25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Bikin Haru! Pemenang Utama “Mlaku Bareng Hartopo” Serahkan Hadiah untuk Pondok Pesantren

KUDUS – Pemenang grand prize Mlaku Bareng Pak Hartopo, Nurul Al Amin, 19, benar-benar menyerahkan hadiah berupa uang tunai untuk Pondok Pesantren (Ponpes) Raden Umar Sai’id tempat ia mengabdi. Sebagian uang tersebut diserahkan kepada pengurus di pondok setempat pada Selasa (27/9).

Uang itu untuk membangun ponpes yang masih dalam tahap penataan lahan. Biaya pembangunan masih butuh Rp 20 miliar.

Siang itu, 13.22 tampak beberapa santri sedang duduk di depan koperasi madrasah. Amin menghampiri Jawa Pos Radar Kudus setiba di depan MA Raden Umar Said.


“Saya di sini kesehariannya sebagai tenaga keamanan, juga sama membantu di koperasi madrasah, serta mengelola ponpes (keamanan juga),” kata Amin yang mengenakan koko warna biru, sarung hitam lengkap dengan peci.

Berbeda ketika saat ditemui pertama kali di alun-alun. Amin saat itu bergaya casual dengan baju olahraganya. Namun ketika ditemui, dia tampak berbeda karena benar-benar mencerminkan seorang santri.

Pengasuh Pondok Pesantren Raden Umar Sa’id M. Zaenal Anwar yang memberi tiket kepada Amin untuk pergi ke acara Mlaku Bareng. Saat itu pihaknya membeli tujuh tiket. Namun, karena kebanyakan guru masih sibuk dengan pekerjaan, maka Amin dan beberapa teman santri lainnya berangkat jalan sehat. Kata Zaenal, ada pesan yang disampaikan kepada Amin ketika hendak pergi.

“Saya sampaikan, berangkat saja, kali saja beruntung dapat hadiah, kalau dapat yang separuh untukmu, separuhnya lagi untuk pondok ya Min,” ungkapnya.

Saat Amin memenangkan hadiah, ia saat itu sedang di madrasah. Kabar Amin menang itu yang mengabarinya bukanlah dari Amin sendiri. Namun, dari orang-orang yang menghubungi lewat WhatsApp dan grup-grup, memberitahu jika Amin mendapatkan hadiah.

“Saat itu banyak kiriman video dan foto saat Amin diatas panggung bersama Bupati Kudus Hartopo, namun ada satu hal yang mengagumkan saya saat itu,” terang Zaenal yang juga sebagai Kepala Madrasah NU Raden Umar Sa’id.

Dia kagum saat melihat Amin dari video (kiriman), sedang berada di atas panggung, saat gugup hendak mau minum air, ia memilih duduk lebih dulu. Amin masih membawa akhlak (perilaku) santri meski sedang dalam suasana seperti itu.

Baca Juga :  Berhadiah Utama Rp 50 Juta, Mlaku Bareng Pak Hartopo Sediakan Empat Titik Pengumpulan Tiket Undian

Amin saat masih berada di Alun-alun Kudus memang tidak memberitahu keluarga maupun pihak madrasah atau ponpes. Karena saat itu kuotanya sedang habis. “Kalau ibu saya pas tahu itu justru nangis, nangis bahagia,” ujarnya.

Udara di sana pun cukup sejuk karena sangat berdampingan dengan alam pengunungan Muria. Bahkan gapura Terminal Wisata Colo pun dapat terlihat dari lokasi pembangunan pondok baru.

Saat itu, keadaan madrasah dan pondok tidak terlalu ramai. Beberapa santri ada yang sedang di ruang guru, ada juga yang menjaga koperasi, ada pula yang sedang membersihkan kamar mandi.

Pembangunan pondok baru berada dibelakang pondok lama. Karena belum ada akses jalan cepat menuju lokasi pondok baru, orang yang berkunjung harus keluar gang terlebih dahulu dan melalui jalanan terjal kurang lebih 75 meter dari madrasah.

DIBANGUN: Pembangunan Pondok Pesantren Raden Umar Sa’id di Desa Colo masih tahap penataan lahan saat ditengok pada Selasa (27/9). ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS

Kata Zaenal, Yayasan Raden Umar Sa’id sendiri memiliki MTs, MA, dan ponpes. MTs sudah berdiri sejak 1980, MA sejak 2006, sedang pondok yang sudah berdiri saat ini sudah ada sejak 2010 dengan luas 880 meter persegi. Untuk ponpes sendiri ada 146 santri terdiri dari siswa MTs, MA, maupun alumni.

Pondok pesantrennya sendiri memang berada di dalam madrasah itu sendiri (jadi satu). Letaknya berada di RT 4 RW 1 Desa Colo, Dawe, Kudus. Pondok itu pun memang khusus putra saja.

“Pembangunan pondok yang baru sendiri dimulai sejak awal 2022 lalu, kini masih dalam tahap penataan lahan, luas ponpes baru nanti, 2.300 meter persegi,” paparnya.

Pondok baru rencana dibangun tiga lantai (ada pusat keterampilan dan ruang belajar santri). Lalu juga ada masjid, asrama, dan lapangan olahraga yang dibangun di sekitar pondok baru itu. Pembangunan membutuhkan kurang lebih Rp 20 miliar.

Di pondok baru itu juga nantinya akan disediakan dua jurusan ilmu salaf dan tahfizul quran yang sekarang sudah disiapkan embrionya. Sedangkan untuk SDM-nya sendiri pihaknya sudah memiliki 27 ustaz.

”Karena visi kami sendiri ingin menjadikan ini (red ponpes) pusat pengembangan ilmu agama Islam  di kawasan Muria, sebagaimana mengembalikan fungsi semula, melanjutkan perjuanagan Sunan Kudus,” tambahnya. (ark/him)






Reporter: Arika Khoiriya

KUDUS – Pemenang grand prize Mlaku Bareng Pak Hartopo, Nurul Al Amin, 19, benar-benar menyerahkan hadiah berupa uang tunai untuk Pondok Pesantren (Ponpes) Raden Umar Sai’id tempat ia mengabdi. Sebagian uang tersebut diserahkan kepada pengurus di pondok setempat pada Selasa (27/9).

Uang itu untuk membangun ponpes yang masih dalam tahap penataan lahan. Biaya pembangunan masih butuh Rp 20 miliar.

Siang itu, 13.22 tampak beberapa santri sedang duduk di depan koperasi madrasah. Amin menghampiri Jawa Pos Radar Kudus setiba di depan MA Raden Umar Said.

“Saya di sini kesehariannya sebagai tenaga keamanan, juga sama membantu di koperasi madrasah, serta mengelola ponpes (keamanan juga),” kata Amin yang mengenakan koko warna biru, sarung hitam lengkap dengan peci.

Berbeda ketika saat ditemui pertama kali di alun-alun. Amin saat itu bergaya casual dengan baju olahraganya. Namun ketika ditemui, dia tampak berbeda karena benar-benar mencerminkan seorang santri.

Pengasuh Pondok Pesantren Raden Umar Sa’id M. Zaenal Anwar yang memberi tiket kepada Amin untuk pergi ke acara Mlaku Bareng. Saat itu pihaknya membeli tujuh tiket. Namun, karena kebanyakan guru masih sibuk dengan pekerjaan, maka Amin dan beberapa teman santri lainnya berangkat jalan sehat. Kata Zaenal, ada pesan yang disampaikan kepada Amin ketika hendak pergi.

“Saya sampaikan, berangkat saja, kali saja beruntung dapat hadiah, kalau dapat yang separuh untukmu, separuhnya lagi untuk pondok ya Min,” ungkapnya.

Saat Amin memenangkan hadiah, ia saat itu sedang di madrasah. Kabar Amin menang itu yang mengabarinya bukanlah dari Amin sendiri. Namun, dari orang-orang yang menghubungi lewat WhatsApp dan grup-grup, memberitahu jika Amin mendapatkan hadiah.

“Saat itu banyak kiriman video dan foto saat Amin diatas panggung bersama Bupati Kudus Hartopo, namun ada satu hal yang mengagumkan saya saat itu,” terang Zaenal yang juga sebagai Kepala Madrasah NU Raden Umar Sa’id.

Dia kagum saat melihat Amin dari video (kiriman), sedang berada di atas panggung, saat gugup hendak mau minum air, ia memilih duduk lebih dulu. Amin masih membawa akhlak (perilaku) santri meski sedang dalam suasana seperti itu.

Baca Juga :  Nekat Beroperasi, Delapan Pemandu Lagu di Kafe Kudus Diamankan Satpol PP

Amin saat masih berada di Alun-alun Kudus memang tidak memberitahu keluarga maupun pihak madrasah atau ponpes. Karena saat itu kuotanya sedang habis. “Kalau ibu saya pas tahu itu justru nangis, nangis bahagia,” ujarnya.

Udara di sana pun cukup sejuk karena sangat berdampingan dengan alam pengunungan Muria. Bahkan gapura Terminal Wisata Colo pun dapat terlihat dari lokasi pembangunan pondok baru.

Saat itu, keadaan madrasah dan pondok tidak terlalu ramai. Beberapa santri ada yang sedang di ruang guru, ada juga yang menjaga koperasi, ada pula yang sedang membersihkan kamar mandi.

Pembangunan pondok baru berada dibelakang pondok lama. Karena belum ada akses jalan cepat menuju lokasi pondok baru, orang yang berkunjung harus keluar gang terlebih dahulu dan melalui jalanan terjal kurang lebih 75 meter dari madrasah.

DIBANGUN: Pembangunan Pondok Pesantren Raden Umar Sa’id di Desa Colo masih tahap penataan lahan saat ditengok pada Selasa (27/9). ARIKA KHOIRIYA/RADAR KUDUS

Kata Zaenal, Yayasan Raden Umar Sa’id sendiri memiliki MTs, MA, dan ponpes. MTs sudah berdiri sejak 1980, MA sejak 2006, sedang pondok yang sudah berdiri saat ini sudah ada sejak 2010 dengan luas 880 meter persegi. Untuk ponpes sendiri ada 146 santri terdiri dari siswa MTs, MA, maupun alumni.

Pondok pesantrennya sendiri memang berada di dalam madrasah itu sendiri (jadi satu). Letaknya berada di RT 4 RW 1 Desa Colo, Dawe, Kudus. Pondok itu pun memang khusus putra saja.

“Pembangunan pondok yang baru sendiri dimulai sejak awal 2022 lalu, kini masih dalam tahap penataan lahan, luas ponpes baru nanti, 2.300 meter persegi,” paparnya.

Pondok baru rencana dibangun tiga lantai (ada pusat keterampilan dan ruang belajar santri). Lalu juga ada masjid, asrama, dan lapangan olahraga yang dibangun di sekitar pondok baru itu. Pembangunan membutuhkan kurang lebih Rp 20 miliar.

Di pondok baru itu juga nantinya akan disediakan dua jurusan ilmu salaf dan tahfizul quran yang sekarang sudah disiapkan embrionya. Sedangkan untuk SDM-nya sendiri pihaknya sudah memiliki 27 ustaz.

”Karena visi kami sendiri ingin menjadikan ini (red ponpes) pusat pengembangan ilmu agama Islam  di kawasan Muria, sebagaimana mengembalikan fungsi semula, melanjutkan perjuanagan Sunan Kudus,” tambahnya. (ark/him)






Reporter: Arika Khoiriya

Most Read

Artikel Terbaru

/