28 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

KKN-IK IAIN Kudus Gelar Sarasehan Moderasi Beragama untuk Persatuan Bangsa

KUDUS – Tim Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN-IK) IAIN Kudus mengadakan sarasehan Moderasi Beragama di Balai Desa Medini, Undaan, Jumat (23/9). Sarasehan ini mengambil tema “Penerapan Moderasi Beragama sebagai Media Pemersatu Masyarakat Desa Medini”. Tujuannya mencegah ekstimitas radikalisme dan memupuk persatuan bangsa.

Hadir dalam acara itu Karang Taruna, perwakilan IPNU dan IPPNU, seluruh perwakilan Badan Otonom NU Ranting Medini, para tokoh masayarakat, Kepala Desa Medini Agus Sugiyanto, Ketua Tanfidziah NU Ranting Medini Maskuri Suhud, serta dosen pembimbing lapangan Achmad Ali Fikri.

Kepala Desa Medini Agus Sugiyanto menjelaskan penduduk di desanya 99,9 persen muslim. Hanya ada satu KK non-muslim. ”Selama ini alhamdulillah Desa Medini tidak pernah ada masalah terkait pelaksanaan dan kegiatan beragama,” jelasnya.


Ketua NU Ranting Desa Medini Maskuri Suhud menyampaikan bahwasanya NU dan banom di bawahnya selalu berkoordinasi dan berkerja sama dengan pihak terkait untuk menjaga stabilitas dan kerukunan antar umat beragama. ”Bahkan dalam kegiatan-kegiatan berbasis sosial NU tidak memandang dan membedakan agama serta lebih condong kepada nilai kemanusiaan,” jelasnya.

Dosen Pembimbing Lapangan Achmad Ali Fikri menjelaskan moderasi beragama adalah moderasi dalam melaksanakan ajaran agama. Dengan mengambil jalan tengah dalam beragama. Moderasi dalam beragamanya bukan dalam memahami agamanya.

Baca Juga :  Resmi Dibuka, TMMD Sengkuyung Kodim Kudus Bangun Jalan Usaha Tani

”Dan sebenarnya masyarakat Desa Medini insyaAllah sudah menerapkan hal tersebut melalui ajaran turun tenurun dari para leluhur. Sehingga dalam menjalankan agama tidak saklek dan lentur,” jelasnya.

Moderasi beragama juga cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara melaksanakan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan.

”Salah satu esensi kehadiran agama ialah untuk menjaga martabat manusia  sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.  Untuk mencapai target tersebut, agama menghadirkan ajaran tentang keseimbangan dalam aspek kehidupan manusia,” jelasnya.

Moderasi beragama amanah dari Kementerian Agama untuk dibumikan dan disebarluaskan kepada maasayarakat.

Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Kudus Dr. Muhammad Miftah, M.PdI mengatakan, moderasi beragama menjadi kebutuhan bersama. Sebagai upaya meminamilisasi gejolak perbadaan cara pandang keagamaan yang menceruat di tengah-tengah masyarakat. Klaim kebenaran atas tafsir keagamaan dan justifikasi kesalahan tafsir keagamaan lain yang selama ini menjadi sumber persoalan dan mengganggu keharmonisan keberagamaan di Indonesia.

”Diskusi mengenai moderasi beragama penting dimasifkan sebagai upaya meredam gesekan sosial atas nama agama di tengah masyarakat kita, terlebih program moderasi beragama saat ini menjadi salah satu kebijakan nasional yang termaktub dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2019-2024,” jelasnya. (zen)

KUDUS – Tim Kuliah Kerja Nyata Terintegrasi Kompetensi (KKN-IK) IAIN Kudus mengadakan sarasehan Moderasi Beragama di Balai Desa Medini, Undaan, Jumat (23/9). Sarasehan ini mengambil tema “Penerapan Moderasi Beragama sebagai Media Pemersatu Masyarakat Desa Medini”. Tujuannya mencegah ekstimitas radikalisme dan memupuk persatuan bangsa.

Hadir dalam acara itu Karang Taruna, perwakilan IPNU dan IPPNU, seluruh perwakilan Badan Otonom NU Ranting Medini, para tokoh masayarakat, Kepala Desa Medini Agus Sugiyanto, Ketua Tanfidziah NU Ranting Medini Maskuri Suhud, serta dosen pembimbing lapangan Achmad Ali Fikri.

Kepala Desa Medini Agus Sugiyanto menjelaskan penduduk di desanya 99,9 persen muslim. Hanya ada satu KK non-muslim. ”Selama ini alhamdulillah Desa Medini tidak pernah ada masalah terkait pelaksanaan dan kegiatan beragama,” jelasnya.

Ketua NU Ranting Desa Medini Maskuri Suhud menyampaikan bahwasanya NU dan banom di bawahnya selalu berkoordinasi dan berkerja sama dengan pihak terkait untuk menjaga stabilitas dan kerukunan antar umat beragama. ”Bahkan dalam kegiatan-kegiatan berbasis sosial NU tidak memandang dan membedakan agama serta lebih condong kepada nilai kemanusiaan,” jelasnya.

Dosen Pembimbing Lapangan Achmad Ali Fikri menjelaskan moderasi beragama adalah moderasi dalam melaksanakan ajaran agama. Dengan mengambil jalan tengah dalam beragama. Moderasi dalam beragamanya bukan dalam memahami agamanya.

Baca Juga :  TIM PKM UMK Berdayakan Disabilitas dengan Kreasi Anyaman Bambu

”Dan sebenarnya masyarakat Desa Medini insyaAllah sudah menerapkan hal tersebut melalui ajaran turun tenurun dari para leluhur. Sehingga dalam menjalankan agama tidak saklek dan lentur,” jelasnya.

Moderasi beragama juga cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara melaksanakan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan.

”Salah satu esensi kehadiran agama ialah untuk menjaga martabat manusia  sebagai mahkluk ciptaan Tuhan.  Untuk mencapai target tersebut, agama menghadirkan ajaran tentang keseimbangan dalam aspek kehidupan manusia,” jelasnya.

Moderasi beragama amanah dari Kementerian Agama untuk dibumikan dan disebarluaskan kepada maasayarakat.

Kepala Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat IAIN Kudus Dr. Muhammad Miftah, M.PdI mengatakan, moderasi beragama menjadi kebutuhan bersama. Sebagai upaya meminamilisasi gejolak perbadaan cara pandang keagamaan yang menceruat di tengah-tengah masyarakat. Klaim kebenaran atas tafsir keagamaan dan justifikasi kesalahan tafsir keagamaan lain yang selama ini menjadi sumber persoalan dan mengganggu keharmonisan keberagamaan di Indonesia.

”Diskusi mengenai moderasi beragama penting dimasifkan sebagai upaya meredam gesekan sosial atas nama agama di tengah masyarakat kita, terlebih program moderasi beragama saat ini menjadi salah satu kebijakan nasional yang termaktub dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2019-2024,” jelasnya. (zen)


Most Read

Artikel Terbaru

/