alexametrics
22.9 C
Kudus
Monday, August 1, 2022

Rerie: Koordinasi Antar Institusi dan Pemda Kunci Percepatan Penanggulangan Stunting di Tanah Air

JAKARTA – Perlu koordinasi yang baik antar kementerian, lembaga dan pemerintah daerah dalam memobilisasi upaya percepatan penanggulangan stunting di tanah air.

“Alokasi dana untuk penanggulangan stunting secara nasional cukup besar, namun tersebar di sejumlah kementerian dan pemerintah daerah. Butuh koordinasi yang baik untuk memaksimalkan pemanfaatan dana itu untuk percepatan penanggulangan stunting,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/7).

Pertengahan Juni 2022, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan, dalam rangka menurunkan prevalensi angka stunting nasional, pemerintah menyiapkan anggaran hingga Rp44,8 triliun tahun ini.


Anggaran tersebut tersebar di 17 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan non fisik.

Kondisi tersebut, menurut Lestari, benar-benar membutuhkan koordinasi antar institusi yang baik, agar percepatan penanggulangan stunting benar-benar terwujud.

Sisi ketersediaan pembiayaan, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, merupakan salah satu instrumen untuk mempercepat upaya penanggulangan stunting di tanah air.

Baca Juga :  Beri Penghargaan KUR, Airlangga Sebut Empat Poin untuk Pengembangan UMKM

Selain itu, tambah Rerie, para pemangku kepentingan di sejumlah daerah diharapkan juga sudah memiliki pemetaan masalah yang dihadapi dalam penanganan stunting.

Karena, jelas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami kekurangan gizi yang berujung stunting.

Dokter spesialis jiwa di Kota Semarang meneliti bahwa kesehatan mental orang tua bisa berdampak pada kasus stunting.

Dari hasil penelitian di Kota Semarang terhadap 46.000 anak, kondisi stunting itu dipengaruhi kesehatan jiwa orangtua. Ketika seorang ibu stres, bisa berisiko pada 33% anak kemungkinan mengalami stunting ringan.

Jika yang stres ayahnya, kemungkinan anak mengalami stunting naik menjadi 37%. Bila ibu dan ayah stres, bisa naik sampai 40%.

Kompleksnya penyebab anak kekurangan gizi hingga berujung stunting, tegas Rerie, menuntut para pemangku kepentingan di pusat dan daerah memberi perhatian serius terhadap sejumlah upaya penanggulangan stunting di tanah air. (zen)

JAKARTA – Perlu koordinasi yang baik antar kementerian, lembaga dan pemerintah daerah dalam memobilisasi upaya percepatan penanggulangan stunting di tanah air.

“Alokasi dana untuk penanggulangan stunting secara nasional cukup besar, namun tersebar di sejumlah kementerian dan pemerintah daerah. Butuh koordinasi yang baik untuk memaksimalkan pemanfaatan dana itu untuk percepatan penanggulangan stunting,” kata Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/7).

Pertengahan Juni 2022, Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara mengungkapkan, dalam rangka menurunkan prevalensi angka stunting nasional, pemerintah menyiapkan anggaran hingga Rp44,8 triliun tahun ini.

Anggaran tersebut tersebar di 17 kementerian/lembaga dan pemerintah daerah kabupaten/kota dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik dan non fisik.

Kondisi tersebut, menurut Lestari, benar-benar membutuhkan koordinasi antar institusi yang baik, agar percepatan penanggulangan stunting benar-benar terwujud.

Sisi ketersediaan pembiayaan, ujar Rerie, sapaan akrab Lestari, merupakan salah satu instrumen untuk mempercepat upaya penanggulangan stunting di tanah air.

Baca Juga :  Mbak Rerie: Persiapkan Generasi Muda untuk Percepatan Transformasi Digital

Selain itu, tambah Rerie, para pemangku kepentingan di sejumlah daerah diharapkan juga sudah memiliki pemetaan masalah yang dihadapi dalam penanganan stunting.

Karena, jelas Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu, banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami kekurangan gizi yang berujung stunting.

Dokter spesialis jiwa di Kota Semarang meneliti bahwa kesehatan mental orang tua bisa berdampak pada kasus stunting.

Dari hasil penelitian di Kota Semarang terhadap 46.000 anak, kondisi stunting itu dipengaruhi kesehatan jiwa orangtua. Ketika seorang ibu stres, bisa berisiko pada 33% anak kemungkinan mengalami stunting ringan.

Jika yang stres ayahnya, kemungkinan anak mengalami stunting naik menjadi 37%. Bila ibu dan ayah stres, bisa naik sampai 40%.

Kompleksnya penyebab anak kekurangan gizi hingga berujung stunting, tegas Rerie, menuntut para pemangku kepentingan di pusat dan daerah memberi perhatian serius terhadap sejumlah upaya penanggulangan stunting di tanah air. (zen)


Most Read

Artikel Terbaru

/