Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sate Kerbau Kudus, Warisan Rasa dari Jejak Sunan Kudus

Z
Penulis: Zainal Abidin RK❯
Sate Kerbau.
Sate Kerbau.

KUDUS — Aroma daging yang terbakar di atas bara arang menyeruak di sekitar kawasan Menara Kudus. Di tengah hiruk-pikuk wisatawan dan peziarah, deretan pedagang sate kerbau terus menyalakan bara api tradisi kuliner yang telah bertahan ratusan tahun di tanah Wali.


Advertisement

Sate kerbau merupakan salah satu kuliner khas Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, yang hingga kini tetap menjadi ikon daerah tersebut.

Keunikan sajian ini bukan hanya pada bahan dasarnya yang berbeda dari sate pada umumnya, tetapi juga pada nilai sejarah dan filosofi yang menyertainya.

Sejarah mencatat, tradisi mengonsumsi daging kerbau bermula pada masa Sunan Kudus, salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa.

Advertisement

Beliau melarang pengikutnya menyembelih sapi sebagai bentuk toleransi terhadap umat Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci.

Sebagai gantinya, masyarakat dianjurkan untuk mengonsumsi daging kerbau, dan dari situlah muncul berbagai olahan khas, termasuk sate kerbau.

Meskipun daging kerbau dikenal lebih keras dibanding sapi, pengolahan khas Kudus membuatnya lembut dan gurih.

Advertisement

Daging direndam terlebih dahulu dalam bumbu rempah seperti ketumbar, bawang putih, jahe, dan gula merah selama beberapa jam agar bumbu meresap.

Setelah itu, daging dibakar di atas arang kelapa hingga mengeluarkan aroma khas yang menggoda.

“Rahasia kelembutannya ada di proses perendaman dan jenis daging kerbau yang digunakan. Biasanya kami pakai daging dari kerbau muda,” ujar Slamet (56), penjual sate kerbau di kawasan Alun-Alun Kudus, saat ditemui Selasa (22/10).

Sate kerbau disajikan dengan bumbu kacang atau kecap manis, lengkap dengan taburan bawang goreng dan lontong hangat.

Rasanya manis, gurih, dan sedikit beraroma khas daging kerbau yang justru menjadi daya tarik tersendiri.

Bagi masyarakat Kudus, sate kerbau bukan sekadar makanan, melainkan simbol kearifan lokal dan toleransi antarumat beragama.

Tradisi ini menjadi pengingat bagaimana nilai-nilai perdamaian dan saling menghormati telah mengakar dalam kehidupan masyarakat sejak berabad-abad lalu.

“Setiap tusuk sate kerbau adalah cerita tentang sejarah dan kebersamaan,” ujar Hj. Nur Aini, pengelola rumah makan sate kerbau legendaris di Jalan Sunan Kudus. “Kami tidak hanya menjual makanan, tapi juga menjaga warisan budaya.”

Di tengah derasnya arus modernisasi dan munculnya berbagai kuliner cepat saji, sate kerbau tetap memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Kudus.

Banyak wisatawan yang sengaja datang untuk mencicipi cita rasa otentik yang diwariskan turun-temurun ini.

Dengan harga mulai dari Rp25.000 per porsi, sate kerbau Kudus terus menjadi sajian wajib bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dalam tentang budaya dan sejarah kota yang dijuluki “Kota Santri” tersebut.

 

Advertisement

Artikel Terkait

Pekan Raya Kudus Hadir Selama Sepekan, Produk UMKM hingga Kuliner Jadi Andalan, di Sini Lokasinya

Pekan Raya Kudus Hadir Selama Sepekan, Produk UMKM hingga Kuliner Jadi Andalan, di Sini Lokasinya

Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus akan menjadi salah satu pusat kegiatan masyarakat selama sepekan melalui gelaran Pekan Raya Kudus.

Gusjigang Jadi Kunci Kudus Hadapi Modernisasi, MUI Tekankan Akhlak dan Inklusivitas

Gusjigang Jadi Kunci Kudus Hadapi Modernisasi, MUI Tekankan Akhlak dan Inklusivitas

MUI Jawa Tengah menilai nilai GUSJIGANG warisan Sunan Kudus menjadi landasan modernisasi Kudus melalui penguatan akhlak, tradisi mengaji, perdagangan, digitalisasi, dan kolaborasi menuju pasar internasional.

Benarkah Ini Makam Arya Penangsang? Klaim di Desa Jepang Kudus Tuai Perhatian

Benarkah Ini Makam Arya Penangsang? Klaim di Desa Jepang Kudus Tuai Perhatian

Sebuah makam di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, mendadak menjadi perhatian publik. Ini setelah makam itu sebagai tokoh sejarah Arya Penangsang.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer