
RADAR KUDUS — Matcha dan green tea sama-sama berasal dari tanaman Camellia sinensis, tetapi memiliki perbedaan pada proses budidaya, pengolahan, hingga penyajiannya.
Green tea umumnya diminum sebagai hasil seduhan daun, sedangkan matcha menggunakan bubuk daun yang ikut dikonsumsi.
Perbedaan tersebut turut membentuk karakter warna, rasa, tekstur, dan kandungan dalam minuman.
Secara kategori, matcha merupakan salah satu jenis teh hijau, bukan teh dari tanaman yang berbeda. Karena itu, perbandingan matcha dan green tea dalam artikel ini merujuk pada matcha bubuk dan teh hijau seduh biasa.
Cara Penanaman dan Paparan Sinar Matahari
Perbedaan matcha dan green tea sudah dimulai ketika tanaman teh masih berada di kebun.
Teh hijau biasa umumnya tumbuh dengan paparan sinar matahari langsung. Sementara itu, tanaman untuk bahan matcha diberi naungan selama beberapa minggu menjelang panen untuk mengurangi paparan cahaya matahari.
Peneduhan tersebut memengaruhi komposisi daun, termasuk kandungan klorofil yang berkaitan dengan warna hijaunya.
Proses ini juga berhubungan dengan karakter asam amino pada daun bahan matcha. Perbedaan keduanya tidak hanya muncul setelah daun digiling atau diseduh, tetapi juga dipengaruhi perlakuan selama pertumbuhan tanaman.
Tahapan Pengolahan dan Bentuk Akhir Daun
Setelah dipanen, daun teh hijau umumnya dipanaskan melalui pengukusan atau pemanasan di wajan untuk menghentikan oksidasi.
Daun kemudian dapat digulung dan dikeringkan hingga menjadi bahan seduhan. Bentuk akhirnya masih berupa daun atau potongan daun yang dimasukkan ke air saat pembuatan minuman.
