alexametrics
31.8 C
Kudus
Thursday, May 12, 2022

Penanganan Klitih Insidental, Sosiolog UGM: Jangan Hanya Jadi Momentum

YOGYAKARTA – Sosiolog UGM Arie Sujito mendorong penanganan klitih atau aksi kejahatan jalanan tak hanya saat momentum. Dalam artian gencar saat kasus tinggi dan turun saat kasus melandai. Alhasil langkah antisipasi tidak berlangsung tuntas hingga ke akar permasalahan.

Strategi ini menurutnya sangatlah tak efektif. Terbukti eksistensi klitih kerap timbul tenggelam seiring waktu berjalan. Bukannya tuntas, justru hanya meredam sementara waktu. Untuk kemudian muncul di waktu yang berbeda.

“Jangan hanya ditangani saat peristiwa klitih sudah dianggap darurat. Itu tidak cukup, harusnya dilihat dari spektrum yang lebih luas,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (4/1).


Dia mengakui tindakan hukum oleh kepolisian terus berjalan. Berlaku jerat pidana umum apabila pelaku berusia 18 tahun keatas. Sementara untuk usia anak ditangani dengan skema Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sayangnya strategi hukum ini juga belum membuat jera. Terbukti dengan adanya catatan kriminal berulang atau residivis. Fakta di lapangan juga menyebutkan penanganan hukum untuk menangani klitih belum efektif.

“Artinya, memang tidak bisa diselesaikan secara hukum semata. Harus ada keterlibatan lintas sektoral,” katanya.

Baca Juga :  Tragis! Bus Pariwisata di Bantul Tabrak Tebing, 13 Orang Tewas di Tempat

Dia mendorong agar sektor pendidikan turut ambil peran. Menurutnya pelaku anak kurang mendapatkan pendidikan karakter. Sehingga memunculkan disorientasi dalam proses pencarian jati diri.

Celah ini klop saat bertemu dengan geng pelajar. Tak ada kendali, tindakan anak bisa mengarah pada aksi kenakalan. Semakin tak terkendali sehingga muncul sebagai aksi kriminalitas yang melanggar pidana.

“Bisa jadi klitih ini sebagai ekspresi pelarian karena mereka disorientasi. Lalu mengubah stigma anak nakal, jangan dijauh tapi dibimbing. Bisa jadi pelaku klitih usai anak tidak memperoleh rekognisi,” ujarnya.

Penanganan semakin komplek karena melibatkan lingkungan khususnya keluarga. Proses pencarian jati diri, lanjutnya, harus terakomodir. Tujuannya agar tak terjadi penyimpangan karena anak berjalan sendirian.

Pihak keluarga juga harus menjadi pilar dan payung bagi anak. Menghadirkan suasana yang harmonis dan komunikasi yang intens. Membuka pintu dialog dengan anak dengan tujuan memahami setiap permasalahan yang muncul.

“Keluarga ini ibarat dua sisi koin, ada yang bilang sumber masalah tapi juga bisa jadi solusi jikalau keluarga menjadi tempat mengurai masalah,” katanya. (dwi)

YOGYAKARTA – Sosiolog UGM Arie Sujito mendorong penanganan klitih atau aksi kejahatan jalanan tak hanya saat momentum. Dalam artian gencar saat kasus tinggi dan turun saat kasus melandai. Alhasil langkah antisipasi tidak berlangsung tuntas hingga ke akar permasalahan.

Strategi ini menurutnya sangatlah tak efektif. Terbukti eksistensi klitih kerap timbul tenggelam seiring waktu berjalan. Bukannya tuntas, justru hanya meredam sementara waktu. Untuk kemudian muncul di waktu yang berbeda.

“Jangan hanya ditangani saat peristiwa klitih sudah dianggap darurat. Itu tidak cukup, harusnya dilihat dari spektrum yang lebih luas,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (4/1).

Dia mengakui tindakan hukum oleh kepolisian terus berjalan. Berlaku jerat pidana umum apabila pelaku berusia 18 tahun keatas. Sementara untuk usia anak ditangani dengan skema Undang-Undang Perlindungan Anak.

Sayangnya strategi hukum ini juga belum membuat jera. Terbukti dengan adanya catatan kriminal berulang atau residivis. Fakta di lapangan juga menyebutkan penanganan hukum untuk menangani klitih belum efektif.

“Artinya, memang tidak bisa diselesaikan secara hukum semata. Harus ada keterlibatan lintas sektoral,” katanya.

Baca Juga :  Kecelakaan Maut Bus Pariwisata di Bantul, Begini Keterangan Saksi Mata

Dia mendorong agar sektor pendidikan turut ambil peran. Menurutnya pelaku anak kurang mendapatkan pendidikan karakter. Sehingga memunculkan disorientasi dalam proses pencarian jati diri.

Celah ini klop saat bertemu dengan geng pelajar. Tak ada kendali, tindakan anak bisa mengarah pada aksi kenakalan. Semakin tak terkendali sehingga muncul sebagai aksi kriminalitas yang melanggar pidana.

“Bisa jadi klitih ini sebagai ekspresi pelarian karena mereka disorientasi. Lalu mengubah stigma anak nakal, jangan dijauh tapi dibimbing. Bisa jadi pelaku klitih usai anak tidak memperoleh rekognisi,” ujarnya.

Penanganan semakin komplek karena melibatkan lingkungan khususnya keluarga. Proses pencarian jati diri, lanjutnya, harus terakomodir. Tujuannya agar tak terjadi penyimpangan karena anak berjalan sendirian.

Pihak keluarga juga harus menjadi pilar dan payung bagi anak. Menghadirkan suasana yang harmonis dan komunikasi yang intens. Membuka pintu dialog dengan anak dengan tujuan memahami setiap permasalahan yang muncul.

“Keluarga ini ibarat dua sisi koin, ada yang bilang sumber masalah tapi juga bisa jadi solusi jikalau keluarga menjadi tempat mengurai masalah,” katanya. (dwi)

Most Read

Artikel Terbaru

/