Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tradisi Sewu Sempol Kudus Kembali Digelar, Ribuan Warga Kirim Doa di Punden Masin

Andika Trisna Saputra • Kamis, 12 Februari 2026 | 18:49 WIB
PULANG: Ribuan pengunjung tradisi sewu sempol di Makam Kramat Masin membawa berkat yang telah didoakan usai tradisi, Kamis (12/2). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)
PULANG: Ribuan pengunjung tradisi sewu sempol di Makam Kramat Masin membawa berkat yang telah didoakan usai tradisi, Kamis (12/2). (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR KUDUS)

KUDUS – Ribuan paha ayam atau sempol menggunung di Komplek Makam Kramat Punden Masin, Dukuh Masin, Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe, Kamis (12/2).

Tradisi Sewu Sempol yang digelar setiap Kamis terakhir bulan Sya’ban atau Ruwah itu kembali menjadi magnet warga, bahkan diikuti lebih dari 1.600 orang.

Sejak siang, warga berbondong-bondong memasuki area punden sambil membawa ingkung ayam.

Satu per satu sempol atau paha ayam dipotong dan dikumpulkan panitia yayasan untuk didoakan bersama.

Suasana khidmat menyelimuti kompleks makam Raden Ayu Dewi Nawangsih dan Raden Bagus Rinangku, dua tokoh leluhur yang dihormati masyarakat setempat.

Ketua Yayasan Makam Kramat Punden Masin, Sumartono, mengatakan tradisi ini merupakan warisan turun-temurun warga Dukuh Masin.

“Tepatnya hari Kamis terakhir menjelang bulan Puasa atau bulan Ramadan,” ujarnya usai pelaksanaan tradisi.

Ia menjelaskan, sejak dulu warga Masin memiliki kebiasaan kirim doa menjelang Ramadan dengan membawa ingkung ke makam leluhur.

Daripada menggelar doa sendiri-sendiri di rumah dan mengundang tetangga, warga sepakat berkumpul bersama di punden kramat.

Dari kebiasaan itulah lahir Tradisi Sewu Sempol.

Menurutnya, setiap warga Kandangmas yang mengikuti tradisi wajib menyembelih satu ekor ayam.

Bagian sempol (paha) diserahkan ke yayasan untuk dikumpulkan, sementara bagian lainnya dibawa pulang.

“Kalau sudah terkumpul satu desa, akhirnya seperti gunung. Makanya disebut seribu sempol,” terangnya.

Sumartono menegaskan tujuan utama tradisi ini adalah sedekah dan kirim doa untuk para leluhur serta keluarga yang telah meninggal.

Melalui doa dan tahlil bersama, masyarakat memohon ampunan bagi ahli kubur serta berharap kehidupan warga diberi ketenteraman, dijauhkan dari marabahaya, dan dilancarkan rezekinya.

“Mudah-mudahan mendapat jalan surga yang luas dan segala kesalahannya diampuni,” paparnya.

Tradisi ini juga menjadi ajang silaturahmi warga, baik yang tinggal di Kandangmas maupun yang merantau.

Setelah didoakan, sempol disuguhkan kepada tamu dan dibagikan sebagai berkat bagi panitia serta peserta.

Kebersamaan inilah yang membuat masyarakat terus setia melestarikan tradisi tersebut.

Kepala Desa Kandangmas, Shofwan, menyebut jumlah sempol yang terkumpul tahun ini mencapai sekitar 1.600 potong, dengan jumlah warga yang hadir lebih dari 1.600 orang.

Selain warga setempat, tamu juga datang dari Jepara, Demak, Pati hingga Purwodadi.

“Bahkan warga asli Kandangmas yang kini tinggal di luar daerah tetap ikut mengayubagya tradisi ini,” katanya.

Melihat antusiasme dan nilai budaya yang kuat, Tradisi Sewu Sempol kini diusulkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB).

Usulan tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pariwisata dan mendapat dukungan pemerintah desa.

“Kami sangat mendukung, apalagi ini juga bagian dari pengembangan dan penataan kawasan wisata. Apa yang menjadi program dinas pariwisata tentu kami kawal bersama,” tandas Shofwan. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#wbtb #sewu sempol #tradisi #makam masin #Kudus