alexametrics
30.3 C
Kudus
Friday, July 22, 2022

Puli Kothokan, Makanan Khas Desa Janggalan Kudus Makin Gurih dengan Tambahan Udang

PULINYA pulen, sayur kothokannya gurih. Begitulah rasa dari puli kotohokan, makanan khas di Desa Janggalan, Kudus.

Pulinya terbuat dari nasi pulen lalu ditumbuk dan diberi bumbu seperti garam dan minyak goreng. Untuk kotohokannya berupa sayur jipang atau siyem yang dimasak dengan bumbu dan santan.

Sekarang makanan satu ini sudah jarang ditemui. Yang bisa ditemui hanya penjual puli dengan urap atau sambal goreng.


Sofian salah satu pembuat puli kothotokan yang hanya menerima orderan ini mengaku, khusus puli ini memang menggunakan siyem, bukan nangka muda. Itulah yang membedakan dengan kuah lentog.  Untuk kuahnya juga tidak terlalu kental. Biar tambah enak, kuahnya ditambah tahu dan udang. “Itu kuncinya,” terangnya.

Sofian menjelaskan juga proses pembuatan puli, dari beras yang dimasak menjadi nasi dengan tekstur agak pulen, kemudian diberi garam dan minyak goreng sedikit baru ditumbuk sampai lemes.

“Kalau dirasa hasil tumbukan sudah padat dan makin pulen, lalu ditaruh dalam cetakan yang dilapisi daun pisang. Setelah kenyal, baru dilepas dari cetakan dan cara memotong puli pakai benang, agar irisannya bisa tipis-tipis,” ungkapnya.

Baca Juga :  Minyak Goreng Dijual Satu Harga Cuma Rp 14 Ribu/Liter
AYOOO SANTAP: Puli Kothokan dengan tambahan telur rebus dan taburan kepala parut siap untuk dimakan. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Kemudian, untuk sajian puli kothokan yakni piring diberi alas daun pisang. Irisan puli diletakkan dalam piring yang sudah alasnya, lalu disiram kuah kothokan yang isinya ada tahu, udang dan sayur jipang.

“Boleh ditambah telur dan cabai rawit hijau yang dikukus atau rebus. Kemudian taburan parutan kelapa. Ini paling enak disantap saat sayur kothokan selagi panas. Sebenarnya, membuatnya sederhana, tapi yang membuat agal ribet menumbuk nasinya hingga menjadi puli,” ungkapnya.

Sofian mengaku hanya membuat Puli Kothokan hanya pesanan. Rata-rata orang yang pesan sekitar Desa Janggalan atau di kawasan Menara Kudus yang memiliki hajat.

“Pernah membuat pesanan dari balai desa. Saat itu ada bersih-bersih desa kedatangan Bupati Kudus Hartopo bersama Bu Mawar. Menu sarapan pagi saya buatkan puli kothokan dan request istri Pak Hartopo ada cabainya. Kalau misalnya kothokannya menggunakan daging kerbau juga bisa,” ungkapnya. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

PULINYA pulen, sayur kothokannya gurih. Begitulah rasa dari puli kotohokan, makanan khas di Desa Janggalan, Kudus.

Pulinya terbuat dari nasi pulen lalu ditumbuk dan diberi bumbu seperti garam dan minyak goreng. Untuk kotohokannya berupa sayur jipang atau siyem yang dimasak dengan bumbu dan santan.

Sekarang makanan satu ini sudah jarang ditemui. Yang bisa ditemui hanya penjual puli dengan urap atau sambal goreng.

Sofian salah satu pembuat puli kothotokan yang hanya menerima orderan ini mengaku, khusus puli ini memang menggunakan siyem, bukan nangka muda. Itulah yang membedakan dengan kuah lentog.  Untuk kuahnya juga tidak terlalu kental. Biar tambah enak, kuahnya ditambah tahu dan udang. “Itu kuncinya,” terangnya.

Sofian menjelaskan juga proses pembuatan puli, dari beras yang dimasak menjadi nasi dengan tekstur agak pulen, kemudian diberi garam dan minyak goreng sedikit baru ditumbuk sampai lemes.

“Kalau dirasa hasil tumbukan sudah padat dan makin pulen, lalu ditaruh dalam cetakan yang dilapisi daun pisang. Setelah kenyal, baru dilepas dari cetakan dan cara memotong puli pakai benang, agar irisannya bisa tipis-tipis,” ungkapnya.

Baca Juga :  Penyegaran, Bupati Kudus Mutasi Empat Kepala Dinas
AYOOO SANTAP: Puli Kothokan dengan tambahan telur rebus dan taburan kepala parut siap untuk dimakan. (DONNY SETYAWAN/RADAR KUDUS)

Kemudian, untuk sajian puli kothokan yakni piring diberi alas daun pisang. Irisan puli diletakkan dalam piring yang sudah alasnya, lalu disiram kuah kothokan yang isinya ada tahu, udang dan sayur jipang.

“Boleh ditambah telur dan cabai rawit hijau yang dikukus atau rebus. Kemudian taburan parutan kelapa. Ini paling enak disantap saat sayur kothokan selagi panas. Sebenarnya, membuatnya sederhana, tapi yang membuat agal ribet menumbuk nasinya hingga menjadi puli,” ungkapnya.

Sofian mengaku hanya membuat Puli Kothokan hanya pesanan. Rata-rata orang yang pesan sekitar Desa Janggalan atau di kawasan Menara Kudus yang memiliki hajat.

“Pernah membuat pesanan dari balai desa. Saat itu ada bersih-bersih desa kedatangan Bupati Kudus Hartopo bersama Bu Mawar. Menu sarapan pagi saya buatkan puli kothokan dan request istri Pak Hartopo ada cabainya. Kalau misalnya kothokannya menggunakan daging kerbau juga bisa,” ungkapnya. (san/mal)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/