KUDUS – Perhelatan Dandangan resmi dimulai pada Jumat malam (7/2) dan langsung disambut antusias warga.
Didukung cuaca yang bersahabat, ribuan pengunjung memadati lokasi sejak sore hingga malam hari, bertepatan dengan suasana malam Minggu.
Sepanjang Jalan Sunan Kudus, mulai dari sisi barat Alun-alun Simpang Tujuh hingga Perempatan Jember, deretan pedagang tampak memenuhi area di bawah tenda-tenda sarnafil berwarna putih.
Baca Juga: Hector Souto Dipastikan Tetap Tangani Timnas Futsal Indonesia hingga Piala Dunia 2028
Ragam dagangan ditawarkan, mulai dari aneka kuliner hingga pakaian, termasuk produk-produk dari merek lokal. Meski sebagian pedagang sudah mulai melayani pembeli, ada pula yang masih sibuk melakukan persiapan lapak.
Stan pakaian perempuan terlihat paling ramai diserbu pengunjung. Blus, gamis, hingga kerudung dipajang dengan tulisan promo diskon mencapai 50 persen.
Tawaran tersebut sukses menarik perhatian, membuat pengunjung silih berganti mendatangi lapak-lapak tersebut.
Untuk mengurai kepadatan, panitia memberlakukan sistem satu arah.
Jalur sisi selatan digunakan sebagai pintu masuk, sementara sisi utara difungsikan sebagai jalur keluar pengunjung.
Di sekitar gapura bertuliskan “Welcome Dandangan 2026”, sejumlah penghibur jalanan tampil dengan kostum dan riasan menyerupai tokoh-tokoh seram seperti kuntilanak dan pocong.
Ada pula yang mengenakan kostum Kera Sakti. Pengunjung yang ingin berfoto dipersilakan memberi uang seikhlasnya ke kotak yang disediakan.
Salah satu pengunjung, Arif Maryono, warga Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, mengaku menyempatkan diri berfoto bersama Kera Sakti bersama anak-anaknya.
Ia memasukkan uang Rp5.000 sebagai bentuk apresiasi.
“Kasihan juga, mereka bekerja. Anak-anak senang bisa foto bareng, ya kami isi kotaknya,” tuturnya.
Arif menilai, suasana Dandangan saat ini sudah jauh berbeda dibandingkan masa kecilnya.
Baca Juga: Harga Pangan Nasional Turun, Cabai Rawit dan Bawang Merah Ikut Melemah
Menurutnya, jajanan yang dijajakan kini lebih modern, seperti dimsum, cumi bakar, hingga es krim gulung.
Ia mengaku tak lagi menemukan jajanan tradisional yang dulu mendominasi, seperti martabak, onde-onde, tahu petis, atau aromanis.
“Perkembangannya memang sudah berbeda sekarang,” katanya.
Kepadatan pengunjung masih terasa kuat pada pukul 20.00 hingga 22.00 WIB.
Sejumlah pedagang bahkan mengaku kewalahan melayani pembeli.
Norma Yanti, penjual jamur enoki krispi dan telur gulung, mengatakan lapaknya mulai ramai sejak pukul 18.00.
Ia membuka dua tenda karena banyaknya jenis dagangan dan perlengkapan yang dibawa.
“Rata-rata harga jual Rp20 ribu,” ujarnya.
Menariknya, semakin malam jumlah pengunjung justru kian bertambah.
Hingga mendekati pukul 23.00 WIB, suasana Dandangan masih dipenuhi warga yang menikmati kuliner dan hiburan di sepanjang jalan utama tersebut. (san)