alexametrics
24 C
Kudus
Sunday, July 3, 2022

Perkuat Moderasi, Hadirkan lima Tokoh Lintas Iman dan Kepercayaan

KUDUS – KKN-IK IAIN di Desa Dersalam, Bae menggelar seminar penguatan moderasi beragama Jumat (24/9). Seminar itu mengangkat tema Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati. Menghadirkan tokoh dari berbagai agama dan penghayat kepercayaan. Yakni tokoh Islam Moh. Rosyid, tokoh Buddha Pandita Suparno Bodhi Cakra, tokoh Kristen Pendeta Erick Sudharma. Turut hadir tokoh penghayat kepercayaan Sapto Darmo Bapak Norlan dan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kudus I Putu Dantre.

Acara diawali dengan sekapur sirih dari tokoh Desa Dersalam Setya Gunawan Wahib Wahab yang akrab disapa Wawan menyampaikan warga Dersalam hidup rukun. Tidak pernah ada selisih paham antarwarga.

“Setiap ada persoalan kecil sekali pun di WhatsApp (WA) grup warga, solusinya itu diajak madhang geden (makan bersama). Itu sudah langsung beres,” terangnya.


Pembicara pertama Pandita Suparno mengulas secara lengkap tugas manusia sesuai dengan tema Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati. Dia mengungkapkan moderasi beragama artinya pengamalan agama melalui jalan tengah.

Dia mengungkapkan Ngabekti Marang Gusti tugas maksudnya menaati perintah Tuhan. Yaitu membersihkan raga, macak semedi (merapal) memusatkan perhatian pada Gusti. Ngabekti itu ada istilah jiwo lan rogo, rogo lan sukma. Raga harus dibersihkan. Dalam jawa itu adus kramas. Setelah itu pacak semedi, mengalahkan nafsu panca indera.

Baca Juga :  Berniat Renang di Sungai, Pemuda di Kudus Ini Malah Tenggelam

“Pengertian Urip Kang Gemati yakni proses kehidupan dengan melaksanakan kewajiban Gusti dan melaksanakan kehidupan bermasyarakat. Urip kang gemati artinya hidup itu berproses. Hidup itu tidak berhenti,” tuturnya.

Suparno mengatakan, hidup ada dua kebutuhan supaya menjadi harmonis dan tentram. Yaitu menuruti kebutuhan hidup dan menuruti kebutuhan keinginan. Jika ingin tentram, harus mengikuti kebutuhan hidup.

Sedangkan dari sisi agama Kristen, Pendeta Erick mengungkapkan tugas manusia sesuai dengan Al-Kitab ada dua. Yakni mengabdi pada Tuhan Allah dan mengasihi makhluk seperti mengasihi diri sendiri.

“Ada nilai yang patut dijunjung tinggi. Yakni kasih, kebenaran, keadilan, perdamaian, dan kebutuhan cipta. Dan saya pikir lima nilai ini ada di semua agama. Untuk saling mengasihi butuh kesadaran pada nilai kemanusiaan yang Tuhan karuniakan pada kita,” ungkapnya.

Selanjutnya, Moh. Rosyid, aktivis dan pembela hak agama dan penghayat kepercayaan yang mengingatkan problematika keagamaan di Indonesia. Menurutnya, selama ini penghayat kepercayaan tidak mendapat tempat karena anggapan hanya enam agama yang diakui Indonesia. “Tidak boleh negara mengatur jumlah agama yang diakui. Karena dalam pasal 29 UUD 1945, negara menjamin penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya,” ungkapnya. (mal)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – KKN-IK IAIN di Desa Dersalam, Bae menggelar seminar penguatan moderasi beragama Jumat (24/9). Seminar itu mengangkat tema Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati. Menghadirkan tokoh dari berbagai agama dan penghayat kepercayaan. Yakni tokoh Islam Moh. Rosyid, tokoh Buddha Pandita Suparno Bodhi Cakra, tokoh Kristen Pendeta Erick Sudharma. Turut hadir tokoh penghayat kepercayaan Sapto Darmo Bapak Norlan dan Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Kudus I Putu Dantre.

Acara diawali dengan sekapur sirih dari tokoh Desa Dersalam Setya Gunawan Wahib Wahab yang akrab disapa Wawan menyampaikan warga Dersalam hidup rukun. Tidak pernah ada selisih paham antarwarga.

“Setiap ada persoalan kecil sekali pun di WhatsApp (WA) grup warga, solusinya itu diajak madhang geden (makan bersama). Itu sudah langsung beres,” terangnya.

Pembicara pertama Pandita Suparno mengulas secara lengkap tugas manusia sesuai dengan tema Ngabekti Marang Gusti, Urip Kang Gemati. Dia mengungkapkan moderasi beragama artinya pengamalan agama melalui jalan tengah.

Dia mengungkapkan Ngabekti Marang Gusti tugas maksudnya menaati perintah Tuhan. Yaitu membersihkan raga, macak semedi (merapal) memusatkan perhatian pada Gusti. Ngabekti itu ada istilah jiwo lan rogo, rogo lan sukma. Raga harus dibersihkan. Dalam jawa itu adus kramas. Setelah itu pacak semedi, mengalahkan nafsu panca indera.

Baca Juga :  Berniat Renang di Sungai, Pemuda di Kudus Ini Malah Tenggelam

“Pengertian Urip Kang Gemati yakni proses kehidupan dengan melaksanakan kewajiban Gusti dan melaksanakan kehidupan bermasyarakat. Urip kang gemati artinya hidup itu berproses. Hidup itu tidak berhenti,” tuturnya.

Suparno mengatakan, hidup ada dua kebutuhan supaya menjadi harmonis dan tentram. Yaitu menuruti kebutuhan hidup dan menuruti kebutuhan keinginan. Jika ingin tentram, harus mengikuti kebutuhan hidup.

Sedangkan dari sisi agama Kristen, Pendeta Erick mengungkapkan tugas manusia sesuai dengan Al-Kitab ada dua. Yakni mengabdi pada Tuhan Allah dan mengasihi makhluk seperti mengasihi diri sendiri.

“Ada nilai yang patut dijunjung tinggi. Yakni kasih, kebenaran, keadilan, perdamaian, dan kebutuhan cipta. Dan saya pikir lima nilai ini ada di semua agama. Untuk saling mengasihi butuh kesadaran pada nilai kemanusiaan yang Tuhan karuniakan pada kita,” ungkapnya.

Selanjutnya, Moh. Rosyid, aktivis dan pembela hak agama dan penghayat kepercayaan yang mengingatkan problematika keagamaan di Indonesia. Menurutnya, selama ini penghayat kepercayaan tidak mendapat tempat karena anggapan hanya enam agama yang diakui Indonesia. “Tidak boleh negara mengatur jumlah agama yang diakui. Karena dalam pasal 29 UUD 1945, negara menjamin penduduk untuk memeluk agama dan beribadah menurut agamanya dan kepercayaannya,” ungkapnya. (mal)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/