alexametrics
24.7 C
Kudus
Tuesday, June 28, 2022

Pengadilan Agama Catat Kasus Perceraian di Kudus Meningkat selama Pandemi

KUDUS – Persoalan ekonomi akibat pandemi Covid-19 turut merambat ke urusan rumah tangga. Ditandai dengan meningkatnya kasus perceraian selama 2020 dan 2021 dengan memakai perbandingan pada kasus 2019.

Pengadilan Agama Kudus mencatat, sebelum ada pandemi Covid-19 angka perceraian relatif lebih rendah. Misalnya pada 2019, tercatat hanya 1.309 kasus cerai. Sedangkan sejak 2020-2021, angkanya melonjak. Pada 2020 menjadi 1.368 dan 2021 di angka 1.370.

Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Kudus Muchammad Muchlis mengatakan, memang terjadi peningkatan kasus perceraian dalam dua tahun terakhir. Dia menyebut, pandemi Covid-19 yang berimbas pada sektor ekonomi berdampak pada harmonisasi keluarga.


”Untuk 2021 ini misalnya, dari 1.370 kasus ada tiga faktor utama yang melatarbelakangi. Pertama, terkait ekonomi ada 287 kasus. Kemudian pertengkaran dan perselisihan ada 836 kasus. Dan salah satu pihak meninggalkan atau pisah secara tidak jelas ada 126 kasus. Tetapi faktor kedua dan ketiga bila dirunut, nanti ujungnya juga masalah ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga :  Pengajuan Dispensasi Nikah di Jepara Meningkat 23,5 Persen

Menurutnya, biasanya dalam kasus-kasus itu, salah satu pihak merasa tidak puas. Tidak terpenuhi nafkah lahir. Yang paling dominan yakni terhadap posisi perempuan.

”Biasanya nafkahnya kurang atau berkurang. Kemudian mereka mengajukan cerai. Jadi, jangan heran bila dari 1.370 kasus, 986 perkara di antaranya itu kategori cerai gugat atau diajukan pihak perempuan,” katanya.

Melihat kondisi itu, menurutnya Pengadilan Agama tidak tinggal diam. Dalam setiap perkara selalu didorong untuk mediasi dan damai sebelum perkara diputus. Tetapi upaya tersebut sering kali gagal.

”Hakim atau mediator sebenarnya sudah ada upaya untuk memediasi kedua belah pihak. Tapi, memang jarang yang berhasil. Tahun ini yang berhasil dimediasi dan didamaikan kembali hanya ada tiga kasus cerai,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Persoalan ekonomi akibat pandemi Covid-19 turut merambat ke urusan rumah tangga. Ditandai dengan meningkatnya kasus perceraian selama 2020 dan 2021 dengan memakai perbandingan pada kasus 2019.

Pengadilan Agama Kudus mencatat, sebelum ada pandemi Covid-19 angka perceraian relatif lebih rendah. Misalnya pada 2019, tercatat hanya 1.309 kasus cerai. Sedangkan sejak 2020-2021, angkanya melonjak. Pada 2020 menjadi 1.368 dan 2021 di angka 1.370.

Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Kudus Muchammad Muchlis mengatakan, memang terjadi peningkatan kasus perceraian dalam dua tahun terakhir. Dia menyebut, pandemi Covid-19 yang berimbas pada sektor ekonomi berdampak pada harmonisasi keluarga.

”Untuk 2021 ini misalnya, dari 1.370 kasus ada tiga faktor utama yang melatarbelakangi. Pertama, terkait ekonomi ada 287 kasus. Kemudian pertengkaran dan perselisihan ada 836 kasus. Dan salah satu pihak meninggalkan atau pisah secara tidak jelas ada 126 kasus. Tetapi faktor kedua dan ketiga bila dirunut, nanti ujungnya juga masalah ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga :  MUI Kudus Bina dan Tingkatkan Kualitas Islam Para Mualaf

Menurutnya, biasanya dalam kasus-kasus itu, salah satu pihak merasa tidak puas. Tidak terpenuhi nafkah lahir. Yang paling dominan yakni terhadap posisi perempuan.

”Biasanya nafkahnya kurang atau berkurang. Kemudian mereka mengajukan cerai. Jadi, jangan heran bila dari 1.370 kasus, 986 perkara di antaranya itu kategori cerai gugat atau diajukan pihak perempuan,” katanya.

Melihat kondisi itu, menurutnya Pengadilan Agama tidak tinggal diam. Dalam setiap perkara selalu didorong untuk mediasi dan damai sebelum perkara diputus. Tetapi upaya tersebut sering kali gagal.

”Hakim atau mediator sebenarnya sudah ada upaya untuk memediasi kedua belah pihak. Tapi, memang jarang yang berhasil. Tahun ini yang berhasil dimediasi dan didamaikan kembali hanya ada tiga kasus cerai,” imbuhnya. (lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/