alexametrics
25.1 C
Kudus
Thursday, May 26, 2022

Terlibat Pemerasan, 10 WNA Asal Tiongkok-Vietnam Ditangkap

BATAM – Sebanyak 10 warna negara asing (WNA) asal Tiongkok dan Vietnam ditangkap di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Mereka terlibat aksi pemerasan menggunakan perantara video porno.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Teguh Widodo mengatakan mereka beraksi dari Batam. Tapi, korban yang disasar adalah orang-orang berduit di kampung halaman mereka di Tiongkok menggunakan perantara video porno.

”Mereka sejak tahun lalu menjalankan aksi,” kata Teguh dalam rilis kasus di Batam, kamis (6/1) kemarin.


Mereka ditangkap Rabu (5/1) siang oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri. Sembilan di antaranya laki-laki dan satu perempuan

Para pelaku beraksi sejak Agustus 2021 dari salah satu rumah di Perumahan Palazzo Garden, Batam Center, Batam. Seluruh korban mereka adalah warga Tiongkok.

Target komplotan itu, kata Teguh, bermacam-macam latar belakang pekerjaan. Namun, rata-rata targetnya mereka yang memiliki duit banyak. Sebelum menjalankan aksi, pelaku menampilkan video-video porno melalui aplikasi. Tujuannya, memancing para korban agar terbujuk melakukan kontak.

Orang-orang yang melakukan kontak itulah yang menjadi mangsa para pelaku. Mereka lalu melakukan video call porno. Namun, video call tersebut direkam para pelaku.

Baca Juga :  Curhat Pria Tak Lolos SKB CPNS karena Payudara Besar, Begini Respon BKN

Hasil rekaman itulah yang dijadikan alat untuk memeras para korban. Caranya, mengancam akan menyebarkan bahwa korbannya mengakses konten porno.

Teguh menjelaskan, 10 tersangka itu memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas melakukan profiling kepada korban di Tiongkok, ada juga yang menjadi model video call seks.

Ada lagi yang berperan mencari, menghubungi, dan merekam video seks korban. Lalu, mengancam dan memeras korban dengan menggunakan sistem elektronik aplikasi WeChat.

”Kasus ini kami limpahkan ke imigrasi,” ucap Teguh.

Kepala Bidang Teknologi Informasi (Kabid Infokim) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Batam Tessa Harumdila mengatakan, WNA itu sudah berkali-kali berbuat pidana tersebut. Karena itu, pihaknya akan lebih meningkatkan pengawasan.

Tessa menduga komplotan itu masuk saat pandemi melalui Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Setelah menjalani karantina, mereka menuju ke Batam.

”Mereka masuk melalui visa kunjungan. Atas pengungkapan ini, kami akan berkoordinasi dengan imigrasi pusat,” papar Tessa. (JPG/ska/c19/ttg)

BATAM – Sebanyak 10 warna negara asing (WNA) asal Tiongkok dan Vietnam ditangkap di Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Mereka terlibat aksi pemerasan menggunakan perantara video porno.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Kepri Kombes Teguh Widodo mengatakan mereka beraksi dari Batam. Tapi, korban yang disasar adalah orang-orang berduit di kampung halaman mereka di Tiongkok menggunakan perantara video porno.

”Mereka sejak tahun lalu menjalankan aksi,” kata Teguh dalam rilis kasus di Batam, kamis (6/1) kemarin.

Mereka ditangkap Rabu (5/1) siang oleh Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Kepri. Sembilan di antaranya laki-laki dan satu perempuan

Para pelaku beraksi sejak Agustus 2021 dari salah satu rumah di Perumahan Palazzo Garden, Batam Center, Batam. Seluruh korban mereka adalah warga Tiongkok.

Target komplotan itu, kata Teguh, bermacam-macam latar belakang pekerjaan. Namun, rata-rata targetnya mereka yang memiliki duit banyak. Sebelum menjalankan aksi, pelaku menampilkan video-video porno melalui aplikasi. Tujuannya, memancing para korban agar terbujuk melakukan kontak.

Orang-orang yang melakukan kontak itulah yang menjadi mangsa para pelaku. Mereka lalu melakukan video call porno. Namun, video call tersebut direkam para pelaku.

Baca Juga :  Antisipasi Omicron, WNA Asal 14 Negara Tidak Boleh Masuk Indonesia

Hasil rekaman itulah yang dijadikan alat untuk memeras para korban. Caranya, mengancam akan menyebarkan bahwa korbannya mengakses konten porno.

Teguh menjelaskan, 10 tersangka itu memiliki peran masing-masing. Ada yang bertugas melakukan profiling kepada korban di Tiongkok, ada juga yang menjadi model video call seks.

Ada lagi yang berperan mencari, menghubungi, dan merekam video seks korban. Lalu, mengancam dan memeras korban dengan menggunakan sistem elektronik aplikasi WeChat.

”Kasus ini kami limpahkan ke imigrasi,” ucap Teguh.

Kepala Bidang Teknologi Informasi (Kabid Infokim) Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Batam Tessa Harumdila mengatakan, WNA itu sudah berkali-kali berbuat pidana tersebut. Karena itu, pihaknya akan lebih meningkatkan pengawasan.

Tessa menduga komplotan itu masuk saat pandemi melalui Bandara Soekarno-Hatta (Soetta). Setelah menjalani karantina, mereka menuju ke Batam.

”Mereka masuk melalui visa kunjungan. Atas pengungkapan ini, kami akan berkoordinasi dengan imigrasi pusat,” papar Tessa. (JPG/ska/c19/ttg)

Most Read

Artikel Terbaru

/