alexametrics
25.3 C
Kudus
Saturday, July 2, 2022

Dinas Kesehatan Sebut Kasus Stunting di Kudus Turun Tinggal 4,5 Persen

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyebut angka kasus stunting turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya. Berawal dari 4,6 persen turun menjadi 4,5 persen dari total balita di Kudus. DKK terus berupaya menurunkan angka itu, dengan gencar melakukan pencegahan.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Muslimah mengatakan, penanganan kasus stunting dengan cara intervensi gizi, spesifik berkontribusi 20 persen. Kegiatannya dilakukan sektor kesehatan. Sedangkan 80 persen dari intervensi gizi sensitif di luar sektor kesehatan. Faktornya mulai dari kemiskinan, pendidikan, lingkungan, sosial, dan air bersih.

”Untuk saat ini, kami fokus pada arah kegiatan sensitif. Dimulai dari sosialisasi pentingnya penyediaan air bersih, ketahanan pangan dan gizi, keluarga berencana, pendidikan gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan persalinan dasar, fortifikasi pangan, pengentasan kemiskinan, serta intervensi untuk kalangan remaja perempuan,” katanya kemarin.

Baca Juga :  Bupati Haryanto Beberkan Satu Penyebab PTM di Pati Ditunda

Dia mengatakan, ada balita yang terlanjur terkena stunting, upaya selanjutnya dengan cara pemberian makanan tambahan (PMT). Dengan menggunakan pola makan yang sesuai dengan standar gizi dan sesuai dengan tahapan umur.

Dia menyarankan, jika anak masih bayi, jangan cepat-cepat diberi MPASI (makanan pendamping air susu ibu). Karena susah mengunyah dan mencerna. ”Jatahnya masih mendapatkan  ASI eksklusif ya jangan dulu diberi MPASI,” ujarnya.

Harapannya, di tingkat posyandu memaksimalkan kegiatan dan memanfaatkan anggaran untuk kegiatan percepatan penurunan stunting. Terutama di desa lokus stunting (desa dengan angka stunting tinggi). ”Kami juga berharap peran aktif lintas sektor atau OPD (organisasi perangkat daerah) terkait sesuai dengan bidang masing-masing,” harapnya. (ark/lin)

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus menyebut angka kasus stunting turun 0,1 persen dari tahun sebelumnya. Berawal dari 4,6 persen turun menjadi 4,5 persen dari total balita di Kudus. DKK terus berupaya menurunkan angka itu, dengan gencar melakukan pencegahan.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Muslimah mengatakan, penanganan kasus stunting dengan cara intervensi gizi, spesifik berkontribusi 20 persen. Kegiatannya dilakukan sektor kesehatan. Sedangkan 80 persen dari intervensi gizi sensitif di luar sektor kesehatan. Faktornya mulai dari kemiskinan, pendidikan, lingkungan, sosial, dan air bersih.

”Untuk saat ini, kami fokus pada arah kegiatan sensitif. Dimulai dari sosialisasi pentingnya penyediaan air bersih, ketahanan pangan dan gizi, keluarga berencana, pendidikan gizi masyarakat, jaminan kesehatan masyarakat, jaminan persalinan dasar, fortifikasi pangan, pengentasan kemiskinan, serta intervensi untuk kalangan remaja perempuan,” katanya kemarin.

Baca Juga :  Akibat Salah Ukur BPN, Tanah Kejaksaan Kudus Alami Pergeseran

Dia mengatakan, ada balita yang terlanjur terkena stunting, upaya selanjutnya dengan cara pemberian makanan tambahan (PMT). Dengan menggunakan pola makan yang sesuai dengan standar gizi dan sesuai dengan tahapan umur.

Dia menyarankan, jika anak masih bayi, jangan cepat-cepat diberi MPASI (makanan pendamping air susu ibu). Karena susah mengunyah dan mencerna. ”Jatahnya masih mendapatkan  ASI eksklusif ya jangan dulu diberi MPASI,” ujarnya.

Harapannya, di tingkat posyandu memaksimalkan kegiatan dan memanfaatkan anggaran untuk kegiatan percepatan penurunan stunting. Terutama di desa lokus stunting (desa dengan angka stunting tinggi). ”Kami juga berharap peran aktif lintas sektor atau OPD (organisasi perangkat daerah) terkait sesuai dengan bidang masing-masing,” harapnya. (ark/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/