alexametrics
24.6 C
Kudus
Wednesday, May 25, 2022

Pemkab Kudus Didesak Daftarkan Baju Adat Pengantin Kudusan Warisan Budaya

KUDUS – Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kudus mendesak pemerintah daerah untuk segera mendaftarkan baju adat pengantin Kudusan menjadi warisan budaya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal ini untuk mengantisipasi baju adat Kudus punah tergerus zaman.

Prias penganti Dave Papilus yang sekaligus tergabung pada HAPRI Kudus David Maulana menyatakan tren busa harus mengikuti zaman untuk menarik  minat para pemakainya. Ini diaplikasikan pada busa tradisional pengantin Kudusan yang dikemas secara modern. Upaya ini agar tradisi itu tidak punah dan tak ditinggalkan masyarakat.

Untuk itu pihaknya mendorong adanya legalitas terhadap busana adat pengantin Kudusan. Yakni dengan mendaftarkan ke Kemendikbud warisan baju adat khas Kudus itu. “Semoga bisa cepat keluar sertifikasi pendaftarannya, informasinya sudah didaftarkan, tetapi kami tetap menunggu,” katanya.


David menambahkan, kota-kota yang lain sudah memiliki legalalitas atas baju adat pengantin khas daerahnya, seperti Jogja, Solo, dan kota lainnya.

Baju pengantin Kudus, kata David tidak hanya untuk pesta resepsi saja. Tetapi ada juga ragamnnya untuk prosesi akad nikah.

Baca Juga :  Dongkrak Pasokan Beras, Dispertan Kudus Dorong Empat Kali Tanam Padi

Pakaian pengantin adat nikah Kudusan tergolong unik. David menyebut pakaian tersebut diadopsi busana kesaharian masyarakat terdahulu yang memakai caping kalo dan slendang.

“Upaya kami tetap berinovasi tidak meninggalkan adat terdahulu agar warisan ini tidak punah. Konsepnya lebih mendekatkan pada kekinian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, baju pengantin adat Kudusan berangsur sudah diminati oleh kaum milineal. Yakni baju adat Kudusan beludru. Pakaian tradisional yang simple tersebut biasanya dipergunakan untuk proses pemotretan pre wedding.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah menyatakan pemerintah daerah siap dan sudah memfasilitasi pendaftaran pakaian adat pengantin Kudus. Upaya ini sangat penting, agar kebudayaan asli daerah ini tidak punah maupun diklaim daerah lain.

“Sudah kami daftarkan. Prosesnya masih berada di Kemendikbud,” katanya. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

KUDUS – Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Kudus mendesak pemerintah daerah untuk segera mendaftarkan baju adat pengantin Kudusan menjadi warisan budaya ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hal ini untuk mengantisipasi baju adat Kudus punah tergerus zaman.

Prias penganti Dave Papilus yang sekaligus tergabung pada HAPRI Kudus David Maulana menyatakan tren busa harus mengikuti zaman untuk menarik  minat para pemakainya. Ini diaplikasikan pada busa tradisional pengantin Kudusan yang dikemas secara modern. Upaya ini agar tradisi itu tidak punah dan tak ditinggalkan masyarakat.

Untuk itu pihaknya mendorong adanya legalitas terhadap busana adat pengantin Kudusan. Yakni dengan mendaftarkan ke Kemendikbud warisan baju adat khas Kudus itu. “Semoga bisa cepat keluar sertifikasi pendaftarannya, informasinya sudah didaftarkan, tetapi kami tetap menunggu,” katanya.

David menambahkan, kota-kota yang lain sudah memiliki legalalitas atas baju adat pengantin khas daerahnya, seperti Jogja, Solo, dan kota lainnya.

Baju pengantin Kudus, kata David tidak hanya untuk pesta resepsi saja. Tetapi ada juga ragamnnya untuk prosesi akad nikah.

Baca Juga :  Tak Ada Ampun, Dikontrak 5 Tahun, Kinerja PPPK Jelek Langsung Dihentikan

Pakaian pengantin adat nikah Kudusan tergolong unik. David menyebut pakaian tersebut diadopsi busana kesaharian masyarakat terdahulu yang memakai caping kalo dan slendang.

“Upaya kami tetap berinovasi tidak meninggalkan adat terdahulu agar warisan ini tidak punah. Konsepnya lebih mendekatkan pada kekinian,” ungkapnya.

Lebih lanjut, baju pengantin adat Kudusan berangsur sudah diminati oleh kaum milineal. Yakni baju adat Kudusan beludru. Pakaian tradisional yang simple tersebut biasanya dipergunakan untuk proses pemotretan pre wedding.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Mutrikah menyatakan pemerintah daerah siap dan sudah memfasilitasi pendaftaran pakaian adat pengantin Kudus. Upaya ini sangat penting, agar kebudayaan asli daerah ini tidak punah maupun diklaim daerah lain.

“Sudah kami daftarkan. Prosesnya masih berada di Kemendikbud,” katanya. (gal/mal)






Reporter: Galih Erlambang Wiradinata

Most Read

Artikel Terbaru

/