25.3 C
Kudus
Monday, November 28, 2022

Kurangi Suplai Sampah ke TPA, Lima Desa di Kudus Dibangun TPS dan Dilengkapi Mesin Pencacah

KUDUS – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memfasilitasi pembangunan tempat pengolahan sampah dan mesin pencacah di lima desa di Kudus. Pembangunan diharapkan mampu mengurangi kiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo dan bisa bis diolah agar menjadi nilai ekonomis.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus, Arief Budi Siswanto menyebut sebelum diberikan bantuan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dari desa. Yaitu, kesiapan pihak desa menyiapkan lokasi TPS tersebut, data stunting, memiliki bank sampah, sumber daya manusia (SDM), dan lainnya.

“Kami memverifikasi desa sesuai dengan syarat yang diberikan kementerian, ” katanya.


Untuk desa yang dinyatakan lolos verifikasi ada lima desa. Diantaranya Desa Prambatan Lor, Getasrabi, Menawan, Kedungdowo. Setiap desa mendapatkan alokasi bantuan dana sebanyak Rp 600 juta.

“Pencairan dilakukan tiga tahap, sekarang sudah berjalan pembangunannya 25 persen,” jelasnya.

Arief berharap dengan pembangunan itu bisa mengurangi sampah masuk ke TPA Tanjungrejo. Sehingga diolah di TPS yang ada di desa. Warga juga diharapkan bisa menyulap sampah menjadi nilai ekonomi.

Baca Juga :  Callig Down: Mempersoalkan Surat Edaran Menteri Agama Nomor 05 Tahun 2022

Sementara itu, Kepala Desa Prambatan Lor Teguh Budi menyatakan pembangunan TPS sudah dimulai. Fokus pembangunan ini adalah untuk pengolahan sampah yang bisa dimanfaatkan nantinya.

Selain itu, dalam pembangunan tersebut akan dilengkapi alat pencacah sampah.

Camat Kaliwungu, Satria Agus Himawan menyatakan jika desa memiliki TPS sendiri merupakan hal yang positif untuk menekan pengiriman sampah ke TPA Tanjungrejo. Pasalnya kondisi TPA saat ini sudah overload.

Dia menambahkan, pengolahan di TPS Desa Prambatan akan menjadi nilai ekonomis nantinya. Sampah diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.
“Proses pengolahan awal bisa dipilih pada tingkat rumah tangga. Prosesnya berlanjut ke tingkat bank sampah,” katanya.

Kecamatan Kaliwungu, kata Satria, baru-baru ini tengah menggagas pengolahan sampah. Ada beberapa desa yang sedang memulainya. Yaitu di Desa Banget dan Sidorekso.

“Kaliwungu menjadi pilot projek. Di desa Sidorekso sampah diolah dan dimanfaatkan menjadi bahan bakar minyak,” ungkapnya. (gal) 






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memfasilitasi pembangunan tempat pengolahan sampah dan mesin pencacah di lima desa di Kudus. Pembangunan diharapkan mampu mengurangi kiriman sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjungrejo dan bisa bis diolah agar menjadi nilai ekonomis.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus, Arief Budi Siswanto menyebut sebelum diberikan bantuan ada beberapa syarat yang harus dipenuhi dari desa. Yaitu, kesiapan pihak desa menyiapkan lokasi TPS tersebut, data stunting, memiliki bank sampah, sumber daya manusia (SDM), dan lainnya.

“Kami memverifikasi desa sesuai dengan syarat yang diberikan kementerian, ” katanya.

Untuk desa yang dinyatakan lolos verifikasi ada lima desa. Diantaranya Desa Prambatan Lor, Getasrabi, Menawan, Kedungdowo. Setiap desa mendapatkan alokasi bantuan dana sebanyak Rp 600 juta.

“Pencairan dilakukan tiga tahap, sekarang sudah berjalan pembangunannya 25 persen,” jelasnya.

Arief berharap dengan pembangunan itu bisa mengurangi sampah masuk ke TPA Tanjungrejo. Sehingga diolah di TPS yang ada di desa. Warga juga diharapkan bisa menyulap sampah menjadi nilai ekonomi.

Baca Juga :  Dua Tahun Mati, Lampu City Walk Kudus Akhirnya Dinyalakan Lagi

Sementara itu, Kepala Desa Prambatan Lor Teguh Budi menyatakan pembangunan TPS sudah dimulai. Fokus pembangunan ini adalah untuk pengolahan sampah yang bisa dimanfaatkan nantinya.

Selain itu, dalam pembangunan tersebut akan dilengkapi alat pencacah sampah.

Camat Kaliwungu, Satria Agus Himawan menyatakan jika desa memiliki TPS sendiri merupakan hal yang positif untuk menekan pengiriman sampah ke TPA Tanjungrejo. Pasalnya kondisi TPA saat ini sudah overload.

Dia menambahkan, pengolahan di TPS Desa Prambatan akan menjadi nilai ekonomis nantinya. Sampah diolah dan disesuaikan dengan kebutuhan yang ada.
“Proses pengolahan awal bisa dipilih pada tingkat rumah tangga. Prosesnya berlanjut ke tingkat bank sampah,” katanya.

Kecamatan Kaliwungu, kata Satria, baru-baru ini tengah menggagas pengolahan sampah. Ada beberapa desa yang sedang memulainya. Yaitu di Desa Banget dan Sidorekso.

“Kaliwungu menjadi pilot projek. Di desa Sidorekso sampah diolah dan dimanfaatkan menjadi bahan bakar minyak,” ungkapnya. (gal) 






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/