Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ratusan Peserta Antusias Pantau Gerhana Bulan Total di TBS Kudus

Andika Trisna Saputra • Selasa, 3 Maret 2026 | 21:30 WIB

AMATI: Salah satu peserta putri mengamati proses gerhana bulan total melalui teleskop yang terhubung dengan laptop di GSG TBS Kudus lantai 5, Selasa (3/3). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
AMATI: Salah satu peserta putri mengamati proses gerhana bulan total melalui teleskop yang terhubung dengan laptop di GSG TBS Kudus lantai 5, Selasa (3/3). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Suasana lantai 5 Gedung Serba Guna Ma'had Aly TBS Kudus, Selasa (3/3) sore, dipenuhi antusiasme peserta sarasehan gerhana bulan total 2026.

Mengusung tema “Ayo Meneropong dan Ngobrol Gerhana Bulan”, kegiatan yang dimulai pukul 16.00 WIB itu memadukan diskusi ilmiah, pengamatan langsung, buka bersama, salat Maghrib berjamaah, hingga salat gerhana.

Ketua panitia, Salim, menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen TBS yang berbasis falakiyah dan unggul dalam bidang ilmu falak.

Menurutnya, sarasehan ini menjadi upaya melanjutkan tradisi keilmuan astronomi Islam sekaligus mengenalkan kepada masyarakat bahwa ilmu falak penting dan relevan untuk dipelajari.

“Gerhana bulan ini menunjukkan kebesaran Allah SWT. Sebagai rasa syukur, kita laksanakan salat gerhana,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan serupa sudah beberapa kali digelar, terutama pengamatan menggunakan teropong.

Peserta yang mendaftar mencapai ratusan orang dari berbagai daerah seperti Kudus, Jepara, Rembang, Pati, Tuban hingga Bekasi.

Namun panitia membatasi kuota hanya 100 orang agar pengamatan dan diskusi lebih optimal.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kudus, Shony Wardana, dalam sambutannya menjelaskan secara ilmiah proses terjadinya gerhana bulan.

Ia menerangkan bahwa gerhana terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada pada posisi lurus, sehingga cahaya matahari yang menyinari bulan terhalang oleh bumi.

“Perhitungannya jelas dan sangat logis. Fenomena ini adalah kekuasaan Allah SWT, dan seluruh kejadian alam semesta berada dalam kendali-Nya,” katanya.

Shony mengingatkan bahwa saat terjadi gerhana, umat Islam disunnahkan melaksanakan salat gerhana, memperbanyak doa, dzikir, dan sedekah.

Ia juga mengajak peserta bersyukur karena tahun ini dapat menjalankan ibadah Ramadan sekaligus menyaksikan fenomena langit yang langka menjelang waktu Maghrib.

Pemateri pertama, Azhar Latif Nashiran, menjelaskan gerhana terbagi menjadi dua, yakni gerhana bulan dan gerhana matahari.

Secara astronomis, fenomena ini merupakan bagian dari siklus pergerakan harian, bulanan, dan tahunan benda langit.

Namun disebut luar biasa karena tidak semua orang dan wilayah dapat menyaksikannya.

Ia menyebut gerhana bulan total pernah terjadi pada 8 November 1938 saat Ramadan, sekitar 88 tahun lalu, dan diperkirakan akan kembali terulang pada 2047 mendatang.

Sementara itu, Ahmad Bahrudin memaparkan tata cara salat gerhana yang dilaksanakan di TBS, yakni dua rukuk dalam setiap rakaat sehingga total empat rukuk dalam dua rakaat.

Waktu pelaksanaannya dimulai setelah salat Maghrib hingga gerhana berakhir.

Berdasarkan jadwal pengamatan, pada pukul 18.00 WIB gerhana telah mencapai 96 persen.

Fase total dimulai pukul 18.05 WIB dan mencapai puncak pada 18.34 WIB.

Bulan mulai kembali bersinar pukul 19.03 WIB, dan seluruh rangkaian gerhana berakhir pukul 20.17 WIB.

Satu di antara santri yang terlibat langsung dalam pengamatan, Marsa Rizka Achlani (21), tampak antusias memantau citra bulan melalui layar laptop yang terhubung dengan teleskop di lantai 5.

Karena kondisi cuaca berawan, bulan tidak terlihat jelas secara kasat mata.

“Karena berawan jadi tidak bisa terlihat langsung. Tapi dengan bantuan teleskop bisa terlihat,” ujarnya.

Di hadapan layar tersebut, Marsa mengamati perubahan warna bulan yang perlahan tertutup bayangan bumi hingga tampak memerah saat fase total.

Ia mengaku baru kali ini mengikuti pengamatan bersama dalam skala besar.

“Ini fenomena yang jarang terjadi, jadi ingin sekaligus mengabadikannya,” katanya. (dik)

Editor : Ali Mustofa
#gerhana bulan total #sarasehan #pengamatan bulan #ilmu falak #tbs nu kudus