Mengapa Ada Orang yang Lebih Memilih Diam daripada Meluapkan Amarah?

RADAR KUDUS – Tidak semua orang meluapkan kemarahan dengan suara keras atau kata-kata tajam. Sebagian justru memilih diam, menjauh sejenak, atau mengurangi percakapan ketika sedang kesal.
Sikap ini terkadang dianggap sebagai tanda tidak peduli, padahal ada berbagai alasan seseorang menahan diri untuk tidak langsung berbicara.
Dalam psikologi, diam saat marah dapat berkaitan dengan upaya mengelola emosi, menghindari pertengkaran, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.
Tinjauan penelitian tentang silent treatment yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers in Psychology pada 2026 juga menemukan bahwa perilaku diam dalam hubungan memiliki beragam motif dan dampak.
1. Takut Mengucapkan Kata-Kata yang Menyakitkan
Ketika emosi sedang memuncak, seseorang mungkin khawatir akan mengatakan sesuatu yang disesali setelah amarah mereda.
Karena itu, mereka memilih menahan ucapan sampai perasaannya lebih terkendali.
Dalam kondisi ini, diam dapat menjadi jeda untuk mencegah konflik semakin besar.
Namun, akan lebih baik jika seseorang menjelaskan bahwa dirinya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri.
2. Membutuhkan Waktu untuk Memahami Perasaan
Tidak semua orang langsung memahami penyebab kemarahannya. Ada yang membutuhkan waktu untuk memikirkan kejadian, mengenali perasaan yang muncul, dan menentukan cara menyampaikan keberatan.
Diam sejenak dapat membantu proses tersebut. Akan tetapi, jika masalah terus dipendam tanpa pernah dibicarakan, kesalahpahaman justru berpotensi semakin besar.



