alexametrics
30.4 C
Kudus
Sunday, June 19, 2022

Boneka Lilit, Suvenir Buatan Desa Jurang yang Tembus Pasar Jepang

KUDUS — Boneka lilit (Bolit) karya dari Edi Purwanto yang berlokasi di RT 2/RW 2, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, menjadi kerajinan unik. Bahkan kerajinan itu dipesan untuk buah tangan sampai ke negeri Jepang.

Bolit terbuat dari bahan dasar limbah kertas rokok filter yang sudah tidak terpakai, kawat, dan juga lem untuk perekat. Pembuatan bolit ditekuni Edi semenjak tahun 2017. Ia bercerita awal membuat bolit dari tali pegangan untuk tas kertas.


Ditambahkan, karena saat itu banyak tali tersebut yang tidak terpakai. Daripada terbuang, dimanfaatkan Edi untuk membuat boneka lilit. Cara pembuatanya tak terlalu sulit, dengan membuat pola boneka dengan kawat, kemudian mengambil kertas limbah filter rokok yang sudah dilinting menjadi tali. Setelah itu baru dililitkan ke kerangka kawat dan direkatkan dengan sebuah lem.

Sesuai dengan namanya boneka lilit, Lanjut Edi, kali pertama membuat karakter boneka saja. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menggabungkan karakter-karakter tersebut dengan bahan-bahan limbah lain yang bisa digunakan.

”Botol minuman, kendi rijek (pecah/rusak), batu dan ranting-ranting tanaman. Nanti ya bisa jadi boneka lilit yang ada fungsinya menjadi gantungan kunci, asbak, tempat korek, pigura foto, dan juga sebagai pajangan dinding,” ujarnya.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi sekitar 60 buah bolit dan mampu menjual 10 hingga 15 karakter bolit. Penjualanya pun tak hanya dipasar lokal, bahkan hingga Magelang, Jakarta, bahkan negara Jepang.

Baca Juga :  Minta Maaf ke Nasabah, Bank BSI Janji Perketat Pengawasan

”Sampai ke Jepang itu 2018, pas ada event karya seni Borobudur Art. Kalau pemasaran saat ini masih dari mulut ke mulut, rencananya awal dulu memang buat ini sebagai souvenir untuk paket wisata di Desa Jurang. Tapi sekarang, yang pesan untuk sovenir pernikahan juga banyak,” jelasnya.

KARYA TANGAN: Edu Purwanto menunjukkan boneka lilit bikinannya. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Keterampilan tangannya, dalam membuat bolit juga diajarkan kepada anak-anak disekitar rumahnya. Edi menambahkan, pada saat pandemi dan pembelajaran masih daring, anak-anak diajarkan cara membuat bolit, daripada waktunya banyak digunakan bermain game, lantas ia mengajaknya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat.

”Membuat kreasi seperti ini mungkin lebih berfaedah. Dan itu bisa melatih kemandirian anak dan tidak minta uang jajan ke orangtuanya. Setiap hasil yang mereka buat akan saya kasih uang jajan untuk mereka. Untuk awal-awal jadi dua sampai tiga mereka sudah capek, tapi yang sudah mahir bisa sepuluh hingga 15 bolit,” ujarnya.

Harganya sendiri cukup terjangkau mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung bentuk dan ukuranya. Sementara jika untuk souvenir ia mematok harga yang berbeda karena biasanya ukuranya lebih kecil dan pesannya lebih banyak. (san/lid/adv)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS — Boneka lilit (Bolit) karya dari Edi Purwanto yang berlokasi di RT 2/RW 2, Desa Jurang, Kecamatan Gebog, menjadi kerajinan unik. Bahkan kerajinan itu dipesan untuk buah tangan sampai ke negeri Jepang.

Bolit terbuat dari bahan dasar limbah kertas rokok filter yang sudah tidak terpakai, kawat, dan juga lem untuk perekat. Pembuatan bolit ditekuni Edi semenjak tahun 2017. Ia bercerita awal membuat bolit dari tali pegangan untuk tas kertas.

Ditambahkan, karena saat itu banyak tali tersebut yang tidak terpakai. Daripada terbuang, dimanfaatkan Edi untuk membuat boneka lilit. Cara pembuatanya tak terlalu sulit, dengan membuat pola boneka dengan kawat, kemudian mengambil kertas limbah filter rokok yang sudah dilinting menjadi tali. Setelah itu baru dililitkan ke kerangka kawat dan direkatkan dengan sebuah lem.

Sesuai dengan namanya boneka lilit, Lanjut Edi, kali pertama membuat karakter boneka saja. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menggabungkan karakter-karakter tersebut dengan bahan-bahan limbah lain yang bisa digunakan.

”Botol minuman, kendi rijek (pecah/rusak), batu dan ranting-ranting tanaman. Nanti ya bisa jadi boneka lilit yang ada fungsinya menjadi gantungan kunci, asbak, tempat korek, pigura foto, dan juga sebagai pajangan dinding,” ujarnya.

Dalam sehari, ia bisa memproduksi sekitar 60 buah bolit dan mampu menjual 10 hingga 15 karakter bolit. Penjualanya pun tak hanya dipasar lokal, bahkan hingga Magelang, Jakarta, bahkan negara Jepang.

Baca Juga :  Gubernur Ganjar Perintahkan Bupati Terapkan Mikro Lockdown

”Sampai ke Jepang itu 2018, pas ada event karya seni Borobudur Art. Kalau pemasaran saat ini masih dari mulut ke mulut, rencananya awal dulu memang buat ini sebagai souvenir untuk paket wisata di Desa Jurang. Tapi sekarang, yang pesan untuk sovenir pernikahan juga banyak,” jelasnya.

KARYA TANGAN: Edu Purwanto menunjukkan boneka lilit bikinannya. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Keterampilan tangannya, dalam membuat bolit juga diajarkan kepada anak-anak disekitar rumahnya. Edi menambahkan, pada saat pandemi dan pembelajaran masih daring, anak-anak diajarkan cara membuat bolit, daripada waktunya banyak digunakan bermain game, lantas ia mengajaknya untuk melakukan hal yang lebih bermanfaat.

”Membuat kreasi seperti ini mungkin lebih berfaedah. Dan itu bisa melatih kemandirian anak dan tidak minta uang jajan ke orangtuanya. Setiap hasil yang mereka buat akan saya kasih uang jajan untuk mereka. Untuk awal-awal jadi dua sampai tiga mereka sudah capek, tapi yang sudah mahir bisa sepuluh hingga 15 bolit,” ujarnya.

Harganya sendiri cukup terjangkau mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 200 ribu tergantung bentuk dan ukuranya. Sementara jika untuk souvenir ia mematok harga yang berbeda karena biasanya ukuranya lebih kecil dan pesannya lebih banyak. (san/lid/adv)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru

/