Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Bahasa Indonesia Menjadi Senjata Diplomasi Global, Lestari Moerdijat Ungkap Strategi Besar dari Kudus

Andika Trisna Saputra • Kamis, 27 November 2025 | 01:51 WIB
SERAH TERIMA: Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Iwa Lukmana memberikan cinderamata kepada Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat usai seminar di Hotel Gryptha, Rabu (26/11).
SERAH TERIMA: Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Iwa Lukmana memberikan cinderamata kepada Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat usai seminar di Hotel Gryptha, Rabu (26/11).

KUDUS — Upaya memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan global melalui bahasa dan sastra menjadi fokus utama dalam kegiatan Diseminasi Program Diplomasi Kebahasaan dan Kesastraan yang digelar pada Rabu (26/11) di ruang pertemuan Hotel Gryptha Kudus.

Seminar yang menghadirkan sekitar 100 peserta dari komunitas, BEM kampus, mahasiswa, Dinas Arpusda Kudus, serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kudus ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra, Kemendikdasmen.

Anggota Komisi X DPR RI sekaligus Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, menegaskan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis dalam memperkuat jati diri bangsa sekaligus menjadi instrumen diplomasi yang efektif.

Baca Juga: Barcode MyPertamina Kini Jadi Kunci Akses Subsidi

“Bahasa dan sastra adalah dua keping mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya bukan hanya alat komunikasi, tetapi cermin peradaban dan wajah identitas bangsa,” ujarnya.

Menurut Lestari, diplomasi kebahasaan dan kesastraan menjadi kunci penting dalam memperluas jejaring internasional dan memperkuat posisi geopolitik Indonesia.

Hal itu sejalan dengan pengembangan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang kini semakin relevan, terutama dengan banyaknya mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di daerah termasuk Kudus.

“BIPA adalah instrumen utama yang mendorong Bahasa Indonesia tampil sebagai bahasa pengantar di Asia Tenggara dan Indo-Pasifik. Penguatan kurikulum, sertifikasi pengajar, serta perluasan pusat belajar menjadi langkah strategis,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penerjemahan karya sastra Indonesia menjadi jembatan penting membawa kekayaan literasi nusantara ke panggung internasional.

Mulai dari serat babat, hikayat, hingga sastra modern, seluruhnya dinilai berpotensi memperkuat eksistensi Bahasa Indonesia di dunia.

“Program terjemahan membuka peluang besar agar karya kita hadir dalam agenda internasional dan memperluas penyebaran Bahasa Indonesia,” tambahnya.

Baca Juga: APBD 2026 Kudus Disahkan, DPRD Kudus Tekankan Percepatan

Namun, Lestari juga mengingatkan pentingnya diplomasi kebahasaan yang tetap bertumpu pada pelindungan bahasa dan sastra di dalam negeri.

Di tengah derasnya arus globalisasi, banyak bahasa daerah berada di ambang kepunahan.

“Setiap hari bahasa punah. Ini memprihatinkan. Diseminasi harus memastikan literasi kebahasaan dan kesastraan tumbuh seiring upaya internasionalisasi,” katanya. 

Kemajuan teknologi seperti AI, perpustakaan daring, dan pembelajaran digital dinilai membuka peluang baru untuk memperluas jangkauan diplomasi bahasa, asalkan dijalankan melalui kolaborasi berbagai pihak.

Sementara itu, Kepala Pusat Pemberdayaan Bahasa dan Sastra Kemendikdasmen, Iwa Lukmana, menyampaikan bahwa fokus kegiatan ini adalah diplomasi kebahasaan melalui program BIPA dan penguatan penerjemahan.

Ia menilai penerjemahan menjadi bagian penting karena langsung mendukung agenda diplomasi bahasa ke luar negeri.

“Ini bentuk pertanggungjawaban kami kepada publik, sekaligus upaya memperkuat kolaborasi dengan para pengajar BIPA, penyelenggara program, pegiat, hingga para penerjemah,” ungkapnya.

Iwa menjelaskan bahwa terdapat 718 bahasa daerah yang saat ini seluruhnya berada dalam kondisi terancam punah.

Perubahan perilaku bahasa generasi muda turut memperbesar risiko tersebut.

“Kalau anak-anak meninggalkan bahasa daerahnya, itu potensi punah. Upaya kami meliputi penyusunan kamus bahasa daerah, dokumentasi sastra, penulisan buku dwibahasa, hingga revitalisasi bahasa,” terangnya.

Fenomena dominasi budaya populer seperti K-Pop juga diakui memberi tekanan, namun ia menilai bahasa memiliki sifat yang fleksibel. 

“Ada yang kami sebut bahasa musiman. Bahasa itu muncul lalu hilang. Tapi bahasa standar akan selalu bertahan,” katanya.

Melalui kegiatan ini, Badan Bahasa berharap diplomasi kebahasaan dan kesastraan semakin mendapatkan dukungan publik, sekaligus menjadi gerakan bersama untuk memperkuat bahasa sebagai identitas, kekuatan budaya, dan instrumen strategis bangsa di kancah global. (dik)

Editor : Mahendra Aditya
#Lestari Moerdijat #diplomasi bahasa Indonesia #badan bahasa #bahasa dan sastra #kemendikdasmen