alexametrics
26.5 C
Kudus
Tuesday, May 17, 2022

Kurikulum Merdeka bakal Diterapkan di Kudus, Guru Wajib Lakukan Ini

KUDUS Kurikulum Merdeka sebentar lagi diterapkan di Kudus. Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, telah mempersiapkan pendampingan untuk guru terkait cara penyusunan modul ajar.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widodo melalui Kasi Kurikulum Afri Shofianingrum menjelaskan, rencananya Mei nanti Kurikulum Merdeka sudah mulai diterapkan. Terutama di 31 sekolah penggerak. Untuk sekolah lain masih diperbolehkan memilih, pakai kurikulum K13 atau Kurikulum Merdeka.

Ia menjelaskan, Kurikulum Merdeka secara tidak langsung mengubah gaya mengajar guru. Yang semula materi sudah tersedia pada silabus bahan ajar, nantinya guru wajib memuat bahan ajar sendiri dalam bentuk modul. Baik guru kelas maupun guru mata pelajaran.


”Secara tidak langsung, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Bisa jadi tiap sekolah materi yang diterima siswa berbeda. Kalau dulu seragam tematik, di Kurikulum Merdeka ya tematik, cuma di dalamnya materinya dari gurunya sendiri,” ungkapnya.

Ia mengimbau kepada para guru, agar tidak khawatir, terutama bagi guru-guru yang usianya sudah tua dan susah untuk berpikir membuat modul. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sudah mempersiapkan video-video contoh guru yang mengajarnya menggunakan modul buatannya sendiri.

”Sementara ini diperbolehkan mengikuti cara ajar yang sudah ada. Kemudian saling berdiskusi sesama guru juga boleh, Bertukar idea tau mengkolaborasi dibebaskan. Pada intinya, modul dibuat sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  Setahun, Dua Ribu Warga Kudus Mundur dari PKH

Afri menuturkan, guru-guru muda pikirannya memang masih fresh, sehingga lebih mudah membuat ide-ide pengajaran. Termasuk sudah melek teknologi.

Kelebihan lain dari Kurikulum Merdeka ini, kelompok kerja guru (KKG) bisa aktif kembali. Sebab, sebagai wadah untuk berdiskusi dan saling bertukar ide untuk membuat modul ajar.

Sementara itu, guru mata pelajaran (mapel) bisa berdiskusi lewat forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) masing-masing. Dengan begitu, organisasi yang sekarang ini vakum akan kembali hidup sebagai wadah pembahasan penyusunan modul ajar.

Terpisah, Widyaprada Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PP PAUD dan Dikmas) Jawa Tengah Heri Martono menjelaskan, setelah Kurikulum Merdeka diterapkan, nantinya rapor tidak lagi berisi nilai, tapi uraian evaluasi kemampuan dan bakat masing-masing siswa.

”Tujuannya, orang tua tahu bakat anaknya, sehingga tidak lagi ada pemaksaan untuk harus belajar akademis atau nonakademis. Bagus lagi untuk PAUD. Jadi, orang tahu sejak dini bakat anak, sehingga mereka bisa mengarahkan bakat anaknya dengan benar,” ujarnya saat berkunjung ke Disdikpora Kudus baru-baru ini. (san/lin)

KUDUS Kurikulum Merdeka sebentar lagi diterapkan di Kudus. Dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kudus, telah mempersiapkan pendampingan untuk guru terkait cara penyusunan modul ajar.

Kepala Disdikpora Kudus Harjuna Widodo melalui Kasi Kurikulum Afri Shofianingrum menjelaskan, rencananya Mei nanti Kurikulum Merdeka sudah mulai diterapkan. Terutama di 31 sekolah penggerak. Untuk sekolah lain masih diperbolehkan memilih, pakai kurikulum K13 atau Kurikulum Merdeka.

Ia menjelaskan, Kurikulum Merdeka secara tidak langsung mengubah gaya mengajar guru. Yang semula materi sudah tersedia pada silabus bahan ajar, nantinya guru wajib memuat bahan ajar sendiri dalam bentuk modul. Baik guru kelas maupun guru mata pelajaran.

”Secara tidak langsung, guru dituntut untuk kreatif dan inovatif. Bisa jadi tiap sekolah materi yang diterima siswa berbeda. Kalau dulu seragam tematik, di Kurikulum Merdeka ya tematik, cuma di dalamnya materinya dari gurunya sendiri,” ungkapnya.

Ia mengimbau kepada para guru, agar tidak khawatir, terutama bagi guru-guru yang usianya sudah tua dan susah untuk berpikir membuat modul. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sudah mempersiapkan video-video contoh guru yang mengajarnya menggunakan modul buatannya sendiri.

”Sementara ini diperbolehkan mengikuti cara ajar yang sudah ada. Kemudian saling berdiskusi sesama guru juga boleh, Bertukar idea tau mengkolaborasi dibebaskan. Pada intinya, modul dibuat sendiri,” jelasnya.

Baca Juga :  HUT ke-57 Golkar Jadi Ajang Konsolidasi dan Besarkan Partai

Afri menuturkan, guru-guru muda pikirannya memang masih fresh, sehingga lebih mudah membuat ide-ide pengajaran. Termasuk sudah melek teknologi.

Kelebihan lain dari Kurikulum Merdeka ini, kelompok kerja guru (KKG) bisa aktif kembali. Sebab, sebagai wadah untuk berdiskusi dan saling bertukar ide untuk membuat modul ajar.

Sementara itu, guru mata pelajaran (mapel) bisa berdiskusi lewat forum musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) masing-masing. Dengan begitu, organisasi yang sekarang ini vakum akan kembali hidup sebagai wadah pembahasan penyusunan modul ajar.

Terpisah, Widyaprada Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (PP PAUD dan Dikmas) Jawa Tengah Heri Martono menjelaskan, setelah Kurikulum Merdeka diterapkan, nantinya rapor tidak lagi berisi nilai, tapi uraian evaluasi kemampuan dan bakat masing-masing siswa.

”Tujuannya, orang tua tahu bakat anaknya, sehingga tidak lagi ada pemaksaan untuk harus belajar akademis atau nonakademis. Bagus lagi untuk PAUD. Jadi, orang tahu sejak dini bakat anak, sehingga mereka bisa mengarahkan bakat anaknya dengan benar,” ujarnya saat berkunjung ke Disdikpora Kudus baru-baru ini. (san/lin)

Most Read

Artikel Terbaru

/