
RADAR KUDUS - Pernah mendengar percakapan seperti, “Jadi datang, kan?”, lalu dijawab “Lihat nanti, ya,” atau bahkan “Kalau nggak datang juga nggak apa-apa”?
Percakapan seperti ini sangat akrab bagi orang Indonesia. Kita sering kali tidak mengatakan sesuatu secara langsung.
Ketika menolak ajakan, misalnya, kita memilih mengatakan “kayaknya nggak bisa” daripada “saya tidak mau”.
Saat ingin meminta bantuan, kita bisa bertanya, “Lagi sibuk nggak?” sebelum menyampaikan maksud sebenarnya.
Bagi sebagian orang, cara komunikasi seperti ini mungkin terasa berbelit-belit. Namun, di baliknya terdapat kebiasaan budaya yang membuat kita terbiasa membaca makna di balik kata-kata.
Antropolog Edward T. Hall memperkenalkan konsep high-context dan low-context communication.
Dalam komunikasi low-context, pesan cenderung disampaikan secara langsung dan eksplisit. Apa yang ingin dikatakan sebisa mungkin dijelaskan melalui kata-kata.
Sementara dalam komunikasi high-context, makna tidak selalu disampaikan secara langsung. Pendengar diharapkan memahami situasi, hubungan, ekspresi, dan konteks percakapan.
Indonesia sering ditempatkan dalam kelompok budaya yang cenderung lebih high-context, meskipun tentu tidak semua orang Indonesia berkomunikasi dengan cara yang sama.
Basa-basi kemudian menjadi bagian dari cara menjaga hubungan sosial.

