alexametrics
26.2 C
Kudus
Sunday, May 15, 2022

Naik Trans Jateng Bayar dengan Uang Pas, Bisa Pantau Pakai Aplikasi

Tim dari Provinsi Jateng dan Kabupaten Grobogan menguji coba BRT Trans Jateng. Ini jelang mengaspalnya armada di kawasan Kedungsepur koridor Terminal Penggaron Semarang-Terminal Gubug, Grobogan, pada 7 Oktober nanti.

 INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus

TRANSFORMASI moda transportasi terus ditunjukkan Kabupaten Grobogan. Salah satunya dengan adanya bus rapid transit (BRT) Trans Jateng. Moda tersebut digadang-gadang akan jadi primadona mobilitas karyawan di sejumlah perusahaan di sepanjang rute Kedungsepur koridor Terminal Penggaron Semarang-Terminal Gubug, Grobogan.


AYO NAIK TRANS JATENG: Penampakan halte di Terminal Gubug

AYO NAIK TRANS JATENG: Penampakan halte di Terminal Gubug (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Sebelum beroperasio, uji coba diperlakukan pada bus berukuran medium ini. Bus tersebut akan menampung 40 penumpang. Di dalamnya terdiri dari 21 kursi duduk. Dua di antaranya kursi prioritas. Untuk difabel, ibu hamil, dan lansia. Juga ada 19 tempat untuk berdiri dengan dilengkapi dengan 20 hand grip.

Namun, selama PPKM level II pandemi Covid-19 ini, hanya bisa menampung 75 persen penumpang. Terdiri dari 30 penumpang. Rinciannya, 21 duduk dan sembilan berdiri. Desain bus tersebut, terdapat 14 ikon tiga kabupaten/kota. Meliputi Semarang, Demak, dan Grobogan. Untuk ikon Grobogan, meliputi wisata Gua Lawa, Api Abadi Mrapen, Air Terjun Widuri, dan Bledug Kuwu. Kemudian Kabupaten Demak menampilkan Masjid Agung Demak dan Semarang menampilkan Kota Lama serta ikon Jawa Tengah.

Rute yang akan dilalui bus ini, dari Terminal Penggaron (Kota Semarang) ke halte Pasar Tegowanu, Terminal Gubug, Mintreng, Terminal Godong, dan SMAN 1 Godong. Ditambah 51 titik bus stop.

Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan mencoba naik bus ini. Saat masuk, pramujasa menertibkan supaya penumpang tetap jaga jarak. Kemudian melakukan penyemprotan handsanitizer. Di dalam bus, petugas memberikan tiket bagi masyarakat umum seharga Rp 4 ribu serta bagi pelajar, veteran, dan pekerja yang beridentitas hanya Rp 2 ribu. Penumpang harus membawa uang cash dan pas.

Di dalam bus terdapat running tex dan sounding sebagai pengingat penumpang. Di running tex itu, tertulis rute pemberhentian selanjutnya. Penumpang juga dimudahkan dengan aplikasi Si Anteng. Bisa mengecek rute dan waktu kedatangan bus. Jadi, bisa memantau kepastian pelayanan.

Sebelum beroperasi, Balai Trans Jateng berupaya mengoptimalkan layanan penumpang. Di 51 bus stop dan halte, setiap bus harus berhenti, meski tidak ada penumpang. ”Waktu berhenti di setiap bus stop dan halte sekitar dua detik sampai 50 detik. Tidak boleh terlalu lama. Tapi harus berhenti, meski saat di bus stop dan halte tak ada penumpang yang naik maupun turun,” kata Kepala Balai Trans Jateng Joko Setiawan melalui Kasi Operasional Trans Jateng Lambang Kurniawan.

Baca Juga :  Angka Investasi di Rembang Tembus hampir Rp 1 Triliun

Jarak antar-bus stop dan halte sekitar 500 meter hingga 1 kilometer. Tergantung kebutuhan masyarakat. ”Dipetakan sesuai lokasi permukiman, sekolahan, perkantoran, hingga pabrik,” jelasnya.

Diungkapkan, akan ada 14 armada bus yang beroperasi setiap harinya. Tujuh armada ke barat dan tujuh ke timur. Karena yang dilalui merupakan kawasan industri, antisipasi jam puncak saat karyawan pulang kerja, ada pemadatan jam pelayanan. Jika biasanya 15 menit headway, kini harus 5 sampai 7 menit agar tidak ada penumpukan penumpang.

Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yuliapasha menambahkan, evaluasi selama uji coba didapati ada beberapa titik landasan di Terminal Godong yang harus diperbaiki. Lantaran manuver di area tersebut masih susah, karena tehalang PKL di sisi timur.

”Baru dianggarkan di tahun depan senilai Rp 500 juta untuk landasan. Tahun selanjutnya baru fokus pembenahan kios dan parkir. Harapannya, calon penumpang bisa naik dan turun di dalam terminal. Kami optimalkan untuk park and ride,” imbuhnya.

Selain itu, landasan di Terminal Gubug juga belum sepenuhnya ditata. Kios-kios masih perlu perapian. ”Karena sudah ada Transjateng, harapannya Gubug bisa jadi simpul ekonomi baru. Bermanfaat untuk masyarakat,” ungkapnya.

Selama uji coba, juga ada pengecekan pelayanan pramujasa dalam optimalisasi layanan serta apa yang perlu disiapkan pemkab maupun pemprov.

”Untuk launching nanti pada 7 Oktober di pendapa (Grobogan). Ada penggratisan pelayanan selama lima hari,” imbuhnya. Tak hanya itu, dalam waktu dekat juga akan ada sarana pendukung dengan  dioperasionalkannya koridor feeder melalui rute enam kecamatan. Meliputi, Kecamatan Karangrayung, Godong, Gubug, Kedungjati, Tanggungharjo, dan Tegowanu.

Rencananya ada dua trayek. Pertama, trayek dari Terminal Gubug ke Tanggungharjo dan Tegowanu. Kedua, trayek dari Truko Kecamatan Karangrayung, Jeketro, Mlilir, hingga ke Terminal Gubug. (lin)

Tim dari Provinsi Jateng dan Kabupaten Grobogan menguji coba BRT Trans Jateng. Ini jelang mengaspalnya armada di kawasan Kedungsepur koridor Terminal Penggaron Semarang-Terminal Gubug, Grobogan, pada 7 Oktober nanti.

 INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus

TRANSFORMASI moda transportasi terus ditunjukkan Kabupaten Grobogan. Salah satunya dengan adanya bus rapid transit (BRT) Trans Jateng. Moda tersebut digadang-gadang akan jadi primadona mobilitas karyawan di sejumlah perusahaan di sepanjang rute Kedungsepur koridor Terminal Penggaron Semarang-Terminal Gubug, Grobogan.

AYO NAIK TRANS JATENG: Penampakan halte di Terminal Gubug

AYO NAIK TRANS JATENG: Penampakan halte di Terminal Gubug (INTAN MAYLANI SABRINA/RADAR KUDUS)

Sebelum beroperasio, uji coba diperlakukan pada bus berukuran medium ini. Bus tersebut akan menampung 40 penumpang. Di dalamnya terdiri dari 21 kursi duduk. Dua di antaranya kursi prioritas. Untuk difabel, ibu hamil, dan lansia. Juga ada 19 tempat untuk berdiri dengan dilengkapi dengan 20 hand grip.

Namun, selama PPKM level II pandemi Covid-19 ini, hanya bisa menampung 75 persen penumpang. Terdiri dari 30 penumpang. Rinciannya, 21 duduk dan sembilan berdiri. Desain bus tersebut, terdapat 14 ikon tiga kabupaten/kota. Meliputi Semarang, Demak, dan Grobogan. Untuk ikon Grobogan, meliputi wisata Gua Lawa, Api Abadi Mrapen, Air Terjun Widuri, dan Bledug Kuwu. Kemudian Kabupaten Demak menampilkan Masjid Agung Demak dan Semarang menampilkan Kota Lama serta ikon Jawa Tengah.

Rute yang akan dilalui bus ini, dari Terminal Penggaron (Kota Semarang) ke halte Pasar Tegowanu, Terminal Gubug, Mintreng, Terminal Godong, dan SMAN 1 Godong. Ditambah 51 titik bus stop.

Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan mencoba naik bus ini. Saat masuk, pramujasa menertibkan supaya penumpang tetap jaga jarak. Kemudian melakukan penyemprotan handsanitizer. Di dalam bus, petugas memberikan tiket bagi masyarakat umum seharga Rp 4 ribu serta bagi pelajar, veteran, dan pekerja yang beridentitas hanya Rp 2 ribu. Penumpang harus membawa uang cash dan pas.

Di dalam bus terdapat running tex dan sounding sebagai pengingat penumpang. Di running tex itu, tertulis rute pemberhentian selanjutnya. Penumpang juga dimudahkan dengan aplikasi Si Anteng. Bisa mengecek rute dan waktu kedatangan bus. Jadi, bisa memantau kepastian pelayanan.

Sebelum beroperasi, Balai Trans Jateng berupaya mengoptimalkan layanan penumpang. Di 51 bus stop dan halte, setiap bus harus berhenti, meski tidak ada penumpang. ”Waktu berhenti di setiap bus stop dan halte sekitar dua detik sampai 50 detik. Tidak boleh terlalu lama. Tapi harus berhenti, meski saat di bus stop dan halte tak ada penumpang yang naik maupun turun,” kata Kepala Balai Trans Jateng Joko Setiawan melalui Kasi Operasional Trans Jateng Lambang Kurniawan.

Baca Juga :  Dikucur Rp 2 M, Terminal Gubug Rampung Oktober

Jarak antar-bus stop dan halte sekitar 500 meter hingga 1 kilometer. Tergantung kebutuhan masyarakat. ”Dipetakan sesuai lokasi permukiman, sekolahan, perkantoran, hingga pabrik,” jelasnya.

Diungkapkan, akan ada 14 armada bus yang beroperasi setiap harinya. Tujuh armada ke barat dan tujuh ke timur. Karena yang dilalui merupakan kawasan industri, antisipasi jam puncak saat karyawan pulang kerja, ada pemadatan jam pelayanan. Jika biasanya 15 menit headway, kini harus 5 sampai 7 menit agar tidak ada penumpukan penumpang.

Kabid Prasarana Wilayah dan Ekonomi Bappeda Grobogan Candra Yuliapasha menambahkan, evaluasi selama uji coba didapati ada beberapa titik landasan di Terminal Godong yang harus diperbaiki. Lantaran manuver di area tersebut masih susah, karena tehalang PKL di sisi timur.

”Baru dianggarkan di tahun depan senilai Rp 500 juta untuk landasan. Tahun selanjutnya baru fokus pembenahan kios dan parkir. Harapannya, calon penumpang bisa naik dan turun di dalam terminal. Kami optimalkan untuk park and ride,” imbuhnya.

Selain itu, landasan di Terminal Gubug juga belum sepenuhnya ditata. Kios-kios masih perlu perapian. ”Karena sudah ada Transjateng, harapannya Gubug bisa jadi simpul ekonomi baru. Bermanfaat untuk masyarakat,” ungkapnya.

Selama uji coba, juga ada pengecekan pelayanan pramujasa dalam optimalisasi layanan serta apa yang perlu disiapkan pemkab maupun pemprov.

”Untuk launching nanti pada 7 Oktober di pendapa (Grobogan). Ada penggratisan pelayanan selama lima hari,” imbuhnya. Tak hanya itu, dalam waktu dekat juga akan ada sarana pendukung dengan  dioperasionalkannya koridor feeder melalui rute enam kecamatan. Meliputi, Kecamatan Karangrayung, Godong, Gubug, Kedungjati, Tanggungharjo, dan Tegowanu.

Rencananya ada dua trayek. Pertama, trayek dari Terminal Gubug ke Tanggungharjo dan Tegowanu. Kedua, trayek dari Truko Kecamatan Karangrayung, Jeketro, Mlilir, hingga ke Terminal Gubug. (lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/