alexametrics
23.8 C
Kudus
Friday, May 27, 2022

Diduga Tak Ada Keadilan Perkara Gugat Cerai, Hakim PA Kudus Dilaporkan

KUDUS – Dianggap mengabaikan azas keadilan, hakim Pengadilan Agama Kudus dilaporkan. Pelaporan dilakukan seorang pengacara bernama Harun Ar-Rasyid karena hakim diduga mengabaikan azas keadilan dalam perkara kasus gugatan cerai talak antara Raka Karsono melawan Nuryatun.

Harun sebagai kuasa hukum Nuryatun menyebut dalam perkara tersebut kliennya sebagai termohon dalam kasus perceraian nomor 1245/Pdt.G/2021/PA.Kds., dalam persidangan tersebut hakim yang bersangkutan dianggap tidak bijaksana dan mengabaikan hukum acara persidangan semestinya.

“Saat persidangan digelar, termohon terlambat datang sekitar lima menit. Dan ternyata, pada saat itu hakim sudah menyidangkan perkara dan bahkan mengeluarkan putusan, yakni menerima gugatan perceraian dari pemohon. Padahal itu baru sidang pertama,” terangnya.


Harun mengatakan secara normatif dalam persidangan perceraian jika ada satu pihak yang tidak datang, semestinya hakim bisa menunda persidangan. Apalagi ini baru sidang pertama.

“Majelis hakim yang diketuai Rodiyah dan hakim anggota Ah. Sholeh dan Ulfah tetap melaksanakan sidang tanpa menunggu termohon. Ditambah lagi hakim juga sudah memutus mengabulkan gugatan cerai yang disampaikan pemohon dengan mengesampingkan jawaban persidangan dan hak-hak klien kami sebagai istri yang dicerai,” imbuhnya.

Atas tindakan itu, Harun berupaya melaporkan hakim yang bertugas pada persidangan itu ke Badan Pengawas Hakim. Sebab putusan yang itu dinilai sangat subjektif dengan mengindahkan azas keadilan, sehingga perlu ditinjau.

Baca Juga :  Emak-Emak Di Kudus Diajari Mbatik Untuk Ciptakan Usaha Mandiri

Wakil Ketua Pengadilan Agama Kudus Abdul Halim Muhammad Sholeh menyebut persidangan tersebut sudah sesuai hukum acara tata cara sidang. Mulai dari surat pemanggilannya yang minimal tiga hari sebelum jadwal sidang persidangan berlangsung.

“Jika salah satu pihak tidak hadir, persidangan tetap bisa dilaksanakan. Jika alasan terlambat lima menit saat masih melihat pemohon keluar dari ruang sidang, dimungkinkan tergugat datang lebih dari lima menit,” ujarnya.

Dia mengatakan, jika ada pihak yang tidak terima dengan putusan hakim yang dijatuhkan, termohon bisa mengajukan verzet. Itu menurutnya bisa dilakukan di tingkat pengadilan yang sama. Dengan batas waktu 14 hari.

Nuryatun selaku termohon dalam kasus itu menyatakan jika sebenarnya dia masih enggan bercerai dengan suami. Meski dalam kasus tersebutu pihaknya yang disakiti. Sebab selama 11 tahun tidak menerima nafkah apapun.

Dia menjelaskan, jika suaminya terbukti selingkuh dengan tetangga hingga hamil, maka Nuryatun tetap minta hak-haknya sebagai seorang istri yang telah membesarkan tiga orang anaknya.

“Pada 2010 sampai 2013 saya pernah menjadi TKW di Oman. Uang yang saya kirim malah digunakan suami, tetapi kenapa balasannya malah seperti itu,” ungkapnya. (mal)

 

 






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Dianggap mengabaikan azas keadilan, hakim Pengadilan Agama Kudus dilaporkan. Pelaporan dilakukan seorang pengacara bernama Harun Ar-Rasyid karena hakim diduga mengabaikan azas keadilan dalam perkara kasus gugatan cerai talak antara Raka Karsono melawan Nuryatun.

Harun sebagai kuasa hukum Nuryatun menyebut dalam perkara tersebut kliennya sebagai termohon dalam kasus perceraian nomor 1245/Pdt.G/2021/PA.Kds., dalam persidangan tersebut hakim yang bersangkutan dianggap tidak bijaksana dan mengabaikan hukum acara persidangan semestinya.

“Saat persidangan digelar, termohon terlambat datang sekitar lima menit. Dan ternyata, pada saat itu hakim sudah menyidangkan perkara dan bahkan mengeluarkan putusan, yakni menerima gugatan perceraian dari pemohon. Padahal itu baru sidang pertama,” terangnya.

Harun mengatakan secara normatif dalam persidangan perceraian jika ada satu pihak yang tidak datang, semestinya hakim bisa menunda persidangan. Apalagi ini baru sidang pertama.

“Majelis hakim yang diketuai Rodiyah dan hakim anggota Ah. Sholeh dan Ulfah tetap melaksanakan sidang tanpa menunggu termohon. Ditambah lagi hakim juga sudah memutus mengabulkan gugatan cerai yang disampaikan pemohon dengan mengesampingkan jawaban persidangan dan hak-hak klien kami sebagai istri yang dicerai,” imbuhnya.

Atas tindakan itu, Harun berupaya melaporkan hakim yang bertugas pada persidangan itu ke Badan Pengawas Hakim. Sebab putusan yang itu dinilai sangat subjektif dengan mengindahkan azas keadilan, sehingga perlu ditinjau.

Baca Juga :  Cetak Santri Dengan Pengelolaan Manajemen Keuangan Unggul

Wakil Ketua Pengadilan Agama Kudus Abdul Halim Muhammad Sholeh menyebut persidangan tersebut sudah sesuai hukum acara tata cara sidang. Mulai dari surat pemanggilannya yang minimal tiga hari sebelum jadwal sidang persidangan berlangsung.

“Jika salah satu pihak tidak hadir, persidangan tetap bisa dilaksanakan. Jika alasan terlambat lima menit saat masih melihat pemohon keluar dari ruang sidang, dimungkinkan tergugat datang lebih dari lima menit,” ujarnya.

Dia mengatakan, jika ada pihak yang tidak terima dengan putusan hakim yang dijatuhkan, termohon bisa mengajukan verzet. Itu menurutnya bisa dilakukan di tingkat pengadilan yang sama. Dengan batas waktu 14 hari.

Nuryatun selaku termohon dalam kasus itu menyatakan jika sebenarnya dia masih enggan bercerai dengan suami. Meski dalam kasus tersebutu pihaknya yang disakiti. Sebab selama 11 tahun tidak menerima nafkah apapun.

Dia menjelaskan, jika suaminya terbukti selingkuh dengan tetangga hingga hamil, maka Nuryatun tetap minta hak-haknya sebagai seorang istri yang telah membesarkan tiga orang anaknya.

“Pada 2010 sampai 2013 saya pernah menjadi TKW di Oman. Uang yang saya kirim malah digunakan suami, tetapi kenapa balasannya malah seperti itu,” ungkapnya. (mal)

 

 






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/