alexametrics
24.1 C
Kudus
Wednesday, July 6, 2022

Vaksin Merah Putih Bakal Mulai Diproduksi Massal Agustus 2022

JAKARTA – PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia bersama Universitas Airlangga berharap dapat memproduksi vaksin merah putih secara massal pada Agustus 2022.

“Mulai Agustus (2022) kita mulai rilis produk secara masal,” ujar Direktur Utama PT Biotis Pharmaceuticals F.X. Sudirman di kantor MUI Jakarta, Kamis (10/2).

Sudirman mengatakan, uji praklinik vaksin Merah Putih menunjukkan efisiensi tinggi. Saat ini tengah dilakukan uji klinik tahap pertama untuk memeriksa keamanan dan manfaat vaksin tersebut.


Tahap pertama uji klinis menyasar 90 orang. Sementara pada fase kedua akan menyasar sekitar 400 orang untuk imunogenitas vaksin. Kemudian, uji klinik tahap ketiga untuk menguji efikasi vaksin akan melibatkan sekitar 3.000 orang.

Pada tahap ketiga ini juga akan diketahui apakah vaksin dapat digunakan sebagai vaksin penguat maupun vaksin primer.

“Terkait dengan penggunaan, pemerintah mengalokasikan vaksin Merah Putih untuk beberapa target dan dapat memenuhi vaksin primer dan vaksin booster, baik pada dewasa, remaja, dan anak-anak,” papar dia.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksin Merah Putih direncanakan dapat digunakan untuk vaksin donasi internasional dengan tujuan ke beberapa negara di Benua Afrika.

Baca Juga :  Vaksinasi Door to Door Mulai Dilakukan di Klaten

“Karena penetrasi distribusi vaksin di Afrika agak lambat. Banyak donasi vaksin berbentuk Moderna dan Pfizer yang membutuhkan logistik dengan suhu yang cukup tinggi, minus 25 hingga minus 28 derajat Celsius,” ujar menkes.

Dia menegaskan, Presiden Jokowi telah setuju menggunakan vaksin Merah Putih sebagai donasi Indonesia untuk negara-negara di luar negeri. “Jadi, tak hanya dipakai secara lokal di Indonesia saja, tapi juga internasional,” ucap dia.

Kendati demikian, yang dibutuhkan saat ini adalah proses registrasi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk uji klinis dan booster. Selanjutnya, registrasi tersebut juga dibutuhkan untuk bisa digunakan sebagai donasi ke Afrika.

“Harus dipastikan kelas vaksin ini di level internasional (tidak uji klinis saja), tapi juga melakukan publikasi riset internasional sebanyak mungkin tentang vaksin, sehingga bisa dilihat peneliti dunia,” tandas menkes. (Antara)






Reporter: Antara News

JAKARTA – PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia bersama Universitas Airlangga berharap dapat memproduksi vaksin merah putih secara massal pada Agustus 2022.

“Mulai Agustus (2022) kita mulai rilis produk secara masal,” ujar Direktur Utama PT Biotis Pharmaceuticals F.X. Sudirman di kantor MUI Jakarta, Kamis (10/2).

Sudirman mengatakan, uji praklinik vaksin Merah Putih menunjukkan efisiensi tinggi. Saat ini tengah dilakukan uji klinik tahap pertama untuk memeriksa keamanan dan manfaat vaksin tersebut.

Tahap pertama uji klinis menyasar 90 orang. Sementara pada fase kedua akan menyasar sekitar 400 orang untuk imunogenitas vaksin. Kemudian, uji klinik tahap ketiga untuk menguji efikasi vaksin akan melibatkan sekitar 3.000 orang.

Pada tahap ketiga ini juga akan diketahui apakah vaksin dapat digunakan sebagai vaksin penguat maupun vaksin primer.

“Terkait dengan penggunaan, pemerintah mengalokasikan vaksin Merah Putih untuk beberapa target dan dapat memenuhi vaksin primer dan vaksin booster, baik pada dewasa, remaja, dan anak-anak,” papar dia.

Sementara itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, vaksin Merah Putih direncanakan dapat digunakan untuk vaksin donasi internasional dengan tujuan ke beberapa negara di Benua Afrika.

Baca Juga :  Resmi! Menteri Agama Lantik Abdurrohman Kasdi sebagai Rektor IAIN Kudus Periode 2022-2026

“Karena penetrasi distribusi vaksin di Afrika agak lambat. Banyak donasi vaksin berbentuk Moderna dan Pfizer yang membutuhkan logistik dengan suhu yang cukup tinggi, minus 25 hingga minus 28 derajat Celsius,” ujar menkes.

Dia menegaskan, Presiden Jokowi telah setuju menggunakan vaksin Merah Putih sebagai donasi Indonesia untuk negara-negara di luar negeri. “Jadi, tak hanya dipakai secara lokal di Indonesia saja, tapi juga internasional,” ucap dia.

Kendati demikian, yang dibutuhkan saat ini adalah proses registrasi di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk uji klinis dan booster. Selanjutnya, registrasi tersebut juga dibutuhkan untuk bisa digunakan sebagai donasi ke Afrika.

“Harus dipastikan kelas vaksin ini di level internasional (tidak uji klinis saja), tapi juga melakukan publikasi riset internasional sebanyak mungkin tentang vaksin, sehingga bisa dilihat peneliti dunia,” tandas menkes. (Antara)






Reporter: Antara News

Most Read

Artikel Terbaru

/