alexametrics
30.8 C
Kudus
Sunday, May 29, 2022

Aksi Baku Hantam Warnai Pilkades di Kudus, Satu Pendukung Masuk IGD

KUDUS – Aksi baku hantam mewarnai pemilihan kepala desa di Kudus kemarin. Kejadian terjadi sekitar pukul 09.00 di gang 6 Desa Undaan Lor, Undaan, Kudus. Melibatkan dua kubu dari dua pendukung calon kades. Akibatnya, salah satu pendukung calon luka parah dan dibawa ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Loekmonohadi.

Nasib nahas itu dialami Muali warga gang 31, RT 7/RW 5 Desa Undaan Lor, Undaan. Korban mengalami luka robek di kepala.

Dia salah satu pendukung calon kepala desa nomor urut dua Sunaryo.


Ketika wartawan koran ini menjumpainya di RSUD Loekmonohadi sekitar pukul 13.21, yang bersangkutan menjalani visum dan terbaring di ruang IGD.

Kuasa hukum Muali, Amir Darmanto menjelaskan korban mengalami luka karena dikeroyok kubu pendukung pasangan calon kades nomor urut tiga.

Kejadian bermula ketika korban mengingatkan bahwa dalam pilkades tak diperbolehkan adanya mobilisasi masa. Sebab pendukung calon kades nomor tiga itu telah memobilisasi masa menggunakan kendaraan roda empat.

”Kubu tersebut diingatkan korban. Tetapi mereka kemudian menanyai korban soal landsan hukum pelarangan itu. Muali pun langsung menunjukkan bukti kesepakatan melalui handphone,” terangnya.

Setelah bukti itu ditunjukkan, Muali seketika didorong oleh pendukung  salah satu calon nomor urut tiga Nurul Qomar dengan inisial EP.

Dari belakang EP, seketika masa lainnya ikut mengeroyok, menginjak, dan memukul korban. Sehingga membuat korban terjatuh. Saat itu korban sendiri sehingga tak ada yang membantu.

”Korban terjatuh, diinjak-injak dan sampai kepalanya bocor (luka, Red). Darah keluar. Lukanya di kepala satu centimeter,” imbuhnya.

Baca Juga :  Libur Maulid Nabi, Makam Sunan Kudus Diserbu Peziarah

Atas kejadian itu korban kemudian hendak lapor ke Polres Kudus. Tetapi saat di tengah jalan, pihaknya merasa sakit sehingga dilarikan ke rumah sakit. Dan menjalani perawatan di IGD.

”Atas tindakan itu kami merasa ini masuk Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. Dan juga masuk Pasal 170 tentang kekerasan dan pengeroyokan. Kasus ini kami laporkan, dan silahkan penyidik melakukan penyidikan,” tegasnya.

Laporan tersebut menurutnya penting agar pihak-pihak terkait tidak main hakim sendiri. Serta memberikan contoh kepada masyarakat bahwa pada pemilihan kepala desa tak dibenarkan adanya aksi-aksi seperti itu.

Kapolres Kudus AKBP Wiraga Dimas Tama menjelaskan pihaknya sigap menyikapi persoalan tersebut. Dengan memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai klarifikasi. Terlebih memang ada aduan atas kejadian itu.

Kapolres menilai kejadian itu bermula dari tingkat fanatisme dari pendukung calon dan adanya kesalahpahaman.

”Mereka yang kami mintai klarifikasi bukan dari calon. Tetapi pendukung calon. Ada tiga orang yang kami mintai klarifikasi di kantor Polres,” imbuhnya.

Ketua Panitia Pilkades Desa Undaan Lor Rohwan menjelaskan sebelumnya memang sudah ada kesepakatan antar calon bahwa saat pelaksanaan pemungutan suara tidak ada mobilisasi.

”Kesepakatan semalam (Selasa (29/3), Red) memang tidak boleh ada mobilisasi. Tetapi mungkin para pendukung ada yang salah presepsi,” ucapnya.

Pilkades Undaan Lor diikuti empat calon yakni, Fatchul Anam, Sunaryo, Nurul Qomar, dan Aldi Alvianto. Dalam pilkades itu dimenangkan nomor urut tiga Nurul Qomar. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Aksi baku hantam mewarnai pemilihan kepala desa di Kudus kemarin. Kejadian terjadi sekitar pukul 09.00 di gang 6 Desa Undaan Lor, Undaan, Kudus. Melibatkan dua kubu dari dua pendukung calon kades. Akibatnya, salah satu pendukung calon luka parah dan dibawa ke IGD Rumah Sakit Umum Daerah Loekmonohadi.

Nasib nahas itu dialami Muali warga gang 31, RT 7/RW 5 Desa Undaan Lor, Undaan. Korban mengalami luka robek di kepala.

Dia salah satu pendukung calon kepala desa nomor urut dua Sunaryo.

Ketika wartawan koran ini menjumpainya di RSUD Loekmonohadi sekitar pukul 13.21, yang bersangkutan menjalani visum dan terbaring di ruang IGD.

Kuasa hukum Muali, Amir Darmanto menjelaskan korban mengalami luka karena dikeroyok kubu pendukung pasangan calon kades nomor urut tiga.

Kejadian bermula ketika korban mengingatkan bahwa dalam pilkades tak diperbolehkan adanya mobilisasi masa. Sebab pendukung calon kades nomor tiga itu telah memobilisasi masa menggunakan kendaraan roda empat.

”Kubu tersebut diingatkan korban. Tetapi mereka kemudian menanyai korban soal landsan hukum pelarangan itu. Muali pun langsung menunjukkan bukti kesepakatan melalui handphone,” terangnya.

Setelah bukti itu ditunjukkan, Muali seketika didorong oleh pendukung  salah satu calon nomor urut tiga Nurul Qomar dengan inisial EP.

Dari belakang EP, seketika masa lainnya ikut mengeroyok, menginjak, dan memukul korban. Sehingga membuat korban terjatuh. Saat itu korban sendiri sehingga tak ada yang membantu.

”Korban terjatuh, diinjak-injak dan sampai kepalanya bocor (luka, Red). Darah keluar. Lukanya di kepala satu centimeter,” imbuhnya.

Baca Juga :  Pemkab Kudus Larang Bikin Acara Rame-Rame di Malam Tahun Baru

Atas kejadian itu korban kemudian hendak lapor ke Polres Kudus. Tetapi saat di tengah jalan, pihaknya merasa sakit sehingga dilarikan ke rumah sakit. Dan menjalani perawatan di IGD.

”Atas tindakan itu kami merasa ini masuk Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan. Dan juga masuk Pasal 170 tentang kekerasan dan pengeroyokan. Kasus ini kami laporkan, dan silahkan penyidik melakukan penyidikan,” tegasnya.

Laporan tersebut menurutnya penting agar pihak-pihak terkait tidak main hakim sendiri. Serta memberikan contoh kepada masyarakat bahwa pada pemilihan kepala desa tak dibenarkan adanya aksi-aksi seperti itu.

Kapolres Kudus AKBP Wiraga Dimas Tama menjelaskan pihaknya sigap menyikapi persoalan tersebut. Dengan memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai klarifikasi. Terlebih memang ada aduan atas kejadian itu.

Kapolres menilai kejadian itu bermula dari tingkat fanatisme dari pendukung calon dan adanya kesalahpahaman.

”Mereka yang kami mintai klarifikasi bukan dari calon. Tetapi pendukung calon. Ada tiga orang yang kami mintai klarifikasi di kantor Polres,” imbuhnya.

Ketua Panitia Pilkades Desa Undaan Lor Rohwan menjelaskan sebelumnya memang sudah ada kesepakatan antar calon bahwa saat pelaksanaan pemungutan suara tidak ada mobilisasi.

”Kesepakatan semalam (Selasa (29/3), Red) memang tidak boleh ada mobilisasi. Tetapi mungkin para pendukung ada yang salah presepsi,” ucapnya.

Pilkades Undaan Lor diikuti empat calon yakni, Fatchul Anam, Sunaryo, Nurul Qomar, dan Aldi Alvianto. Dalam pilkades itu dimenangkan nomor urut tiga Nurul Qomar. (tos/zen)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/