alexametrics
31.6 C
Kudus
Friday, May 13, 2022

Angka Stunting di Grobogan Masuk Urutan Terendah se-Jateng, Ini Sebabnya

GROBOGAN – Sempat merah dan menduduki urutan tertinggi kedua pada 2018, kini Grobogan menjadi satu-satunya kabupaten di Jawa Tengah yang berstatus biru. Memiliki angka stunting di bawah prevelansi 10 persen dan menduduki urutan terendah.

Kabid Pemsosbud Bappeda Grobogan Fandyasih Bowo Leksono mengatakan, berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Grobogan menjadi satu-satunya kabupaten di yang berstatus biru. Dengan prevelansi di bawah 10 persen, yakni di angka 9,6 persen.

Tercatat Jawa Tengah masih mempunyai 19 kabupaten dan kota dengan kategori kuning untuk kasus stunting (prevelansi 20 sampai 30 persen). Yakni, Wonosobo, Tegal, Brebes, Demak, Jepara, Pemalang, Banjarnegara, Magelang, Batang, Banyumas, Blora, Kota Semarang, Kendal, Boyolali, Pati, Kota Pekalongan, Temanggung, dan Kota Surakarta.


Kemudian ketegori hijau (angka stunting prevelani 10 sampai 20 persen) ada 15 kabupaten/kota, yakni Sukoharjo, Kabupaten Pekalongan, Sragen, Rembang, Cilacap, Kudus, Purbalingga, Semarang, Karanganyar, Kebumen, Klaten, Purworejo, Kota Salatiga, Wonogiri, dan Kota Magelang.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Wahyu Tri Haryadi mengatakan, penurunan itu berkat tahun lalu menurunkan petugas kesehatan dan enumerator untuk survei studi status gizi Indonesia (SSGI) selama dua tahap.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Avansa vs KAI di Grobogan, 3 Penumpang Tewas Seketika

Survei itu dilakukan secara random sampling di 16 kecamatan dan 19 desa. Setiap desa dipilih 10 rumah tangga, dengan usia balita 0-59 bulan. “Usia yang disurvei 0-5 tahun tepat saat dilaksanakan survei. Jadi jika ada yang lebih dari lima tahun tidak diikutkan,” ungkapnya.

Dari hasil survei tersebut, prevalensi angka kasus stunting yang semula 29,13 persen turun menjadi 9,6 persen. Turun sebanyak 19,53. Jumlah tersebut juga menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan terakhir kasus stunting se-Jateng.

Penurunan angka stunting juga didukung 30 puskesmas dengan berbagai program yang mereka jalankan sangat inovatif.  Kemudian menggalakkan 9 pesan pokok 1.000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

“Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita di Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang,” jelasnya. (int/mal/war)

 






Reporter: Intan Maylani Sabrina

GROBOGAN – Sempat merah dan menduduki urutan tertinggi kedua pada 2018, kini Grobogan menjadi satu-satunya kabupaten di Jawa Tengah yang berstatus biru. Memiliki angka stunting di bawah prevelansi 10 persen dan menduduki urutan terendah.

Kabid Pemsosbud Bappeda Grobogan Fandyasih Bowo Leksono mengatakan, berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, Grobogan menjadi satu-satunya kabupaten di yang berstatus biru. Dengan prevelansi di bawah 10 persen, yakni di angka 9,6 persen.

Tercatat Jawa Tengah masih mempunyai 19 kabupaten dan kota dengan kategori kuning untuk kasus stunting (prevelansi 20 sampai 30 persen). Yakni, Wonosobo, Tegal, Brebes, Demak, Jepara, Pemalang, Banjarnegara, Magelang, Batang, Banyumas, Blora, Kota Semarang, Kendal, Boyolali, Pati, Kota Pekalongan, Temanggung, dan Kota Surakarta.

Kemudian ketegori hijau (angka stunting prevelani 10 sampai 20 persen) ada 15 kabupaten/kota, yakni Sukoharjo, Kabupaten Pekalongan, Sragen, Rembang, Cilacap, Kudus, Purbalingga, Semarang, Karanganyar, Kebumen, Klaten, Purworejo, Kota Salatiga, Wonogiri, dan Kota Magelang.

Kepala Dinkes Grobogan Slamet Widodo melalui Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Wahyu Tri Haryadi mengatakan, penurunan itu berkat tahun lalu menurunkan petugas kesehatan dan enumerator untuk survei studi status gizi Indonesia (SSGI) selama dua tahap.

Baca Juga :  BRI Jadikan Percontohan Kelompok Wanita Tani Hidroponik di Bali

Survei itu dilakukan secara random sampling di 16 kecamatan dan 19 desa. Setiap desa dipilih 10 rumah tangga, dengan usia balita 0-59 bulan. “Usia yang disurvei 0-5 tahun tepat saat dilaksanakan survei. Jadi jika ada yang lebih dari lima tahun tidak diikutkan,” ungkapnya.

Dari hasil survei tersebut, prevalensi angka kasus stunting yang semula 29,13 persen turun menjadi 9,6 persen. Turun sebanyak 19,53. Jumlah tersebut juga menjadikan Kabupaten Grobogan diurutan terakhir kasus stunting se-Jateng.

Penurunan angka stunting juga didukung 30 puskesmas dengan berbagai program yang mereka jalankan sangat inovatif.  Kemudian menggalakkan 9 pesan pokok 1.000 hari pertama kehidupan, pemberian sirup zink sebanyak 549 buah ke bayi baru lahir di 30 puskesmas dengan indikasi panjang badan kurang dari 48 cm (laki-laki) dan kurang dari 47cm (perempuan) sampai umur 1 pekan.

“Kemudian pemberian obat cacing pada bumil trisemester 2 serta pemberian vitamin A pada balita di Februari dan Agustus. Ada pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebanyak 22.668 orang,” jelasnya. (int/mal/war)

 






Reporter: Intan Maylani Sabrina

Most Read

Artikel Terbaru

/