alexametrics
29.9 C
Kudus
Sunday, July 24, 2022

Malas Mengerjakan Tugas, Siswa SD Negeri di Kota Bogor di Keluarkan dari Sekolah

BOGOR – Seorang siswa SD Negeri di Kota Bogor Dikeluarkan dari Sekolah karena Malas Mengerjakan Tugas. Hal itu dialami L (9). Siswa yang baru naik kelas empat tersebut, dikeluarkan dengan alasan yang tidak wajar.

Kepada Radar Bogor, Orang Tua L, Ranky Safitri menjelaskan, kejadian itu berawal dari pembagian rapor anaknya, yang dijadwalkan berbeda dengan siswa lainnya. Termasuk kakaknya, yang bersekolah di tempat yang sama.

Pembagian rapor kakak L, bersama anak didik lainnya dijadwalkan pada Jumat (24/6/2022).


Sementara L, dijadwalkan pada Senin (27/6/2022). Merasa ada yang janggal, Rangky sempat bertanya. Namun, wali kelas meminta Rangky tetap datang pada tanggal 27 Juni 2022.

Saat bertemu, Ranky pun kembali mempertanyakan langsung, perbedaan jadwal. “Saya ambil rapor kakaknya L, mampir ke wali kelas L dan bertanya lagi, kenapa jadwal L berbeda. Gurunya bilang nilainya bagus dan naik kelas,” beber Ranky.

Informasi itu yang masih dipegang Ranky, hingga bertemu dengan wali kelas L di hari Rabu (29/6/2022). Ranky meminta waktu pengambilan rapor diubah, dari Senin  ke Rabu (29/6/2022), karena mobilnya rusak saat berada di Cilegon. Ia bersama keluarga tidak bisa bertolak ke Bogor. “Rabu saya ke sekolah, langsung diarahkan ke ruang kepala sekolah. Di sana ada kepala sekolah dan wali kelas,” bebernya.

Dalam pertemuan itu, wali kelas dan kepala sekolah menyatakan, bahwa L tidak bisa lagi bersekolah di sana. Keputusan tersebut, katanya, sudah menjadi keputusan kepala sekolah dan dewan guru.

L diberhentikan karena malas mengerjakan tugas. Ranky menyebut, keputusan itu diambil, karena pihak sekolah khawatir, kejadian tersebut terulang di tingkat-tingkat selanjutnya. “Saya bilang, kok gak ada pemberitahuan sebelumnya, wali kelas juga gak komunikatif,” kata Ranky.

Ranky pun sempat memohon, agar sekolah mempertimbangkan. Meminta diberi keringanan. Karena ia khawatir, waktu sudah mepet mencari sekolah lain. Namun, pihak sekolah tetap menolak. Sehingga, Ranky pun terpaksa menerima keputusan itu.

Namun, ada beberapa kejanggalan yang dia dapati ketika mengurus administrasi untuk menentukan sekolah baru untuk anaknya. Sekolah yang akan ditempati anaknya meminta surat pindah dari sekolah yang lama. Setelah L dinyatakan lolos dari segala administrasi. Seperti wawancara, tes tulis dan psikotes.

Di hari yang sama, Ranky meminta surat pindah ke wali kelas L, di sekolah lama. Menurutnya, dalam proses tersebut, ia merasa dipersulit. “Dalam proses, seolah dibuat aku yang ingin anak aku pindah, bukan karena dikeluarkan,” ungkap Ranky.

Sampai pada hari Jumat (1/7/2022), Ranky ke sekolah meminta surat rekomendasi yang dia minta. Ranky kembali merasa aneh. Pasalnya, pihak sekolah mengeluarkan surat dengan berisikan pengajuan pindah, karena jarak sekolah. Bukan dengan alasan lalai mengerjakan tugas, tidak naik kelas, atau diberhentikan.

Baca Juga :  Satpol PP Keluarkan Susi Air dari Hanggar Bandara Malinau, Ini Penyebabnya

Saat mengurus administrasi di operator sekolah, lanjut Ranky, pihak operatur pun menyebut dirinya salah sangka. Karena, ada opsi lain selain dikeluarkan.

“Sementara kalau itu sebuah opsi, harusnya ditanyakan dulu ke saya, anak saya tidak naik kelas, atau mau naik kelas bersyarat. Ini kan saya gak dikasih pilihan. Langsung diberhentikan,” terang Ranky.

Ranky yang masih bingung, dengan keputusan tersebut, langsung mendatangi Dinas Pendidikan Kota Bogor. Pihak Disdik Kota Bogor pun, hanya bisa membuat laporan atas keluhan Ranky.  Saat ini, L kata dia, sudah diterima di sekolah yang baru.

Apa yang dia keluhkan karena ingin mengetahui kejelasan prosedur yang benar, terkait pemberhentian atau pengeluaran anak sekolah di sekolah negeri.

“Saya mengakui, saya pun lalai dalam membimbing anak, sampai beberapa tugas terlewat, tapi apakah harus seperti ini? apakah prosedurnya begini?,” cetus Ranky.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah enggan memberikan komentar terkait masalah tersebut. Di bagian lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi mengatakan, laporan terkait masalah tersebut, belum sampai kepadanya.

Ia menegaskan, belum bisa memberikan komentar apapun. Karena pihaknya belum mendapatkan kejelasan dari kedua belah pihak.

“Pandangan saya, gak mungkin juga sekolah mengambil keputusan sesukanya. Nantilah, saya akan crosscheck agar lebih jelas, untuk kedepannya,” singkat Hanafi kepada Radar Bogor, Selasa (5/7/2022).

Sementara itu, dihubungi terpisah, Kasi Kurikulum SD Disdik Kota Bogor, Rini Mulyani membebarkan, bahwa laporan tersebut telah dia terima. Banyaknya agenda Disdik, membuat dirinya belum banyak berkoordinasi dengan Kabid SD dan Sekdis.

“Secepatnya saya koordinasi, dan crosscheck. Mudah-mudah bisa turun langsung ke sekolah bersangkutan. Atau memanggil pihak sekolah, nanti kami kabarkan lagi kelanjutannya,” tegas Rini.

Setali tiga uang, Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor, Deddy Karyadi pun mengatakan hal yang sama. Ia akan mencari tahu kejelasan dari berbagai pihak. Terutama pihak sekolah. Menurutnya, dari pengalaman yang pernah terjadi, memang jika ada masalah terhadap siswa, dan sekolah sudah memberi peringatan, pilihan akhir sekolah adalah dua.

Yaitu anak tidak naik kelas. Atau anak naik kelas dengan syarat dipindahkan. “Ada juga kasusnya seperti ini. Tapi kasus ini, kita tidak tahu bagaimana pertimbangan pihak sekolah, makanya wandik akan mencari tahu penjelasan pihak sekolah dulu,” tandas Deddy. (RADAR BOGOR)

 

BOGOR – Seorang siswa SD Negeri di Kota Bogor Dikeluarkan dari Sekolah karena Malas Mengerjakan Tugas. Hal itu dialami L (9). Siswa yang baru naik kelas empat tersebut, dikeluarkan dengan alasan yang tidak wajar.

Kepada Radar Bogor, Orang Tua L, Ranky Safitri menjelaskan, kejadian itu berawal dari pembagian rapor anaknya, yang dijadwalkan berbeda dengan siswa lainnya. Termasuk kakaknya, yang bersekolah di tempat yang sama.

Pembagian rapor kakak L, bersama anak didik lainnya dijadwalkan pada Jumat (24/6/2022).

Sementara L, dijadwalkan pada Senin (27/6/2022). Merasa ada yang janggal, Rangky sempat bertanya. Namun, wali kelas meminta Rangky tetap datang pada tanggal 27 Juni 2022.

Saat bertemu, Ranky pun kembali mempertanyakan langsung, perbedaan jadwal. “Saya ambil rapor kakaknya L, mampir ke wali kelas L dan bertanya lagi, kenapa jadwal L berbeda. Gurunya bilang nilainya bagus dan naik kelas,” beber Ranky.

Informasi itu yang masih dipegang Ranky, hingga bertemu dengan wali kelas L di hari Rabu (29/6/2022). Ranky meminta waktu pengambilan rapor diubah, dari Senin  ke Rabu (29/6/2022), karena mobilnya rusak saat berada di Cilegon. Ia bersama keluarga tidak bisa bertolak ke Bogor. “Rabu saya ke sekolah, langsung diarahkan ke ruang kepala sekolah. Di sana ada kepala sekolah dan wali kelas,” bebernya.

Dalam pertemuan itu, wali kelas dan kepala sekolah menyatakan, bahwa L tidak bisa lagi bersekolah di sana. Keputusan tersebut, katanya, sudah menjadi keputusan kepala sekolah dan dewan guru.

L diberhentikan karena malas mengerjakan tugas. Ranky menyebut, keputusan itu diambil, karena pihak sekolah khawatir, kejadian tersebut terulang di tingkat-tingkat selanjutnya. “Saya bilang, kok gak ada pemberitahuan sebelumnya, wali kelas juga gak komunikatif,” kata Ranky.

Ranky pun sempat memohon, agar sekolah mempertimbangkan. Meminta diberi keringanan. Karena ia khawatir, waktu sudah mepet mencari sekolah lain. Namun, pihak sekolah tetap menolak. Sehingga, Ranky pun terpaksa menerima keputusan itu.

Namun, ada beberapa kejanggalan yang dia dapati ketika mengurus administrasi untuk menentukan sekolah baru untuk anaknya. Sekolah yang akan ditempati anaknya meminta surat pindah dari sekolah yang lama. Setelah L dinyatakan lolos dari segala administrasi. Seperti wawancara, tes tulis dan psikotes.

Di hari yang sama, Ranky meminta surat pindah ke wali kelas L, di sekolah lama. Menurutnya, dalam proses tersebut, ia merasa dipersulit. “Dalam proses, seolah dibuat aku yang ingin anak aku pindah, bukan karena dikeluarkan,” ungkap Ranky.

Sampai pada hari Jumat (1/7/2022), Ranky ke sekolah meminta surat rekomendasi yang dia minta. Ranky kembali merasa aneh. Pasalnya, pihak sekolah mengeluarkan surat dengan berisikan pengajuan pindah, karena jarak sekolah. Bukan dengan alasan lalai mengerjakan tugas, tidak naik kelas, atau diberhentikan.

Baca Juga :  Bangsa Pembelajar dan Berakhlak Mampu Menjawab Tantangan Masa Depan

Saat mengurus administrasi di operator sekolah, lanjut Ranky, pihak operatur pun menyebut dirinya salah sangka. Karena, ada opsi lain selain dikeluarkan.

“Sementara kalau itu sebuah opsi, harusnya ditanyakan dulu ke saya, anak saya tidak naik kelas, atau mau naik kelas bersyarat. Ini kan saya gak dikasih pilihan. Langsung diberhentikan,” terang Ranky.

Ranky yang masih bingung, dengan keputusan tersebut, langsung mendatangi Dinas Pendidikan Kota Bogor. Pihak Disdik Kota Bogor pun, hanya bisa membuat laporan atas keluhan Ranky.  Saat ini, L kata dia, sudah diterima di sekolah yang baru.

Apa yang dia keluhkan karena ingin mengetahui kejelasan prosedur yang benar, terkait pemberhentian atau pengeluaran anak sekolah di sekolah negeri.

“Saya mengakui, saya pun lalai dalam membimbing anak, sampai beberapa tugas terlewat, tapi apakah harus seperti ini? apakah prosedurnya begini?,” cetus Ranky.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, pihak sekolah enggan memberikan komentar terkait masalah tersebut. Di bagian lain, Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Hanafi mengatakan, laporan terkait masalah tersebut, belum sampai kepadanya.

Ia menegaskan, belum bisa memberikan komentar apapun. Karena pihaknya belum mendapatkan kejelasan dari kedua belah pihak.

“Pandangan saya, gak mungkin juga sekolah mengambil keputusan sesukanya. Nantilah, saya akan crosscheck agar lebih jelas, untuk kedepannya,” singkat Hanafi kepada Radar Bogor, Selasa (5/7/2022).

Sementara itu, dihubungi terpisah, Kasi Kurikulum SD Disdik Kota Bogor, Rini Mulyani membebarkan, bahwa laporan tersebut telah dia terima. Banyaknya agenda Disdik, membuat dirinya belum banyak berkoordinasi dengan Kabid SD dan Sekdis.

“Secepatnya saya koordinasi, dan crosscheck. Mudah-mudah bisa turun langsung ke sekolah bersangkutan. Atau memanggil pihak sekolah, nanti kami kabarkan lagi kelanjutannya,” tegas Rini.

Setali tiga uang, Ketua Dewan Pendidikan Kota Bogor, Deddy Karyadi pun mengatakan hal yang sama. Ia akan mencari tahu kejelasan dari berbagai pihak. Terutama pihak sekolah. Menurutnya, dari pengalaman yang pernah terjadi, memang jika ada masalah terhadap siswa, dan sekolah sudah memberi peringatan, pilihan akhir sekolah adalah dua.

Yaitu anak tidak naik kelas. Atau anak naik kelas dengan syarat dipindahkan. “Ada juga kasusnya seperti ini. Tapi kasus ini, kita tidak tahu bagaimana pertimbangan pihak sekolah, makanya wandik akan mencari tahu penjelasan pihak sekolah dulu,” tandas Deddy. (RADAR BOGOR)

 


Most Read

Artikel Terbaru

/