RADARKUDUS - Masyarakat modern sedang berada dalam keadaan yang paradoks: semakin maju teknologinya, semakin kabur standar dalam menilai kebenaran.
Membenci ahli tetapi memuja pendapat amatir bukan sekadar fenomena komunikasi, tetapi gejala mendalam dari krisis epistemik.
Ketika ruang publik dipenuhi suara yang sama kerasnya, orang mulai sulit membedakan antara pengetahuan dan opini.
Akibatnya, popularitas lebih dihargai daripada kompetensi, dan kenyamanan lebih dicari daripada kebenaran.
Fenomena ini lahir dari rasa tidak percaya yang tumbuh terhadap institusi dan otoritas pengetahuan.
Banyak orang merasa lebih nyaman mengikuti pendapat yang selaras dengan emosinya, meski tidak berdasar.
Di sisi lain, suara para ahli sering dianggap menggurui atau merongrong keyakinan pribadi.
Maka wajar bila masyarakat lebih menyukai “pendapat amatir” yang seolah mudah dipahami, padahal hanya menyederhanakan masalah yang kompleks.
Dalam kondisi seperti ini, kebenaran yang rumit kalah telak dari kebohongan yang mudah dicerna.
"Masyarakat modern sedang sakit: membenci ahli tapi memuja pendapat amatir," kata dari Tom Nichols.
Kutipan Tom Nichols menjadi peringatan bahwa sebuah masyarakat tidak akan sehat bila terus mengabaikan keahlian.
Peradaban dibangun oleh orang-orang yang menguasai bidangnya, bukan oleh mereka yang sekadar percaya diri.
Menghargai ahli bukan berarti menelan mentah-mentah semua yang mereka katakan, tetapi memberi tempat bagi kerja keras, penelitian, dan kedalaman berpikir.
Ketika kita kembali menegakkan standar pengetahuan, barulah ruang publik menjadi lebih jernih, lebih rasional, dan lebih sulit digoyang oleh opini-opini yang tidak berdasar.
Editor : Ali Mustofa