alexametrics
27.1 C
Kudus
Tuesday, September 27, 2022

Dinas Kesehatan Kudus Bentuk Poshanzip Bantu Menurunkan Stunting

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, getol menurunkan angka stunting. Upaya yang dilakukan saat ini dengan pembagian tugas dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Bahwa, stunting tidak serta merta bisa diselesaikan oleh DKK saja.

Hal ini disampaikan Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) DKK Nuryanto, mengatakan, melalui Posyandu dan pelatihan kader diharapkan ada progres menurunkan angka stunting. Puskesmas juga sudah membuat program khusus mengatasi stunting, seperti di Puskesmas Ngembal Kulon, yakni Pos Ketahanan Gizi Balita (Poshanzip).

”Kami juga sudah membentuk tim percepatan penurunan stunting. Action dilakukan mulai dari sekarang, untuk mengejar target 14 persen stunting tahun 2024, sesuai ketetapan nasional. Karena posisi saat ini masih jauh dari yang ditargetkan,” ungkapnya.


Berdasarkan data dari surve gizi nasional yang dilaksanakan di tahun 2021 sebesar 17,6 persen atau sebanyak 3.000 kasus stunting. Sedangkang, data dari sistem laporan secara elektronik tiap satu bulan sekali di Posyandu dengan penimbangan harian. Kasus stunting kisaran 4,2 persen atau 2.400 kasus stunting untuk bulan Juni 2022.

”Ada progres penurunan dari April semula 4,5 persen, Mei 4,4 persen. Kalau dibandingkan dengan surve nasional memang berbeda, karena mengambil sampelnya dari 300 sample secara acak. Kalau laporan bulanan dari Posyandu, diambil dari populasi balita dan bayi di Kudus sebanyak 60 ribu balita,” jelasnya.

Baca Juga :  Miniatur Joglo Pencu, Rumah Adat Kudus yang Perlu Dilestarikan

Ia mengatakan, data tersebut di laporkan tiap bulannya ke Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Kesehatan. Target nasional 2024 kasus stunting hanya 14 persen. Jadi, mulai dari sekarang digenjot untuk penurunan angka kasus stunting.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngembal Kulon Kamal Agus Efendi, mengatakan adanya program Poshanzip, salah satunya memberikan edukasi masyarakat ada banyak hal yang menyebabkan stunting.

”Sasaran kami justru remaja. Usia produktif dan pra nikah, membangun mental dan persiapan fisik ketika nantinya sudah menikah dan hamil harus memahami tubuhnya, sehingga kondisi janin sehat. Kami berikan edukasi tentang pemenuhan gizi mulai sejak dini, selagi masih muda pola makan harus dijaga juga, agar nantinya saat mengandung kondisi janin tidak kekurangan gizi,” jelasnya.

Selain itu, untuk memantau ibu hamil juga upaya Puskesmas. Kamal mengatakan, terjadinya stunting bukan dari faktor ekonomi yang membuat kekurangan gizi, tapi pola asuh juga penting. Dan, masih dalam kandungan juga butuh nutrisi dan perhatian khusus, sehingga masa kehamilan janin berkembangn dengan sehat. (san)






Reporter: Indah Susanti

KUDUS – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus, getol menurunkan angka stunting. Upaya yang dilakukan saat ini dengan pembagian tugas dengan organisasi perangkat daerah (OPD) lainnya. Bahwa, stunting tidak serta merta bisa diselesaikan oleh DKK saja.

Hal ini disampaikan Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) DKK Nuryanto, mengatakan, melalui Posyandu dan pelatihan kader diharapkan ada progres menurunkan angka stunting. Puskesmas juga sudah membuat program khusus mengatasi stunting, seperti di Puskesmas Ngembal Kulon, yakni Pos Ketahanan Gizi Balita (Poshanzip).

”Kami juga sudah membentuk tim percepatan penurunan stunting. Action dilakukan mulai dari sekarang, untuk mengejar target 14 persen stunting tahun 2024, sesuai ketetapan nasional. Karena posisi saat ini masih jauh dari yang ditargetkan,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari surve gizi nasional yang dilaksanakan di tahun 2021 sebesar 17,6 persen atau sebanyak 3.000 kasus stunting. Sedangkang, data dari sistem laporan secara elektronik tiap satu bulan sekali di Posyandu dengan penimbangan harian. Kasus stunting kisaran 4,2 persen atau 2.400 kasus stunting untuk bulan Juni 2022.

”Ada progres penurunan dari April semula 4,5 persen, Mei 4,4 persen. Kalau dibandingkan dengan surve nasional memang berbeda, karena mengambil sampelnya dari 300 sample secara acak. Kalau laporan bulanan dari Posyandu, diambil dari populasi balita dan bayi di Kudus sebanyak 60 ribu balita,” jelasnya.

Baca Juga :  Longsor, Jalan Kudus-Pati Tertutup Tiga Jam

Ia mengatakan, data tersebut di laporkan tiap bulannya ke Provinsi Jawa Tengah dan Kementerian Kesehatan. Target nasional 2024 kasus stunting hanya 14 persen. Jadi, mulai dari sekarang digenjot untuk penurunan angka kasus stunting.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Ngembal Kulon Kamal Agus Efendi, mengatakan adanya program Poshanzip, salah satunya memberikan edukasi masyarakat ada banyak hal yang menyebabkan stunting.

”Sasaran kami justru remaja. Usia produktif dan pra nikah, membangun mental dan persiapan fisik ketika nantinya sudah menikah dan hamil harus memahami tubuhnya, sehingga kondisi janin sehat. Kami berikan edukasi tentang pemenuhan gizi mulai sejak dini, selagi masih muda pola makan harus dijaga juga, agar nantinya saat mengandung kondisi janin tidak kekurangan gizi,” jelasnya.

Selain itu, untuk memantau ibu hamil juga upaya Puskesmas. Kamal mengatakan, terjadinya stunting bukan dari faktor ekonomi yang membuat kekurangan gizi, tapi pola asuh juga penting. Dan, masih dalam kandungan juga butuh nutrisi dan perhatian khusus, sehingga masa kehamilan janin berkembangn dengan sehat. (san)






Reporter: Indah Susanti

Most Read

Artikel Terbaru