alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Melawan “Toxic Culture” di Tempat Kerja

TOXIC CULTURE merupakan energi yang terpakai untuk kegiatan tidak produktif disebuah lingkungan kerja. Toxic Culture ini menunjukkan tingkat konflik, friksi dan frustasi di lingkungan tersebut. Toxic Culture sangat dapat memperlemah tingkat kesehatan sebuah Organisasi (Organization Health Index). Padahal disisi lain, Organization Health Index (OHI) sangat dibutuhkan untuk menunjang kelincahan Organisasi (Organizational Agility), dimana organisasi perlu mengambil langkah strategis menghadapi tantangan serta meraih peluang untuk memenangkan persaingan.

Toxic Culture dalam sebuah Organisasi terdiri dari 3 unsur:

Pertama, faktor-faktor yang memperlambat organisasi dan mencegah pengambilan keputusan yang cepat: perubahan yang terlalu sering sehingga membuat kebingungan, hirarki kerja yang panjang, kekakuan, kurangnya transparansi dalam beberapa peraturan, birokrasi yang berbelit, insekonsistensi pelaksanaan peraturan dan pertengkaran.


Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan gesekan antara pekerja: kurangnya kepedulian pemimpin, persaingan internal, saling menyalahkan, manipulasi dan intimidasi.

Ketiga, faktor-faktor yang mencegah pekerja dari kerja secara efektif: teritorialisme/silo, fokus jangka pendek, kewaspadaan/terlalu berhati-hati, Mikro manajemen/pimpinan terlalu mengawasi dengan detail, dan control yang terlalu ketat dalam bekerja.

Toxic Culture ini dapat menjadi alasan nomer satu seorang pekerja keluar dari sebuah perusahaan. Ketika seorang pekerja merasa lingkungan kerjanya tidak menyenangkan, berbahaya, atau tidak etis, maka opsi meninggalkan tempat kerja, dapat dengan mudah diambil seorang pekerja.

Toxic Culture ini tidak hanya sebatas “di kantor” saja. Namun juga termasuk Remote Working, dimana gangguan dalam bentuk email, video dan panggilan telepon yang terkait dengan pekerjaan, dapat mengintimidasi pekerja. Sistem renumerasi yang buruk, tidak menghargai kinerja pekerja, terlalu memprioritaskan pelanggan diatas pekerja, menolak suara pekerja, terus menerus mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan, merupakan faktor yang sering ditemukan. Denominator terendah dari Toxic Culture di tempat kerja adalah ketika pekerja dak merasa aman, didukung, atau didengar.

Sudah saatnya pemimpin Organisasi untuk mengubahnya dan fokus pada lingkungan yang sehat dan profesional yang akan mempertahankan pekerja mereka sekaligus menarik yang baru. Upaya preventif dalam mengatasi masalah sebelum menjadi lebih besar serta mengidentifikasi adanya provokator.

Baca Juga :  Lebih Produktif dengan Tablet

Salah satu cara terbesar untuk dapat mencegah Toxic Culture adalah dengan meningkatkan masukan pekerja. Sistem umpan balik anonim adalah cara yang bagus untuk mencari masukan dari pekerja tentang kebijakan yang telah diterapkan. Selai itu juga memungkinkan pekerja untuk melaporkan kesalahan apa pun yang mereka dengar atau lihat di tempat kerja. Hal ini memungkinkan adanya umpan balik yang jujur dan langsung dari pekerja kepada pimpinan, memungkinkan mereka mengambil tindakan untuk perubahan budaya.

Perubahan budaya memang membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Namun, para pemimpin dapat memanfaatkan solusi teknologi untuk mendapatkan infotmasi dan umpan balik real-time ke dalam organisasi mereka, mencegah masalah sebelum membesar, serta yang paling penting dapat membantu para pekerja. Memiliki sistem pelaporan adalah satu-satunya cara untuk menangani masalah internal tanpa campur tangan atau bias dari jajaran manajemen Organsasi. Secara umum, perusahaan yang mengalami Toxic Leadership tidak menerima masukan langsung dari para pekerjanya, dan tidak memiliki proses pelaporan yang konsisten, adil, dan setara. Tanpa sistem pelaporan, tidak ada informasi yang cukup tentang insiden dari pekerja yang menangani masalah setiap harinya.

Pada hakikatnya, sebuah Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat kerja yang bebas Toxic atau berada dalam kondisi “Netral”. Namun, sebuah Organisasi harus berjuang untuk dapat membangun budaya tempat kerja yang sehat dan positif, dengan para pemimpin yang dapat mendengarkan pelanggan, karyawan, dan seluruh Stakeholder mereka. Setting Tone from the Top, menjadikan Top Management sebagi Role Model dalam membangun Transparasi kepada seluruh pekerja, adalah langkah awal yang sangat penting dalam upaya mengeliminasi Toxic Culture di tempat kerja. Pada akhirnya, semua hal tersebut ditujukan demi terciptanya Organisasi yang sehat dan sustainable dalam mencapai sasaran bisnisnya. (adv)

TOXIC CULTURE merupakan energi yang terpakai untuk kegiatan tidak produktif disebuah lingkungan kerja. Toxic Culture ini menunjukkan tingkat konflik, friksi dan frustasi di lingkungan tersebut. Toxic Culture sangat dapat memperlemah tingkat kesehatan sebuah Organisasi (Organization Health Index). Padahal disisi lain, Organization Health Index (OHI) sangat dibutuhkan untuk menunjang kelincahan Organisasi (Organizational Agility), dimana organisasi perlu mengambil langkah strategis menghadapi tantangan serta meraih peluang untuk memenangkan persaingan.

Toxic Culture dalam sebuah Organisasi terdiri dari 3 unsur:

Pertama, faktor-faktor yang memperlambat organisasi dan mencegah pengambilan keputusan yang cepat: perubahan yang terlalu sering sehingga membuat kebingungan, hirarki kerja yang panjang, kekakuan, kurangnya transparansi dalam beberapa peraturan, birokrasi yang berbelit, insekonsistensi pelaksanaan peraturan dan pertengkaran.

Kedua, faktor-faktor yang menyebabkan gesekan antara pekerja: kurangnya kepedulian pemimpin, persaingan internal, saling menyalahkan, manipulasi dan intimidasi.

Ketiga, faktor-faktor yang mencegah pekerja dari kerja secara efektif: teritorialisme/silo, fokus jangka pendek, kewaspadaan/terlalu berhati-hati, Mikro manajemen/pimpinan terlalu mengawasi dengan detail, dan control yang terlalu ketat dalam bekerja.

Toxic Culture ini dapat menjadi alasan nomer satu seorang pekerja keluar dari sebuah perusahaan. Ketika seorang pekerja merasa lingkungan kerjanya tidak menyenangkan, berbahaya, atau tidak etis, maka opsi meninggalkan tempat kerja, dapat dengan mudah diambil seorang pekerja.

Toxic Culture ini tidak hanya sebatas “di kantor” saja. Namun juga termasuk Remote Working, dimana gangguan dalam bentuk email, video dan panggilan telepon yang terkait dengan pekerjaan, dapat mengintimidasi pekerja. Sistem renumerasi yang buruk, tidak menghargai kinerja pekerja, terlalu memprioritaskan pelanggan diatas pekerja, menolak suara pekerja, terus menerus mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan, merupakan faktor yang sering ditemukan. Denominator terendah dari Toxic Culture di tempat kerja adalah ketika pekerja dak merasa aman, didukung, atau didengar.

Sudah saatnya pemimpin Organisasi untuk mengubahnya dan fokus pada lingkungan yang sehat dan profesional yang akan mempertahankan pekerja mereka sekaligus menarik yang baru. Upaya preventif dalam mengatasi masalah sebelum menjadi lebih besar serta mengidentifikasi adanya provokator.

Baca Juga :  Lebih Produktif dengan Tablet

Salah satu cara terbesar untuk dapat mencegah Toxic Culture adalah dengan meningkatkan masukan pekerja. Sistem umpan balik anonim adalah cara yang bagus untuk mencari masukan dari pekerja tentang kebijakan yang telah diterapkan. Selai itu juga memungkinkan pekerja untuk melaporkan kesalahan apa pun yang mereka dengar atau lihat di tempat kerja. Hal ini memungkinkan adanya umpan balik yang jujur dan langsung dari pekerja kepada pimpinan, memungkinkan mereka mengambil tindakan untuk perubahan budaya.

Perubahan budaya memang membutuhkan waktu yang sangat lama, bahkan bisa bertahun-tahun. Namun, para pemimpin dapat memanfaatkan solusi teknologi untuk mendapatkan infotmasi dan umpan balik real-time ke dalam organisasi mereka, mencegah masalah sebelum membesar, serta yang paling penting dapat membantu para pekerja. Memiliki sistem pelaporan adalah satu-satunya cara untuk menangani masalah internal tanpa campur tangan atau bias dari jajaran manajemen Organsasi. Secara umum, perusahaan yang mengalami Toxic Leadership tidak menerima masukan langsung dari para pekerjanya, dan tidak memiliki proses pelaporan yang konsisten, adil, dan setara. Tanpa sistem pelaporan, tidak ada informasi yang cukup tentang insiden dari pekerja yang menangani masalah setiap harinya.

Pada hakikatnya, sebuah Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat kerja yang bebas Toxic atau berada dalam kondisi “Netral”. Namun, sebuah Organisasi harus berjuang untuk dapat membangun budaya tempat kerja yang sehat dan positif, dengan para pemimpin yang dapat mendengarkan pelanggan, karyawan, dan seluruh Stakeholder mereka. Setting Tone from the Top, menjadikan Top Management sebagi Role Model dalam membangun Transparasi kepada seluruh pekerja, adalah langkah awal yang sangat penting dalam upaya mengeliminasi Toxic Culture di tempat kerja. Pada akhirnya, semua hal tersebut ditujukan demi terciptanya Organisasi yang sehat dan sustainable dalam mencapai sasaran bisnisnya. (adv)


Most Read

Artikel Terbaru

/