diduga dilakukan di Tasikmalaya dan Indramayu untuk dijual ke industri dengan harga nonsubsidi.

Kabidhumas Polda Jawa Barat Kombespol Ibrahim Tompo mengatakan, ada tujuh tersangka yang ditangkap berinisial TS, DS, KS, ZX, dan SN dari TKP di Tasikmalaya. Selanjutnya SD dan WW dari TKP di Indramayu.

”Jadi modus operandinya melakukan pembelian menggunakan truk tangki yang dimodifikasi ke sejumlah SPBU, dan tangki disuplai ke tempat penampungan dan dijual ke industri,” kata Ibrahim seperti dilansir dari Antara di Polda Jawa Barat, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (13/4).

Dalam satu hari, Ibrahim menyebut, sejumlah tersangka bisa mendapat 1.000 hingga 2.000 liter solar. Kemudian ditampung ke penampungan.

Dari pengakuan tersangka, lanjut Ibrahim, mereka telah menjalankan bisnis ilegal tersebut sejak empat bulan lalu. Harga solar yang telah disubsidi pemerintah yakni Rp 5.150 per liter. Lalu mereka diduga menjual ke sejumlah pihak dengan harga Rp 9.000 per liter.

”Sehingga ada selisih Rp 3.850 per liter yang menjadi keuntungan tersangka,” ujar Ibrahim.

Dengan barang bukti solar yang disita dan barang bukti transaksi penjualan, mereka diduga telah meraup keuntungan Rp 465 juta lebih dari dua TKP tersebut.

Baca Juga :  Airlangga Beri Kemudahan Santri Ponpes Suryalaya Jadi Entrepreneur

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jawa Barat Kombespol Arief Rahman mengatakan, aksi penimbunan dan penyalahgunaan BBM solar itu merupakan fenomena gunung es. Pasalnya, kata dia, diduga masih banyak pelaku serupa yang melancarkan aksi pidana tersebut.

”Masih banyak sindikat yang belum kita tangkap, ini adalah puncak gunung es,” kata Arief.

Kasus itu, kata dia, terungkap bermula dari penemuan dua truk tangki bermuatan 8.000 liter yang berkamuflase serupa dengan truk tangki legal pada 7 April. ”Tapi dia berasal dari pangkalan yang bentuknya adalah bilik, diduga kuat ini adalah penyalahgunaan, ternyata betul,” papar Arief.

Kemudian pihaknya terus melakukan penelusuran dan penyelidikan ke tempat-tempat lain hingga dapat mengamankan tujuh tersangka tersebut. ”Jadi adanya keuntungan itu menjadi daya tarik para tersangka untuk melakukan tindakan ilegal ini,” ucap Arief.

Para tersangka dijerat dengan pasal 55 UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak Bumi dan Gas sebagaimana diubah UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja dan pasal 55 KUHP. Mereka terancam hukuman maksimal enam tahun penjara dan denda sebesar Rp 60 miliar.

”Kita akan terus mengembangkan kasus ini mulai dari SPBU hingga ke end user (industri) yang diduga menerima solar ini,” kata Arief. (Jawapos.com)

Most Read

Artikel Terbaru

/