Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Playlist Sedih: Teman Healing Gen Z atau Pemicu Overthinking?

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 18 November 2025 | 22:27 WIB

Photo
Photo

RADAR KUDUS - Di tengah era digital yang terus berkembang, musik bukan lagi sekadar hiburan bagi Generasi Z.

Lewat layanan streaming seperti Spotify, YouTube, Apple Music, atau platform serupa, mereka dapat mengakses jutaan lagu hanya dalam hitungan detik.

Di antara banyaknya genre, daftar putar bertema patah hati dan melankolis justru menjadi salah satu yang paling digemari.

Baca Juga: Nepotisme: Pengertian, Ciri, Jenis, Dampak, dan Cara Menghadapinya

Banyak Gen Z memilih lagu sedih sebagai teman ketika sedang kehilangan, stres, atau menghadapi masalah emosional.

Namun, ada pertanyaan besar: apakah musik sedih benar-benar membantu penyembuhan perasaan, atau justru memperpanjang kesedihan itu sendiri?

Dari sisi positif, musik bernuansa emosional bisa menjadi ruang aman untuk mengekspresikan perasaan.

Lagu dengan lirik yang menyentuh sering kali membuat pendengar merasa dimengerti.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa musik dapat memunculkan rasa validasi emosional dan membantu seseorang menerima isi hatinya dengan lebih sadar (Javier, 2023).

Tidak sedikit orang yang merasa lebih lega setelah mendengarkan lagu yang selaras dengan suasana hati mereka.

Selain itu, musik juga dapat menjadi sarana katarsis. Mirip seperti menulis jurnal atau bercerita pada seseorang, mendengarkan lagu sedih bisa membantu meluapkan stres.

Baca Juga: Makna Lagu “Ours to Keep” – Kendis feat. Adis: Tentang Rasa Sepi, Kerinduan, dan Kedamaian Bersama Orang Tersayang

Penelitian Kurniawan dan Wijaya (2023) menunjukkan bahwa 62% responden Gen Z menggunakan musik sebagai strategi menghadapi tekanan emosional — dan hampir setengahnya lebih memilih lagu sedih ketika sedang terpuruk.

Namun, di sisi lain, kebiasaan ini dapat membawa efek sebaliknya. Jika musik sedih diputar terus menerus tanpa jeda, perasaan negatif justru dapat semakin menguat.

Penelitian lain (Pratama, Nugroho & Rahmawati, 2023) menemukan bahwa Gen Z yang mendengarkan lagu melankolis lebih dari tiga jam per hari memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami kecemasan dan gejala depresi.

Fenomena ini juga berkaitan dengan kebiasaan rumination, yaitu merenungkan kembali pengalaman buruk di masa lalu.

Seseorang mengaku selalu menangis ketika mendengar lagu “Penjaga Hati” dari Nadhif Basalamah karena lagu tersebut mengingatkannya pada hubungan yang sudah berakhir.

Dalam kasus ini, musik tidak lagi membantu, melainkan memperdalam luka emosional.

Baca Juga: Viral di TikTok, Ini Lirik dan Makna Lagu Merindumu Lagi dari Khifnu

Tren ini diperkuat oleh budaya digital. Konten TikTok, Instagram Reels, dan videografi estetika dengan musik sendu semakin menormalisasi suasana melankolis.

Musisi Indonesia seperti Nadin Amizah, Hindia, Bernadya, dan Kunto Aji juga banyak membahas topik mental health dalam karya mereka.

Lagu-lagu global seperti “Beautiful Things” (Benson Boone), “Birds of a Feather” (Billie Eilish), atau “End of Beginning” (Djo) ikut memperkuat fenomena ini karena viral di media sosial.

Untuk mengurangi risiko terjebak dalam emosi negatif, beberapa ahli menyarankan strategi music transition: memulai dengan lagu sedih, lalu perlahan berpindah ke musik yang lebih ceria dan uplifting untuk membantu kestabilan suasana hati.

Pendekatan ini diyakini dapat menurunkan risiko suasana hati yang semakin memburuk.

Pada akhirnya, mendengarkan lagu sedih bukanlah hal yang salah. Dalam porsi yang tepat, musik dapat menjadi ruang aman untuk memahami diri.

Namun, penting bagi pendengar untuk mengenali batasannya dan tidak sepenuhnya tenggelam dalam kesedihan yang dibawa oleh lirik.

Gen Z memiliki kesempatan untuk menggunakan musik secara lebih bijak: sebagai alat refleksi, bukan jerat emosi.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Emosi dan musik #lagu sedih Gen Z #Playlist sedih #Gen Z dan lagu galau #Trend digital