alexametrics
23.1 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Pembuatan Horog-Horog di Jepara: Butuh Waktu Dua Hari, Menu Pengganti Nasi

NENEK itu memegang sebuah lingkaran besi dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter. Dengan besi itu, tangannya menggaruk berulang kali tepung pati dalam sebuah wadah. Badannya yang bungkuk tidak menghambat kerja tangannya yang cepat. Dari kerukan itu, tepung pati menjadi semakin halus.

Di samping nenek itu, ada Aminah, pemilik pabrik kecil horok-horog. Sembari duduk dan membersihkan ember, dengan ramah Aminah menjawab deretan pertanyaan dari wartawan.  Aminah adalah warga Desa Menganti, Kedung. Ia lahir di Jepara, 60 tahun yang lalu. Orang tuanya lupa kapan ia lahir, sehingga di dokumen tertulis lahir 1939.

“Itu mbak, orang zaman dulu kan kadang sengaja dinaikkan tahunnya, biar bisa diambil orang,” imbuhnya sambil terkekeh. Terlihat deretan gigi berbaris rapi dari senyumannya.


Pembuatan horog-horog bukan melalui proses yang cepat. Bisa memakan waktu hingga dua hari sampai proses jadi.

Berasal dari tepung pati. Untuk tepungnya, Aminah memasok dari temannya,  Sutarmi. Karena ia hanya memproduksi. Dari mengelola tepung hingga horokghorog jadi dan diambil para pedagang di pasar.

“Proses awalnya pati diaduk sampai mengendap. Setelah itu, dikeringkan. Sampai kering, baru pati dikeruk,” jelasnya sambil menunjuk nenek tadi.

RUMIT: Pembuat horog-horog mengolah dari bahan dasar Pati proses pembuatannya memakan waktu hingga dua hari. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Di samping Aminah, terlihat seorang ibu lanjut usia menggoreng tepung. Di hadapannya, tepung ia bolak-balik dengan spatula. Di bawahnya terlihat api besar menyala-nyala dalam tungku. “Setelah dikeruk, pati ya digoreng itu,” tunjuk Aminah kepada ibu lanjut usia.

Setelah digoreng, tepung pati dinanak. Tapi proses itu belum selesai. Selanjutnya, tepung pati tadi direndam lalu diremas-remas. Terakhir, tepung yang sudah berbentuk serpihan horog-horog itu dinanak kembali. Dalam sebuah ember. Dari ember ini pedagang pasar biasanya mengambil tiga hingga empat ember. Masing-masing per ember dihargai Rp 15 ribu.

Baca Juga :  Mongolian BBQ dan Turkish Coffee, Cocok Dinikmati di Tepi Pantai

“Nanti yang motong-motong dan mbungkus pakai daun itu biasanya pedagangnya,” jelas Aminah.

Per hari ia mendapat keuntungan bersih Rp 50 ribu. Untuk penjualan, ia tidak menarget pasti. “Ya namanya rezeki,” kata Aminah.

Meski begitu, pernah dalam sehari ia mendapat pesanan 150 bundaran ember. “Pesanan paling tinggi biasanya bulan Syawal,” jelas Aminah.

Musim hujan atau panas tidak memengaruhi jualan Aminah. Ia mengaku, penjualannya sama. Saat Covid-19 juga tidak anjlok. Kata Aminah, horog-horog memiliki penggemar yang banyak. Apalagi yang dibatasi makan nasi oleh dokter. Biasanya pengidap gula atau kencing manis.

Aminah tidak menyangka produksi horog-horognya bertahan hingga satu dekade ini. Sebelum membuat horog-horog, ia adalah petani. Ia tidak menikmati pekerjaannya lalu beralih profesi. Ia juga sempat menjadi kuli tepung pati. “Tahun 60-an itu horog-horog sudah ada kok, saya kerja ngantar tepung ke yang buat horog-horog, ” jelasnya.

Ia memelajari proses pembuatannya sendiri. Tertarik dengan pedagang yang kerjanya terlihat nyaman. Meskipun kadang harus bergadang, ia senang bisa mendapat banyak uang.

Sebelumnya, ia kerap direndahkan orang lain. Karena bekerja sebagai kuli pengantar tepung pati. Meski begitu, saat ini mampu mempekerjakan tetangganya. Termasuk yang berusia lanjut. Karyawannya ada lima.

Meski kecil, saat ini pabrik horog-horognya menjadi pemasok paling banyak di Jepara. Kebanyakan pedagang pasar. Ada dari Pasar Pecangaan, Tegalsambi, Sirahan, Karangrandu, Bangsri, Petekeyan, dan lainnya. Kadang ia juga menerima pesanan khusus.

“Ini rumah ini,” tatapnya ke atas langit rumah sambil berkaca-kaca. “Hasil dari bikin horog-horog,” tandasnya. (nib/war)

NENEK itu memegang sebuah lingkaran besi dengan diameter sekitar sepuluh sentimeter. Dengan besi itu, tangannya menggaruk berulang kali tepung pati dalam sebuah wadah. Badannya yang bungkuk tidak menghambat kerja tangannya yang cepat. Dari kerukan itu, tepung pati menjadi semakin halus.

Di samping nenek itu, ada Aminah, pemilik pabrik kecil horok-horog. Sembari duduk dan membersihkan ember, dengan ramah Aminah menjawab deretan pertanyaan dari wartawan.  Aminah adalah warga Desa Menganti, Kedung. Ia lahir di Jepara, 60 tahun yang lalu. Orang tuanya lupa kapan ia lahir, sehingga di dokumen tertulis lahir 1939.

“Itu mbak, orang zaman dulu kan kadang sengaja dinaikkan tahunnya, biar bisa diambil orang,” imbuhnya sambil terkekeh. Terlihat deretan gigi berbaris rapi dari senyumannya.

Pembuatan horog-horog bukan melalui proses yang cepat. Bisa memakan waktu hingga dua hari sampai proses jadi.

Berasal dari tepung pati. Untuk tepungnya, Aminah memasok dari temannya,  Sutarmi. Karena ia hanya memproduksi. Dari mengelola tepung hingga horokghorog jadi dan diambil para pedagang di pasar.

“Proses awalnya pati diaduk sampai mengendap. Setelah itu, dikeringkan. Sampai kering, baru pati dikeruk,” jelasnya sambil menunjuk nenek tadi.

RUMIT: Pembuat horog-horog mengolah dari bahan dasar Pati proses pembuatannya memakan waktu hingga dua hari. (NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS)

Di samping Aminah, terlihat seorang ibu lanjut usia menggoreng tepung. Di hadapannya, tepung ia bolak-balik dengan spatula. Di bawahnya terlihat api besar menyala-nyala dalam tungku. “Setelah dikeruk, pati ya digoreng itu,” tunjuk Aminah kepada ibu lanjut usia.

Setelah digoreng, tepung pati dinanak. Tapi proses itu belum selesai. Selanjutnya, tepung pati tadi direndam lalu diremas-remas. Terakhir, tepung yang sudah berbentuk serpihan horog-horog itu dinanak kembali. Dalam sebuah ember. Dari ember ini pedagang pasar biasanya mengambil tiga hingga empat ember. Masing-masing per ember dihargai Rp 15 ribu.

Baca Juga :  Mencicipi Es Krim Rasa Buah Khas Italia: Disajikan tanpa Susu, Segarnya Cocok saat Cuaca Ekstrem

“Nanti yang motong-motong dan mbungkus pakai daun itu biasanya pedagangnya,” jelas Aminah.

Per hari ia mendapat keuntungan bersih Rp 50 ribu. Untuk penjualan, ia tidak menarget pasti. “Ya namanya rezeki,” kata Aminah.

Meski begitu, pernah dalam sehari ia mendapat pesanan 150 bundaran ember. “Pesanan paling tinggi biasanya bulan Syawal,” jelas Aminah.

Musim hujan atau panas tidak memengaruhi jualan Aminah. Ia mengaku, penjualannya sama. Saat Covid-19 juga tidak anjlok. Kata Aminah, horog-horog memiliki penggemar yang banyak. Apalagi yang dibatasi makan nasi oleh dokter. Biasanya pengidap gula atau kencing manis.

Aminah tidak menyangka produksi horog-horognya bertahan hingga satu dekade ini. Sebelum membuat horog-horog, ia adalah petani. Ia tidak menikmati pekerjaannya lalu beralih profesi. Ia juga sempat menjadi kuli tepung pati. “Tahun 60-an itu horog-horog sudah ada kok, saya kerja ngantar tepung ke yang buat horog-horog, ” jelasnya.

Ia memelajari proses pembuatannya sendiri. Tertarik dengan pedagang yang kerjanya terlihat nyaman. Meskipun kadang harus bergadang, ia senang bisa mendapat banyak uang.

Sebelumnya, ia kerap direndahkan orang lain. Karena bekerja sebagai kuli pengantar tepung pati. Meski begitu, saat ini mampu mempekerjakan tetangganya. Termasuk yang berusia lanjut. Karyawannya ada lima.

Meski kecil, saat ini pabrik horog-horognya menjadi pemasok paling banyak di Jepara. Kebanyakan pedagang pasar. Ada dari Pasar Pecangaan, Tegalsambi, Sirahan, Karangrandu, Bangsri, Petekeyan, dan lainnya. Kadang ia juga menerima pesanan khusus.

“Ini rumah ini,” tatapnya ke atas langit rumah sambil berkaca-kaca. “Hasil dari bikin horog-horog,” tandasnya. (nib/war)

Most Read

Artikel Terbaru

/