alexametrics
31.4 C
Kudus
Friday, July 1, 2022

Dianggap Langgar Perjanjian, Galian C di Jekulo Kudus Di-Stop Warga

KUDUS – Salah satu Galian C yang terletak di Desa Tanjungrejo, Jekulo, dihentikan warga pada Jumat (25/2). Sebab, dalam proses penambangan itu, dianggap melanggar kesepakatan yang dibuat dengan warga sekitar, yakni warga RW 8. Sebab, melebihi batas hingga membuang terasering pada lahan tambang itu.

Menurut informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Kudus, ada dua lokasi titik penambangan. Di sebelah utara dan selatan. Berbatasan secara langsung. Yang diberhentikan warga yang bagian utara. Di situ terlihat masih ada satu alat berat. Namun, sudah tidak beroperasi, karena sudah diberhentikan warga secara paksa.

Sedangkan di penambangan sebelah selatan tetap berjalan. Satu alat berat masih beroperasi dengan lima truk yang memuat kerukan tanah secara bergiliran.


Salah satu perwakilan warga RW 8 Desa Tanjungrejo, Jekulo, Usman menyebut, pemberhentian ini dilakukan secara spontan pada pagi hari kemarin. Para pemuda warga RW 8 semula hanya kerja bakti. Hingga akhirnya ada satu warga yang tak sengaja melintas di lokasi penambangan itu. Warga tersebut melihat ada yang tidak beres.

”Dari situ ada laporan jika penambangan melanggar kesepakatan atau MoU dengan warga. Yang awalnya kesepakatan hanya 20 meter dari jalan, ternyata melebihi. Menjadi 30 meter. Sehingga secara spontan warga ke lokasi penambangan dan meminta diberhentikan,” jelasnya.

Baca Juga :  Waduh, Lima Hari Lagi 20 Ribu AstraZenecca di Kudus Kedaluwarsa

Menurutnya, ada 20 warga yang mendatangi para pekerja tambang dan meminta aktivitas mereka berhenti. Sebab selain melanggar batas, penambangan galian C itu, juga melanggar kesepakatan lain. Yakni berupa keharusan membuat terasering.

”Di lokasi itu kami haruskan ada terasering dengan ketinggian 3 meter. Semula memang ada, tetapi ini malah semuanya dikepras, sehingga tak ada lagi (terasering). Akibatnya, membuat lahan bekas galian menjadi curam dan berbahaya,” katanya.

Menurutnya, perjanjian dan kesepakatan itu, bukan asal-asalan. Ada penandatangan hitam di atas putih. Sudah diketahui baik pihak penambang, kepala desa, maupun warga.

Dari pihak pemilik usaha penambangan pun menurutnya sudah diberitahu dan legowo. Sebab, setelah ditelisik kesalahan ada pada operator alat berat.

”Alasan pengeprasan terasering kata driver alat berat, karena disuruh pemilik tanah. Tetapi, dalam upaya itu tidak ada pembicaran dengan kami. Sehingga kami anggap tetap melanggar kesepakatan. Terlebih pemilik usaha mengizinkan kami memberhentikan bila para pekerjanya melakukan kesalahan,” jelasnya.

Pengeprasan terasering pada area penambangan itu, menurutnya akan menimbulkan dampak negatif. Seperti membuat bekas galian menjadi curam, sehingga rawan bagi keselamatan dan membahayakan bagi anak-anak.

”Bisa juga berpotensi pada longsor saat musim hujan, karena tebingnya menjadi curam. Ini kan berbahaya,” imbuhnya. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Salah satu Galian C yang terletak di Desa Tanjungrejo, Jekulo, dihentikan warga pada Jumat (25/2). Sebab, dalam proses penambangan itu, dianggap melanggar kesepakatan yang dibuat dengan warga sekitar, yakni warga RW 8. Sebab, melebihi batas hingga membuang terasering pada lahan tambang itu.

Menurut informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Kudus, ada dua lokasi titik penambangan. Di sebelah utara dan selatan. Berbatasan secara langsung. Yang diberhentikan warga yang bagian utara. Di situ terlihat masih ada satu alat berat. Namun, sudah tidak beroperasi, karena sudah diberhentikan warga secara paksa.

Sedangkan di penambangan sebelah selatan tetap berjalan. Satu alat berat masih beroperasi dengan lima truk yang memuat kerukan tanah secara bergiliran.

Salah satu perwakilan warga RW 8 Desa Tanjungrejo, Jekulo, Usman menyebut, pemberhentian ini dilakukan secara spontan pada pagi hari kemarin. Para pemuda warga RW 8 semula hanya kerja bakti. Hingga akhirnya ada satu warga yang tak sengaja melintas di lokasi penambangan itu. Warga tersebut melihat ada yang tidak beres.

”Dari situ ada laporan jika penambangan melanggar kesepakatan atau MoU dengan warga. Yang awalnya kesepakatan hanya 20 meter dari jalan, ternyata melebihi. Menjadi 30 meter. Sehingga secara spontan warga ke lokasi penambangan dan meminta diberhentikan,” jelasnya.

Baca Juga :  HUT ke-49, Masan: PDI Perjuangan Mampu Perjuangkan Wong Cilik

Menurutnya, ada 20 warga yang mendatangi para pekerja tambang dan meminta aktivitas mereka berhenti. Sebab selain melanggar batas, penambangan galian C itu, juga melanggar kesepakatan lain. Yakni berupa keharusan membuat terasering.

”Di lokasi itu kami haruskan ada terasering dengan ketinggian 3 meter. Semula memang ada, tetapi ini malah semuanya dikepras, sehingga tak ada lagi (terasering). Akibatnya, membuat lahan bekas galian menjadi curam dan berbahaya,” katanya.

Menurutnya, perjanjian dan kesepakatan itu, bukan asal-asalan. Ada penandatangan hitam di atas putih. Sudah diketahui baik pihak penambang, kepala desa, maupun warga.

Dari pihak pemilik usaha penambangan pun menurutnya sudah diberitahu dan legowo. Sebab, setelah ditelisik kesalahan ada pada operator alat berat.

”Alasan pengeprasan terasering kata driver alat berat, karena disuruh pemilik tanah. Tetapi, dalam upaya itu tidak ada pembicaran dengan kami. Sehingga kami anggap tetap melanggar kesepakatan. Terlebih pemilik usaha mengizinkan kami memberhentikan bila para pekerjanya melakukan kesalahan,” jelasnya.

Pengeprasan terasering pada area penambangan itu, menurutnya akan menimbulkan dampak negatif. Seperti membuat bekas galian menjadi curam, sehingga rawan bagi keselamatan dan membahayakan bagi anak-anak.

”Bisa juga berpotensi pada longsor saat musim hujan, karena tebingnya menjadi curam. Ini kan berbahaya,” imbuhnya. (tos/lin)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/