alexametrics
26.9 C
Kudus
Saturday, January 22, 2022

Festival Pager Mangkok di Kudus Diawali dengan Kirab, Diakhiri Tahlilan

KUDUS – Kampung Budaya Piji Wetan, Desa Lau menggelar kirab festival Pager Mangkok kemarin. Festival tersebut untuk meneladani ajaran Sunan Muria yang peduli terhadap sesama.

Kirab tersebut diiringi dengan gunungan hasil bumi Dukuh Piji Wetan. Gunungan tersebut berisi nanas, lombok, pete, dan beragam sayuran. Masyarakat mengarak gunungan  tersebut menuju Punden Depok.

Di Punden Depok juga ditata nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Nasi tersebut ditata di atas meja beralaskan kain hitam. Pada prosesi kirab juga dibacakan tahlil bersama.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan Muchamad Zaini menyatakan Festival Pager Mangkok ini sebagai bentuk penghormatan dan uri-uri laku ajaran Sunan Muria. Secara filosofis mengajarkan untuk bersedekah dan peduli dengan tetangga.

Lewat feStival, kata dia, akan memunculkan keharmonisan sekaligus menjaga kerukunan  antar-masyarakat desa.

Baca Juga :  Delapan Ton Rokok Bodong di Kudus Dimusnahkan

“Pager mangkok artinya bersedekah. Pager Mangkok luwih becik daripada pager tembok. Lebih baik kami ada saling berbagi dengan tetangga,” katanya.

Sementara terkait gunungan yang diarak merupakan hasil dari kekayaan bumi Dukuh Piji Wetan. Hal tersebut bentuk ekspresi dan rasa syukur masyarakat.

Untuk pemilihan, lokasi Punden Depok, dulunya tempat tersebut dijadikan bertemunya masyarakat desa. Mulai dari yang muda dan tua guyub menjadi satu.

“Semoga bisa menemukan hakikat dan meneladani ajaran Sunan Muria,” terangnya.

Selain menyelenggarakan kirab budaya, ada beberapa agenda lain, seperti, pameran seni rupa, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kelas kebudayaan, dan pentas seni. (mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Kampung Budaya Piji Wetan, Desa Lau menggelar kirab festival Pager Mangkok kemarin. Festival tersebut untuk meneladani ajaran Sunan Muria yang peduli terhadap sesama.

Kirab tersebut diiringi dengan gunungan hasil bumi Dukuh Piji Wetan. Gunungan tersebut berisi nanas, lombok, pete, dan beragam sayuran. Masyarakat mengarak gunungan  tersebut menuju Punden Depok.

Di Punden Depok juga ditata nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Nasi tersebut ditata di atas meja beralaskan kain hitam. Pada prosesi kirab juga dibacakan tahlil bersama.

Koordinator Kampung Budaya Piji Wetan Muchamad Zaini menyatakan Festival Pager Mangkok ini sebagai bentuk penghormatan dan uri-uri laku ajaran Sunan Muria. Secara filosofis mengajarkan untuk bersedekah dan peduli dengan tetangga.

Lewat feStival, kata dia, akan memunculkan keharmonisan sekaligus menjaga kerukunan  antar-masyarakat desa.

Baca Juga :  Inovatif, Bikin Sabun Antiseptik dari Sampah Dapur

“Pager mangkok artinya bersedekah. Pager Mangkok luwih becik daripada pager tembok. Lebih baik kami ada saling berbagi dengan tetangga,” katanya.

Sementara terkait gunungan yang diarak merupakan hasil dari kekayaan bumi Dukuh Piji Wetan. Hal tersebut bentuk ekspresi dan rasa syukur masyarakat.

Untuk pemilihan, lokasi Punden Depok, dulunya tempat tersebut dijadikan bertemunya masyarakat desa. Mulai dari yang muda dan tua guyub menjadi satu.

“Semoga bisa menemukan hakikat dan meneladani ajaran Sunan Muria,” terangnya.

Selain menyelenggarakan kirab budaya, ada beberapa agenda lain, seperti, pameran seni rupa, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), kelas kebudayaan, dan pentas seni. (mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru