alexametrics
24.5 C
Kudus
Saturday, July 23, 2022

Kejari Kudus Usut Kasus Penggelapan Dana Rp 400 Juta

KUDUS – Kejaksaan Negeri Kudus merampungkan kasus penggelapan dana secara singkat. Kasus tersebut melibatkan tersangka atas nama Tituk Mawantusih dan beberapa rekannya. Diduga tersangka menggelapkan dana milik Taufik Diantaka Putra senilai Rp 400 juta.

Semula kasus tersebut bergulir di Polsek Kota sejak 2020 lalu. Dalam perkara itu, Hasmi Hartono yang mengaku sebagai Direktur Lembaga Kajian Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Oublik (LKP2KP) meminta bantuan modal kepada korban.

Hasmi menjanjikan memberikan keuntungan 400 persen dari modal yang dikeluarkan korban. Atas iming-iming itu, korban kemudian memberikan bantuan modal. Senilai Rp 400 juta untuk digunakan dalam pelelangan tanah. Sayang, seiring berjalannya waktu tak ada tanah yang terjual, sehingga korban merasa ditipu dan melapor ke pihak yang berwajib.


Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kudus M. Baharuddin menyebut pihaknya menerima pelimpahan kasus itu dari Polsek Kota sejak 25 November 2021. Kemudian dilangsungkan mediasi pada 6 Desember 2021.

“Dalam mediasi akhirnya tersangka mau mengembalikan uang. Yang dikembalikan sebesar Rp 200 juta. Bukan Rp 400 juta. Ini sesuai bukti transfer. Sementara Rp 200 juta sisanya tak bisa dibuktikan. Karena menurutnya diberikan secara tunai. Sementara saksi utama, Hasmi telah almarhum,” terangnya.

Baca Juga :  Tantang Sang Pelapor Jika Memang Terbukti, Gibran: Nek Aku Salah, Cekelen!

Berhubung Hasmi meninggal, kemudian dakwaan mengarah ke Bendahara Hasmi yakni Tituk Mawantusih. Sampai akhirnya yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka.

“Dalam mediasi dan sebelum kami limpahkan ke pengadilan negeri Kudus, kami berhasil mendamaikan kedua pihak dengan bukti penandatangan berita acara damai. Dan kemudian jaksa penuntut umum kasus ini melimpahkan ke Pengadilan Negeri Kudus dengan persidangan acara pemeriksaan singkat,” terangnya.

Berbeda dengan sidang biasanya yang memerlukan waktu berkali-kali, persidangan acara pemeriksaan singkat hanya satu kali sidang dan langsung diputus hakim. Menurutnya langkah ini ditempuh karena ada perdamaian di kedua belah pihak dengan adanya kesepakatan penggantian.

“Terlebih terdakwa sudah berusia lanjut yaitu 61 tahun, sehingga tergerak hati kami agar menyidangkan dengan acara singkat,” jelasnya.

Sementara dalam penuntutannya, tersangka hanya dituntut dua bulan penjara. Sementara putusan hakim menetapkan tersangka diputus dengan dua bulan penjara. Dengan masa percobaan 6 bulan.

“Sehingga tidak perlu menjalani hukuman. Jadi hanya masa percoban. Yang bersangkutan tidak boleh melakukan tindak pidana. Dan ada wajib lapor. Berapa kali dalam seminggu untuk lapor diri ke kami,” katanya. (tos/mal)






Reporter: Eko Santoso

KUDUS – Kejaksaan Negeri Kudus merampungkan kasus penggelapan dana secara singkat. Kasus tersebut melibatkan tersangka atas nama Tituk Mawantusih dan beberapa rekannya. Diduga tersangka menggelapkan dana milik Taufik Diantaka Putra senilai Rp 400 juta.

Semula kasus tersebut bergulir di Polsek Kota sejak 2020 lalu. Dalam perkara itu, Hasmi Hartono yang mengaku sebagai Direktur Lembaga Kajian Pengawasan Pelaksanaan Kebijakan Oublik (LKP2KP) meminta bantuan modal kepada korban.

Hasmi menjanjikan memberikan keuntungan 400 persen dari modal yang dikeluarkan korban. Atas iming-iming itu, korban kemudian memberikan bantuan modal. Senilai Rp 400 juta untuk digunakan dalam pelelangan tanah. Sayang, seiring berjalannya waktu tak ada tanah yang terjual, sehingga korban merasa ditipu dan melapor ke pihak yang berwajib.

Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Kudus M. Baharuddin menyebut pihaknya menerima pelimpahan kasus itu dari Polsek Kota sejak 25 November 2021. Kemudian dilangsungkan mediasi pada 6 Desember 2021.

“Dalam mediasi akhirnya tersangka mau mengembalikan uang. Yang dikembalikan sebesar Rp 200 juta. Bukan Rp 400 juta. Ini sesuai bukti transfer. Sementara Rp 200 juta sisanya tak bisa dibuktikan. Karena menurutnya diberikan secara tunai. Sementara saksi utama, Hasmi telah almarhum,” terangnya.

Baca Juga :  Lantik 46 Pejabat, Bupati Kudus: Jangan Ambil TPP Kerja Riil

Berhubung Hasmi meninggal, kemudian dakwaan mengarah ke Bendahara Hasmi yakni Tituk Mawantusih. Sampai akhirnya yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka.

“Dalam mediasi dan sebelum kami limpahkan ke pengadilan negeri Kudus, kami berhasil mendamaikan kedua pihak dengan bukti penandatangan berita acara damai. Dan kemudian jaksa penuntut umum kasus ini melimpahkan ke Pengadilan Negeri Kudus dengan persidangan acara pemeriksaan singkat,” terangnya.

Berbeda dengan sidang biasanya yang memerlukan waktu berkali-kali, persidangan acara pemeriksaan singkat hanya satu kali sidang dan langsung diputus hakim. Menurutnya langkah ini ditempuh karena ada perdamaian di kedua belah pihak dengan adanya kesepakatan penggantian.

“Terlebih terdakwa sudah berusia lanjut yaitu 61 tahun, sehingga tergerak hati kami agar menyidangkan dengan acara singkat,” jelasnya.

Sementara dalam penuntutannya, tersangka hanya dituntut dua bulan penjara. Sementara putusan hakim menetapkan tersangka diputus dengan dua bulan penjara. Dengan masa percobaan 6 bulan.

“Sehingga tidak perlu menjalani hukuman. Jadi hanya masa percoban. Yang bersangkutan tidak boleh melakukan tindak pidana. Dan ada wajib lapor. Berapa kali dalam seminggu untuk lapor diri ke kami,” katanya. (tos/mal)






Reporter: Eko Santoso

Most Read

Artikel Terbaru

/