Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kembali Digelar, Tradisi Kirab Buka Luwur Sunan Kudus Berlangsung Meriah

Ali Mustofa • Minggu, 31 Juli 2022 | 21:34 WIB
TRADISI TAHUNAN: Para rewang melepas luwur atau kain penutup makam Sunan Kudus kemarin. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)
TRADISI TAHUNAN: Para rewang melepas luwur atau kain penutup makam Sunan Kudus kemarin. (GALIH ERLAMBANG W/RADAR KUDUS)
KUDUS – Tradisi buka luwur atau pelepasan kain putih penutup makam Sunan Kudus digelar kemarin. Rangakain acara kali ini berlangsung meriah, dibanding dua tahun terakhir. Hari ini, diselenggarakan kirab buka luwur.

Pelepasan luwur dilaksanakan pada hari pertama Muharam. Acara ini diawali dengan tahlil oleh panitia dan perewang di dalam cungkup makam Sunan Kudus. Kain luwur yang telah berumur satu tahun itu, digantikan dengan kain luwur baru. Proses pelepasan melibatkan 35 perewang.

Luwur yang dibawa rewang tersebut, dipindahkan ke tajuk. Luwur yang sudah dikeluarkan kemudian dipotong untuk dibagikan kepada ulama, tokoh masyarakat, dan penyumbang acara buka luwur ini.

Selama prosesi pelepasan luwur, pengurus Yayasan Makam Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) sementara tidak memperkenankan pengunjung berziarah masuk ke area makam Sunan Kudus. Peziarah sementara waktu hanya diperbolehkan di area masjid. Jika luwur selesai dilepas makam baru dibuka untuk umum.

Panitia Kegiatan Tradisi Buka Luwur Makam Sunan Kudus Muhammad Kharis menyatakan, total panjang kain mencapai 1.500 meter. Kain yang kali pertama dilepas adalah di bagian di sekeliling cungkup makam Sunan Kudus. Kemudian diikuti kain luwur di sekitarnya. ”Tahun ini rangkainnya ada kirab buka luwur. Start dari Alun-alun Kudus dan finish di Menara," katanya.

Kirab buka luwur ini, akan dilaksanakan hari ini pukul 13.00. Rangkaian lain, ada stan kuliner Jadul Empat Negeri dari Sabtu-Minggu (30-31/7). Dari pukul 09.00 hingga 21.00.

Acara berikutnya, bahtsul masail nasional digelar Kamis (4/8). Selanjutnya doa rasul dan terbangan digelar pada Sabtu (6/8). Khatmil Quran bil ghaib diselenggarakan pada Minggu (7/8) pukul 04.30 sekaligus dilanjutkan santunan anak yatim.

Rangkaian berikutnya, pembacaan kasidah Al-Barzanji pada Minggu (7/8) pukul 19.30. Dilanjutkan pengajian umum dengan pembicara KH A. Chalwani Nawawi.

Keesokan harinya, pembagian berkat salinan pada Senin (8/8) sejak pukul 01.30. Dilanjutkan pembagian berkat kartu sedekah serta pembagian berkat umum kepada warga. Puncaknya upacara buka luwur Sunan Kudus.

Sementara pada tahun ini, pihak yayasan memastikan akan membuka antrean nasi uyah asem khas buka luwur untuk masyarakat luas. Sebelumnya selama dua tahun antrean tersebut tidak buka. ”Karena kondisi Covid-19 sudah mereda, kami buka antrean (nasi uyah asem, Red), tapi tetap memperhatikan protokol kesehatan," ungkapnya.

Panitia juga membuka peluang bagi masyarakat yang hendak bersedakah untuk acara buka luwur. Nantinya masyarakat yang bersedakah akan mendapatkan berkat salinan berupa nasi uyah asem.

Sementara untuk pemasangan luwur Makam Sunan Kudus dilaksana Jumat (5/8) hingga Minggu (7/8) mendatang.

Untuk Kuliner Jadul Empat Negeri, digelar di Taman Menara. Kegiatan ini, dimaksudkan untuk memperkenalakan kepada masyarakat. Ada 34 stan. Tiap stan menjajakan makanan jadul dan modern. Ada puli kothokan, gudeg, kebab dari Arab, dawet, dan lainnya.

Kuliner Jadul Empat Negeri ini, dibuka dari Sabtu (30/7) hingga Minggu (7/8) mulai pukul 09.00 hingga 21.00.

Koordinator Kuliner Jadul Empat Negeri Noor Aziz menyatakan, konsep Kuliner Jadul Empat Negeri diambil meruntut dulunya terdapat empat peradaban di sekitar Menara Kudus. Meliputi, Jawa, Arab, Tiongkok, dan Eropa. ”Kulinernya bervariatif jenisnya. Seperti ada puli khotokan maupun kebab, dawet, dan lainnya," jelasnya.

Aziz yang merupakan kepala Desa Janggalan menjelaskan, makanan puli khotokan merupakan khas dari desanya. Konon makanan tersebut merupakan kesukaan Mbah Jenggolo, pendiri Desa Janggalan yang juga murid Sunan Kudus.

Dihadirkan puli khotokan ini, untuk nguri-uri budaya. Uniknya, pengirisan puli tidak menggunakan pisau. Melainkan dengan seutas benang, agar irisannya tipis.

Puli tersebut dikolaborasikan dengan kuah khotokan. Warnanya merah muda. Tren saat ini, kuah tersebut ditambahkan dengan tahu, telur, dan cabai yang direbus. (gal/lin) Editor : Ali Mustofa
#puli khotokan #nguri-uri budaya #sunan kudus #nasi uyah asem #kirab buka luwur #Kudus